AS Minta Dipasok 10.000 Rudal karena Stok Terkuras oleh Perang Iran
Departemen Perang Amerika Serikat (AS) atau Pentagon mengumumkan bahwa mereka telah menandatangani perjanjian dengan beberapa perusahaan senjata untuk memperoleh 10.000 rudal kontainer berbiaya rendah. Amerika membutuhkan misil sebanyak itu karena stoknya telah terkuras dalam perang melawan Iran.
Perjanjian dengan Anduril, CoAspire, Leidos, dan Zone 5 meluncurkan apa yang disebut Pentagon sebagai program "the Low‑Cost Containerized Missles (LCCM)" atau "Rudal Kontainer Berbiaya Rendah".
Baca Juga: Iran Ambil Rudal Tomahawk AS yang Gagal Meledak untuk Direplikasi Teknologinya
Perjanjian paralel terpisah dengan Castelion akan memungkinkan Pentagon untuk mengakuisisi setidaknya 500 rudal hipersonik Blackbeard berbiaya rendah per tahun.
Kesepakatan Castelion selama dua tahun mencakup opsi perpanjangan kontrak hingga lima tahun, dan Pentagon mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka secara aktif mencari wewenang dan pendanaan untuk membeli ribuan rudal hipersonik lagi dari perusahaan tersebut untuk lebih mendorong perluasan fasilitas Castelion yang didanai sendiri.
Untuk membantu memulai program ini, Departemen Perang mengatakan akan membeli rudal uji coba dari Anduril, CoAspire, Leidos, dan Zone 5 mulai Juni untuk meletakkan "dasar bagi fase penilaian program".“Kami akan menyediakan pasokan massal yang terjangkau untuk para prajurit kami dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Wakil Menteri Perang untuk Penelitian dan Rekayasa, Emil Michael, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis (14/5/2026).
“Sejalan dengan penetapan sinyal permintaan yang jelas, Perjanjian Kerangka Kerja ini mengikat industri Amerika untuk pengiriman tepat waktu dan sesuai biaya serta investasi dalam R&D dan fasilitas. Gaya kemitraan komersial ini sepenuhnya selaras dengan Strategi Transformasi Akuisisi Menteri [Perang Pete] Hegseth,” imbuh dia.
Pengumuman ini muncul ketika pemerintahan Presiden Donald Trump berupaya mengisi kembali amunisi penting yang telah banyak digunakan selama perang AS-Israel melawan Iran, yang telah terhenti dalam gencatan senjata di tengah negosiasi yang buntu.
Lembaga think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS) merilis sebuah laporan bulan lalu yang memperkirakan bahwa akan membutuhkan waktu hingga empat tahun untuk mengisi kembali stok rudal ke tingkat pra-perang karena waktu produksi yang lama dan persaingan dari negara lain.
Data itu di atas fakta bahwa persediaan rudal AS sebelum perang sudah rendah ketika perang Iran dimulai.










