Netanyahu: Kesepakatan Akhir AS-Iran Harus Melenyapkan Bahaya Nuklir Teheran
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dia dan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah sepakat bahwa setiap kesepakatan akhir dengan Iran harus sepenuhnya melenyapkan bahaya nuklir republik Islam tersebut.
Pernyataan Netanyahu itu merujuk pada percakapan telepon dengan Trump pada Sabtu malam, yang disebut Trump "berjalan sangat baik".
Baca Juga: Trump Berubah Lagi, Perintahkan Negosiator AS Jangan Terburu-buru Deal dengan Iran
"Presiden Trump dan saya sepakat bahwa setiap perjanjian akhir dengan Iran harus sepenuhnya melenyapkan ancaman nuklir. Ini berarti membongkar fasilitas pengayaan uranium Iran dan memindahkan material nuklir yang diperkaya dari wilayahnya," kata Netanyahu dalam sebuah pernyataan.
"Kebijakan saya, seperti halnya Presiden Trump, tetap tidak berubah: Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir," imbuh dia, seperti dikutip AFP, Senin (25/5/2026).Netanyahu mengatakan bahwa dia dan Trump juga membahas nota kesepahaman tentang pembukaan kembali Selat Hormuz."Kemitraan antara kedua negara kita telah terbukti di medan perang, dan tidak pernah sekuat ini," kata pemimpin Zionis Israel itu, menambahkan bahwa Trump telah menegaskan kembali dukungannya terhadap hak Israel untuk membela diri terhadap ancaman di semua lini, termasuk di Lebanon.
Pada hari Minggu, Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan dua orang, termasuk seorang paramedis dari Komite Kesehatan Islam yang berafiliasi dengan Hizbullah, tewas dalam serangan Israel di selatan yang juga melukai enam petugas penyelamat lainnya.
"Serangan Israel berturut-turut di kota Arab Salim di distrik Nabatieh menewaskan dua orang, termasuk seorang paramedis dari Komite Kesehatan dan melukai 10 orang, termasuk dua paramedis Komite dan empat lainnya dari asosiasi Risala," kata kementerian tersebut, sembari mengutuk serangkaian serangan yang sedang berlangsung terhadap sektor kesehatan dan darurat di Lebanon selatan.
Para petugas penyelamat dari asosiasi Risala berafiliasi dengan gerakan Amal yang bersekutu dengan Hizbullah.
Politisi Israel terkemuka Benny Gantz mengatakan itu akan menjadi kesalahan strategis bagi Israel untuk menerima gencatan senjata di Lebanon—yang telah dimasuki pasukan Zionis untuk memerangi milisi Hizbullah yang didukung Iran—sebagai bagian dari kesepakatan dengan Iran.









