Iran Bisa Buka Selat Hormuz pada Hari Kamis atau Jumat Jelang Negosiasi di Pakistan
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Teheran dapat membuka Selat Hormuz pada hari Kamis atau Jumat menjelang pertemuan negara itu dengan Amerika Serikat (AS) di Pakistan, jika kerangka gencatan senjata tercapai. Penutupan Selat Hormuz oleh Iran selama perang telah mengacaukan pasar minyak dan gas global.
Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Amerika Serikat, Teheran telah setuju mengizinkan transit kapal yang aman melalui Selat Hormuz.
Pejabat tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa pembukaan kembali Selat akan dilakukan dalam koordinasi dengan militer Iran.
Sementara itu, Perusahaan Pengolahan dan Distribusi Minyak Nasional Iran mengatakan satu kilang minyak yang terletak di Pulau Lavan Iran terkena serangan pagi ini pukul 06:30 GMT.
“Tim keamanan dan pemadam kebakaran sedang mengendalikan dan memadamkan api serta mengamankan fasilitas,” kata pernyataan perusahaan yang dimuat kantor berita Mehr.“Untungnya, sejauh ini belum ada laporan korban jiwa berkat evakuasi karyawan yang tepat waktu.”
Adapun Kremlin menyambut baik gencatan senjata antara AS dan Iran. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov mengatakan Rusia menginginkan perdamaian terwujud di Timur Tengah berdasarkan keseimbangan kepentingan semua negara di kawasan tersebut.
Namun, ada juga suara-suara lain yang terdengar di Rusia yang mengatakan krisis ini tidak pernah memiliki solusi militer.
Operasi militer terhadap Iran akan tercatat dalam sejarah AS sebagai kegagalan daripada kemenangan. Tak hanya itu, krisis Iran telah mengungkapkan kelemahan besar NATO, Uni Eropa, dan Inggris, bahwa masih terlalu dini untuk membicarakan prospek pembicaraan AS-Iran di Pakistan, dan perang belum berakhir di kawasan tersebut.
Namun pada saat yang sama, topik paling populer yang telah dibahas akhir-akhir ini, terutama di luar negeri, adalah bagaimana Rusia telah memperoleh keuntungan ekonomi dari perang AS-Israel melawan Iran dan gangguan navigasi di Selat Hormuz karena Rusia terus menjadi salah satu pengekspor minyak dan pupuk utama dunia.
Namun, kita tahu bahwa serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia terus berlanjut. Jadi sangat sulit untuk mengatakan apakah Rusia diuntungkan dari krisis ini atau tidak.
Baca juga: Dunia Sambut Gencatan Senjata AS-Iran, Dorong Perdamaian Abadi Timur Tengah





