Trump Ultimatum Iran: Buat Kesepakatan dalam 10 Hari atau AS Ambil Tindakan Militer!
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengultimatum Iran untuk membuat kesepakatan tentang program nuklir Teheran dalam 10 hari. Jika tidak, Amerika akan mengambil tindakan militer.
Ultimatum ini disampaikan Trump dalam pertemuan perdana Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian di Washington DC pada hari Kamis, sebagaimana dikutip dari BBC, Jumat (20/2/2026).
Baca Juga: 7 Hal yang Akan Terjadi Jika Iran Tenggelamkan Kapal Induk AS
Trump mengatakan negosiasi dengan Teheran baik, tetapi secara historis sulit. "Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir," tegas Trump.
"Kita harus membuat kesepakatan yang berarti. Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi," katanya. "Mungkin kita akan membuat kesepakatan. Anda akan mengetahuinya dalam sepuluh hari ke depan," imbuh Trump.
Dalam beberapa hari terakhir, AS telah meningkatkan pasukan militer ke Timur Tengah. Itu termasuk kelompok serang kapal induk USS Abraham Lincoln dan kelompok serang kapal induk USS Gerald R. Ford—yang sedang dalam perjalanan ke Timur Tengah.Dalam pidatonya, Trump mencatat bahwa Utusan Khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner—yang juga menantu Trump—telah mengadakan beberapa pertemuan yang sangat baik dengan Iran."Terbukti, selama bertahun-tahun, tidak mudah untuk membuat kesepakatan yang berarti dengan Iran," katanya. "Jika tidak, hal-hal buruk akan terjadi."
Sehari sebelumnya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt memperingatkan bahwa Iran akan sangat bijaksana untuk membuat kesepakatan dengan AS, menambahkan bahwa Trump masih berharap untuk solusi diplomatik atas program nuklir Teheran.
Rudal dan pesawat AS menyerang tiga fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu, dan Gedung Putih dilaporkan sedang membahas opsi serangan baru minggu ini.
Sementara itu, citra satelit juga menunjukkan bahwa Iran telah memperkuat fasilitas militernya. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga telah mengunggah pesan di media sosial yang berisi ancaman terhadap pasukan AS."Presiden AS terus-menerus mengatakan bahwa AS telah mengirim kapal perang ke arah Iran. Tentu saja, kapal perang adalah peralatan militer yang berbahaya," bunyi salah satu unggahan Khamenei.
"Namun, yang lebih berbahaya daripada kapal perang itu adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang itu ke dasar laut," lanjut dia.
Beberapa anggota Kongres AS telah menyatakan penentangan terhadap tindakan militer apa pun terhadap Iran.
Anggota Kongres dari Partai Demokrat; Ro Khanna, dan dari Partai Republik; Thomas Massie, mengatakan mereka akan mencoba memaksa pemungutan suara mengenai masalah ini minggu depan, dengan mengutip Undang-Undang Kekuatan Perang tahun 1973.
Undang-undang tersebut memberi Kongres kemampuan untuk mengendalikan kekuasaan presiden yang melibatkan AS dalam konflik bersenjata."Perang dengan Iran akan menjadi malapetaka," tulis Khanna di media sosial. "Iran adalah masyarakat kompleks dengan 90 juta penduduk dengan pertahanan udara dan kemampuan militer yang signifikan," lanjut dia.
Dia juga mengatakan ribuan pasukan AS di wilayah tersebut dapat berisiko terkena pembalasan.
Peluang pengesahan di kedua kamar Kongres tidak kuat.
Pada bulan Januari, Partai Republik di Senat memblokir resolusi kekuatan perang serupa yang akan mengharuskan pemerintahan Trump untuk mendapatkan persetujuan Kongres sebelum meluncurkan operasi militer lebih lanjut di Venezuela setelah penangkapan Nicolas Maduro.










