Warning Jenderal Iran Jika AS Luncurkan Invasi Darat: Kami Akan Lumpuhkan Tentara Mereka!
Komandan Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Ali Jahanshahi, mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) jika nekat meluncurkan invasi darat. Dia menyatakan bahwa setiap invasi darat oleh asing akan dihadapi dengan tindakan cepat dan tegas.
Menanggapi potensi intrusi, Jahanshahi menyatakan, "Jika ada personel militer AS yang menginjakkan kaki di Iran, kami akan melumpuhkan mereka."
Baca Juga: Kapal Induk Abraham Lincoln 'Kelelahan' 259 Hari di Laut: Ribuan Tentara AS Rentan Jadi Target Empuk Iran
Menurut laporan media pemerintah Iran, sang komandan menyoroti kesiapan Teheran dalam menghadapi ancaman, seraya menegaskan, "Kami akan merespons setiap tindakan musuh dengan respons yang tegas dan memberikan efek jera."
Merinci postur operasional di sepanjang perbatasan nasional, Jahanshahi menekankan: "Pasukan Angkatan Darat Iran tetap dalam kesiapan tempur penuh, terus memantau pergerakan dan ancaman sembari menjaga perbatasan negara dengan teguh."Bersamaan dengan peringatan militer dari komandan Angkatan Darat tersebut, saluran diplomatik antara Teheran dan Washington tetap bersifat tidak langsung."Saat ini kami tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat; pertukaran pesan dilakukan melalui perantara," ujar Menteri Luar Negeri Iran Seyyed Abbas Araghchi pada hari Minggu, sebagaimana dikutip dari media pemerintah, Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), Senin (10/8/2026).
Menjelaskan lebih lanjut mengenai cakupan kontak tidak langsung tersebut, Araghchi mencatat bahwa meskipun beberapa negara berupaya menciptakan kondisi untuk dialog kembali, Teheran tidak akan kembali ke perundingan langsung sampai Washington mengatasi pelanggaran masa lalunya terhadap perjanjian bilateral mereka.
"Beberapa negara perantara masih berupaya membangun kembali landasan bagi negosiasi. Menurut pandangan kami, tidak ada kemungkinan untuk melanjutkan negosiasi sampai pelanggaran AS terhadap Nota Kesepahaman Islamabad berakhir dan AS memulihkan keadaan akibat pelanggaran yang telah dilakukannya," imbuh Araghchi.
Dipaksa Akui Israel untuk Kesepakatan Nuklir, Akankah Saudi Merapat ke China dan Pakistan?
Araghchi juga mengatakan bahwa negosiasi dengan Oman mengenai mekanisme hukum dan revisi rute lalu lintas melalui Selat Hormuz hampir rampung, meskipun pembukaan kembali jalur air strategis tersebut masih bergantung pada kompensasi dari AS.
"Negosiasi dengan Oman mengenai mekanisme hukum dan pengelolaan Selat Hormuz—terkait penentuan rute lalu lintas melaluinya—sedang berlangsung, dan kami sangat dekat dengan kesepakatan; namun pembukaan Selat Hormuz bergantung pada kondisi lain, termasuk kompensasi atas pelanggaran Nota Kesepahaman Islamabad oleh Amerika Serikat," kata Araghchi. Menguraikan lebih lanjut aspek teknis protokol maritim tersebut, Araghchi menambahkan bahwa skema pemisahan lalu lintas (TSS) yang sebelumnya digunakan di selat itu tidak lagi dapat diterima oleh Teheran, sehingga perlu ditetapkan rute baru yang melibatkan kompleksitas teknis dan hukum yang cukup besar.
Sikap tegas Teheran ini muncul seiring dengan penilaian serupa dari pihak Washington. Pada hari Jumat, seorang pejabat AS yang berbicara kepada Reuters dengan syarat anonimitas menyatakan bahwa telah ada kemajuan dalam pembicaraan antara Iran dan Oman; hal ini berpotensi membuka kembali Selat Hormuz yang strategis serta memulihkan ekspor minyak yang sempat terganggu akibat konflik yang telah berlangsung selama lima bulan tersebut.
"Ada kemajuan dalam pembicaraan antara Oman dan Iran terkait selat tersebut, dan kami memperkirakan kesepakatan akan segera tercapai. Begitu kesepakatan untuk memulihkan pelayaran komersial tanpa hambatan diumumkan, Amerika Serikat akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran," ujar pejabat tersebut.







