Trump Geram Perusahaan-perusahaan Minyak Untung Besar saat Perang Iran
Saat perusahaan-perusahaan minyak raksasa meraup keuntungan fantastis hingga miliaran dolar, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bereaksi dengan geram di Gedung Putih.Perusahaan-perusahaan minyak raksasa yang dikenal sebagai Big Oil tetap menjadi salah satu kekuatan lobi paling berpengaruh di Washington.
Di Amerika Serikat, mereka telah lama mempertahankan operasi berskala besar dan jaringan politik yang luas.
Menurut Trump, perusahaan-perusahaan seperti ExxonMobil dan Chevron "meraup keuntungan berlebihan akibat adanya kelangkaan pasokan."
"Saya tegaskan dengan lantang dan jelas: saya tidak senang dengan hal ini," ujarnya kepada para wartawan.
"Chevron, untungnya terlalu besar. ExxonMobil, untungnya terlalu besar," kata Trump. "Mereka harus mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada masyarakat, dan mereka sebaiknya menurunkan harga eceran—harga bagi konsumen.""Jika melihat ada perusahaan yang mencetak laba 12 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, mereka seharusnya mengembalikan sebagian keuntungan itu kepada masyarakat, dan mereka sebaiknya menurunkan harga eceran—harga bagi konsumen," tegas Trump.
Menurut data terbaru, perusahaan-perusahaan minyak dunia itu mencatat laba yang sangat fantastis.
ExxonMobil: Perusahaan minyak terbesar di Amerika Serikat ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD14,5 miliar (dengan laba yang disesuaikan sebesar USD14,7 miliar), yang menandai rekor laba kuartalan tertinggi dalam empat tahun terakhir.
Hasil ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan margin penyulingan yang lebih kuat di tengah perang Iran, meskipun angka laba tersebut sebenarnya berada di bawah ekspektasi Wall Street akibat gangguan produksi di Qatar.
Chevron: Perusahaan terbesar kedua di AS ini melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD12 miliar—laba kuartalan tertinggi dalam enam tahun—yang melampaui perkiraan para analis.Reuters melaporkan kenaikan harga minyak global mendongkrak kinerja operasi hulu maupun hilir; laba sektor hulu melonjak 200 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi USD8,2 miliar, sementara laba sektor hilir mencapai USD4,9 miliar—kinerja terkuat Chevron sejak awal tahun 2010-an.
Shell: Grup perusahaan Inggris-Belanda yang merupakan perusahaan minyak terbesar di Eropa ini mencatatkan kenaikan laba kuartal kedua hingga lebih dari dua kali lipat, dengan melaporkan laba hampir USD10 miliar yang melampaui ekspektasi analis.
Pencapaian ini didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas serta ketangguhan operasi gas alam cair (LNG) di tengah gangguan pada sejumlah produksi di Timur Tengah.
TotalEnergies: Laba raksasa minyak asal Prancis ini melonjak 67 persen pada kuartal kedua—kinerja kuartalan terbaiknya dalam hampir tiga tahun—yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan margin keuntungan yang kuat dari sektor pengilangan bahan kimia, sehingga mampu mengimbangi penurunan pendapatan dari LNG.
BP: Perusahaan minyak besar lainnya asal Inggris melaporkan laba kuartal kedua sebesar USD5,73 miliar; angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan perolehan USD2,35 miliar pada tahun sebelumnya dan melampaui perkiraan para analis.Saudi Aramco: Lonjakan keuntungan ini tidak hanya dinikmati oleh perusahaan minyak besar Barat. Saudi Aramco, produsen minyak milik negara terbesar di dunia, juga melaporkan kenaikan laba kuartalan yang tajam—naik 44 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi USD32,69 miliar.
Jaringan Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) milik Arab Saudi telah membantu mengurangi ketergantungan kerajaan tersebut pada Selat Hormuz untuk kegiatan ekspor.
Baca juga: Iran Ungkap Tanda-tanda Positif dalam Pembicaraan dengan Oman terkait Selat Hormuz









