Inilah Aktivis Australia yang Mengalami Pelecehan Seks oleh Pasukan Israel saat Misi GSF
Juliet Lamont nama aktivis perempuan asal Australia ini. Dia adalah salah satu aktivis yang mengalami pelecehan seksual oleh pasukan Israel ketika diculik dari kapalnya yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla (GSF).
Lamont, yang juga dikenal sebagai pembuat film, mengatakan bahwa dia dipukuli dan dilecehkan secara seksual oleh lima pria saat ditahan di atas kapal Israel yang dia gambarkan sebagai "kapal penjara".
Baca Juga: Prancis Larang Masuk Menteri Israel Ben-Gvir, Imbas Video Penyiksaan Aktivis Global Sumud Flotilla
Lamont menyampaikan pernyataan tersebut saat tiba di Bandara Istanbul pekan lalu, masih mengenakan pakaian olahraga abu-abu yang dikeluarkan oleh Dinas Penjara Israel.
Lamont termasuk di antara sekitar 428 aktivis dari lebih dari 40 negara yang berpartisipasi dalam GSF, sebuah misi kemanusiaan yang bertujuan untuk menantang blokade Angkatan Laut Israel terhadap Gaza dan memberikan bantuan.Iran Tolak Perundingan Langsung dengan AS di Islamabad, Tegaskan Blokade AS Harus Diakhiri
Pasukan Israel mencegat armada tersebut di perairan internasional sekitar tanggal 18 Mei, menahan para peserta sebelum kemudian dideportasi.Berbicara kepada para jurnalis, Lamont mengatakan bahwa sekitar 180 tahanan di satu kapal mengalami kekerasan sistematis.
Dia melaporkan bahwa puluhan orang mengalami patah tulang, sementara yang lain dikenai sengatan listrik, dibius dengan zat yang tidak diketahui, dan mengalami pelecehan seksual.
Dia menggambarkan perlakuan tersebut sebagai "kampanye kekerasan yang tanpa henti" dan "terencana" yang bertujuan untuk mencegah aktivisme di masa depan.
"Secara pribadi, saya dilecehkan secara seksual ketika kami dicegat dan dibawa ke kapal penjara. Saya diikat dengan kabel dengan tangan di belakang punggung dan diborgol di pergelangan kaki," kata Lamont.
"Saya dilempar ke dek kapal penjara tempat saya kemudian diinjak, saya dipukul dengan pistol di belakang kepala saya," ujarnya.“Saya takut nyawa saya terancam, tetapi kenyataannya...saya dilecehkan secara seksual, saya dilempar ke dalam kontainer pengiriman yang gelap,” paparnya, seperti dikutip dari CNN, Senin (25/5/2026). “Lima pria memukuli dan melecehkan saya secara seksual di dalam kapal kontainer itu.”
“Anda tahu mereka telah mematahkan tulang kami, tetapi mereka belum menghancurkan jiwa kami,” kata Lamont, menekankan ketahanan para aktivis meskipun mengalami pelecehan.
Dia mencatat bahwa insiden ini merupakan peningkatan dibandingkan dengan partisipasi GSF sebelumnya pada Oktober 2025, di mana dia juga melaporkan mengalami pelecehan seksual.
Gemma O'Toole, aktivis GSF lainnya yang juga berasal dari Australia, mengaku mengalami kekerasan fisik oleh pasukan Israel. Mahasiswi 23 tahun ini menceritakan apa yang dia alami setelah tiba di bandara Melbourne pada Minggu malam.
"Saya lega bisa pulang, tetapi saya sangat sedih dan trauma," katanya kepada ABC. "Butuh waktu bagi saya untuk menerima apa yang telah terjadi dan semua yang telah saya lihat."Menurut O'Toole, pasukan Israel melakukan kekerasan fisik dan seksual terhadap para aktivis selama penahanan mereka.
Namun, militer Zionis Israel atau IDF, tetap menyangkal melakukan kekerasan fisik dan seksual terhadap para aktivis GSF.
"Perintah IDF mengharuskan perlakuan yang hormat dan pantas terhadap peserta flotilla di kapal yang dicegat, dan ada prosedur yang jelas dan telah ditetapkan dalam hal ini," bunyi pernyataan IDF.
"Tidak ada insiden spesifik penyimpangan dari prosedur yang mengikat ini yang diketahui di dalam IDF. Setiap pengaduan konkret yang diajukan kepada IDF mengenai masalah ini akan diperiksa secara menyeluruh," imbuh pernyataan tersebut.
O'Toole mengatakan fokus pada perlakuan terhadap para aktivis seharusnya tidak mengalihkan perhatian dari penderitaan warga Palestina di Gaza.
"Saya kira ada banyak perhatian yang diberikan pada video Ben-Gvir, yang menurut saya sangat gila," katanya, merujuk pada video yang diunggah oleh Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir, yang menunjukkan para aktivis yang ditahan dengan tangan terikat di belakang punggung dan dipaksa bersujud hingga dahi menyentuh lantai.






