Waspada! Tubuh Makin Bungkuk dan Pendek Bisa Jadi Tanda Osteoporosis

Waspada! Tubuh Makin Bungkuk dan Pendek Bisa Jadi Tanda Osteoporosis

Gaya Hidup | inews | Jum'at, 30 Oktober 2026 - 17:21
share

JAKARTA, iNews.id - Tubuh yang semakin pendek dan membungkuk seiring bertambahnya usia kerap dianggap sebagai bagian normal dari proses penuaan. Padahal, perubahan postur yang terjadi secara signifikan, terlebih jika disertai pegal berkepanjangan, bisa menjadi tanda osteoporosis atau pengeroposan tulang.

Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi, Subspesialis Orthopaedi Tulang Belakang Konsultan Siloam Hospitals Mampang, dr Dohar AL Tobing, Sp.OT, Subsp.OTB(K) menjelaskan, penurunan tinggi badan bisa terjadi secara alami akibat bantalan antar-ruas tulang belakang yang semakin menipis.

“Dalam pengertian bahwa orang kalau makin tua lebih pendek, iya. Oleh karena kalau kita ingat ruas tulang belakang itu kan ada tulang dan antara ruas tulang ada bantalan. Nah secara natural bantalan itu makin tipis, sehingga secara natural orang kalau udah lanjut usia tentu akan makin pendek tinggi badannya,” ujarnya saat diwawancarai dalam agenda Timeless Music, Timeless Movement di Fountain Atrium Grand Indonesia, Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Namun, masyarakat perlu mewaspadai jika penurunan tinggi badan terus berlangsung dan diikuti postur tubuh yang semakin membungkuk. Kondisi tersebut bisa mengindikasikan adanya osteoporosis, terutama pada kelompok lanjut usia.

“Cuma kalau misalnya itu disertai dengan makin pendek terus makin bungkuk, tentu perlu diperiksa ‘ada apa nih kok makin bungkuk?’ atau misalnya makin pendek makin pendek terus ngeluh pegal terus. Nah kalau pada lansia seringkali itu ternyata ada osteoporosis,” katanya.

dr Dohar menjelaskan osteoporosis merupakan kondisi berkurangnya kepadatan massa tulang sehingga struktur tulang menjadi rapuh dan berpori. Untuk menggambarkan kondisi tersebut, dia mengibaratkan tulang yang sehat seperti tulang sapi yang keras, sedangkan tulang yang mengalami pengeroposan memiliki banyak rongga.

“Osteoporosis adalah apa, kepadatan tulang yang berkurang. Jadi tulang yang begitu padat, pernah makan sup buntut kan? Nah tulang itu ya keras kayak gitu, tulang kita tuh sama kayak tulang sapi, keras banget. Tapi pada orang yang udah tua itu jadi kayak sarang tawon bolong-bolong tulangnya,” kata dr Dohar.

Tulang yang semakin rapuh kehilangan sebagian kekuatannya untuk menopang tubuh. Dampaknya, risiko patah tulang meningkat dan kemampuan bergerak bisa terganggu.

Kondisi ini juga perlu mendapat perhatian keluarga. Lansia yang mengalami gangguan tulang tidak seharusnya langsung dibatasi seluruh aktivitas fisiknya. Sebab, kurang bergerak dapat memicu penurunan massa otot dan mengurangi kemampuan tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sementara itu, Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi dan Traumatologi Subspesialis Cedera Olahraga Siloam Hospitals Mampang, dr Henry Suhendra, Sp.OT, Subsp.CO(K) menjelaskan osteoporosis primer secara umum terbagi menjadi dua jenis, yakni osteoporosis pascamenopause dan osteoporosis senilis.

“Dikatakan osteoporosis itu kan terjadi biasanya ada dua tipe. Ini kita bicara osteoporosis primer, yang bukan karena penyakit. Itu yang karena penyakit sekunder namanya. Kalau yang primer itu rata-rata dibagi dua, yaitu yang satu osteoporosis post-menopause, itu pada wanita,” ujarnya.

Menurut Henry, osteoporosis pascamenopause lebih berisiko dialami perempuan karena perubahan hormon setelah memasuki masa menopause. Sementara osteoporosis senilis berkaitan dengan pertambahan usia dan dapat dialami laki-laki maupun perempuan.

“Jadi dekat-dekat menopause sudah mulai itu dong, osteoporosis. Kalau yang kedua tuh senilis, senilis tuh untuk orang tua. Nah, itu lebih tua 60-70. Nah, itu sama, laki-laki perempuan sama. Tapi kalau yang postmenopause, perempuan. Perempuan duluan kena karena menopause, kalau laki-laki kan nggak ada, ya andropause beda dah,” katanya.

Untuk mengurangi risiko pengeroposan tulang, Henry menyarankan masyarakat membangun kepadatan tulang sejak usia muda melalui aktivitas fisik dan olahraga secara rutin. Sebab, massa tulang akan mencapai puncaknya pada usia sekitar 30-an sebelum perlahan mengalami penurunan.

“Jadi makin tebal, makin tebal, terus mencapai puncak 30-an, habis itu turun semua. Jadi kalau misalnya puncakmu, puncaknya tinggi, nanti turunnya sampai umur 50-60 masih bagus,” ujarnya.

Risiko osteoporosis juga menjadi perhatian dunia. Data International Osteoporosis Foundation (IOF) mencatat satu dari tiga perempuan dan satu dari lima laki-laki berusia 50 tahun ke atas diperkirakan mengalami patah tulang akibat osteoporosis sepanjang hidup mereka.

Patah tulang akibat osteoporosis tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengganggu mobilitas, kemandirian, dan kualitas hidup lansia.

Untuk memperkuat penanganan osteoporosis, Siloam Hospitals Mampang mengembangkan Fracture Liaison Service (FLS), yakni layanan terkoordinasi untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, serta mengarahkan penanganan lanjutan bagi pasien yang mengalami patah tulang akibat kerapuhan tulang.

Siloam Hospitals Mampang juga tercatat dalam Map of Best Practice Capture the Fracture yang dikelola IOF dengan status New FLS (Blue Star).

Selain itu, rumah sakit tersebut menyediakan tujuh program skrining, meliputi osteoporosis, osteoartritis lutut, nyeri punggung bawah, nyeri bahu, kaki dan pergelangan kaki, active life medical check-up (MCU), serta skrining berbasis komunitas.

Melalui deteksi dini dan penanganan yang terkoordinasi, upaya menjaga kesehatan tulang diharapkan tidak hanya berfokus pada pengobatan setelah terjadi patah tulang, tetapi juga mencegah risiko pengeroposan sejak dini.

Topik Menarik