Pasukan Elite AS Siapkan Skenario Caplok Uranium Iran, tapi Kenapa Tidak Dilaksanakan?
Di tengah diplomasi yang bergejolak dan serangan balasan antara Amerika Serikat danIran, para perencana militer Amerika telah membahas kemungkinan yang akan melibatkan pasukan khusus AS untuk membantu merebut material nuklir Iran.
Diskusi tersebut, yang masih bersifat pendahuluan dan bergantung pada berbagai perkembangan di medan perang dan politik, berpusat pada bagaimana Pentagon dapat mendukung Departemen Energi dalam merebut uranium yang sangat diperkaya milik Teheran, kata para pejabat kepada CBS News, yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas masalah keamanan nasional.
Dalam satu skenario yang ditinjau oleh para pejabat pertahanan, pasukan AS akan dikerahkan ke beberapa negara di Timur Tengah untuk mendukung operasi respons cepat. Tim khusus dari Departemen Energi, yang bekerja sama dengan personel militer Amerika dan badan-badan pemerintah AS lainnya, kemudian dapat memasuki Iran untuk menemukan, mengamankan, dan memindahkan persediaan uranium yang diperkaya, kata para pejabat tersebut.
Rusia: AS-Israel Serang Iran untuk Cegah Normalisasi Hubungan Teheran dengan Negara-negara Arab
Sebelum pesawat tempur F-15E Strike Eagle Amerika ditembak jatuh pada bulan April lalu, yang memicu upaya pencarian dan penyelamatan tempur besar-besaran, para pejabat Pentagon telah meneliti konsep serupa yang melibatkan Tim Pendukung Darurat Nuklir Departemen Energi, yang dikenal sebagai NEST, menurut para pejabat tersebut.
Proposal tersebut juga membayangkan partisipasi dari pasukan Operasi Khusus AS dan Komando Kimia, Biologi, Radiologi, Nuklir, dan Bahan Peledak ke-20 Angkatan Darat, yang mengkhususkan diri dalam menanggulangi senjata pemusnah massal dan bahan berbahaya.Para pejabat tersebut mengatakan kepada CBS News bahwa diskusi tersebut bukan merupakan keputusan untuk melakukan operasi. Sebaliknya, itu adalah bagian dari perencanaan kontingensi militer rutin.
Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan kepada wartawan dalam sebuah panggilan telepon pada hari Jumat bahwa berdasarkan ketentuan kesepakatan, yang dapat ditandatangani dalam beberapa hari mendatang, uranium yang diperkaya Iran akan "dihancurkan di tempat dan kemudian dibawa keluar dari negara itu."
Akan ada "proses teknis untuk menentukan hal itu," kata pejabat tersebut, yang berbicara dengan syarat anonim. Negosiasi teknis dijadwalkan berlangsung selama 60 hari, setelah nota kesepahaman ditandatangani, kata pejabat itu.
Namun demikian, Presiden AS Donald Trump telah menunda rencana militer untuk merebut uranium yang diperkaya Iran secara paksa. Itu dilapor CNN pada hari Jumat, mengutip sumber.Perwira tinggi militer AS melakukan perjalanan rahasia dan tergesa-gesa ke markas Komando Pusat AS di Florida akhir bulan lalu untuk menerima pengarahan langsung tentang rencana operasi darat potensial di Iran yang bertujuan untuk merebut persediaan uranium yang diperkaya tinggi negara itu, menurut laporan tersebut.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa pengarahan tersebut dianggap sangat mendesak dan sensitif sehingga Jenderal Dan Caine, ketua Kepala Staf Gabungan, mempersingkat pertemuan para pejabat senior NATO di Brussels dan terbang kembali ke Tampa pada 19 Mei.
Diskusi tingkat tinggi tersebut menyoroti betapa dekatnya pemerintahan Trump untuk menyetujui operasi berisiko tersebut. Caine kemudian mempresentasikan opsi militer kepada Trump, menurut laporan tersebut.
Trump akhirnya menunda rencana tersebut setelah diperingatkan bahwa hal itu dapat memicu pembalasan Iran yang parah, memperpanjang konflik, dan semakin menggoyahkan ekonomi global. Ia juga khawatir tentang kemungkinan korban jiwa yang signifikan di pihak AS, menurut laporan tersebut.
Perencanaan operasi tersebut terjadi bahkan ketika Trump berulang kali mengatakan bahwa AS dan Iran hampir mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyelesaikan negosiasi mengenai program nuklir Iran, menurut laporan tersebut.










