4 Film Indonesia Tayang di Busan International Film Festival 2026, Nomor 3 Jadi Sorotan!

4 Film Indonesia Tayang di Busan International Film Festival 2026, Nomor 3 Jadi Sorotan!

Gaya Hidup | inews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 11:42
share

JAKARTA, iNews.id - Busan International Film Festival atau BIFF 2026 tengah berlangsung di Busan, Korea Selatan. Festival film bergengsi Asia tersebut menjadi panggung bagi sejumlah sineas dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pada gelaran ke-31 ini, sejumlah karya sineas Tanah Air mendapat tempat dalam program resmi BIFF 2026. Empat di antaranya yakni The Sea Speaks His Name atau Laut Bercerita, IBUKU, Empat Musim Pertiwi, dan αLPα.

Kehadiran film-film tersebut memperlihatkan semakin luasnya ruang bagi sineas Indonesia untuk memperkenalkan cerita dan perspektif lokal kepada penonton internasional.

Berikut empat film Indonesia yang hadir di Busan International Film Festival 2026. Simak daftarnya hanya di artikel ini. 

4 Film Indonesia Tayang di BIFF 2026

1. The Sea Speaks His Name (Laut Bercerita)

The Sea Speaks His Name atau Laut Bercerita menjadi salah satu film Indonesia yang mendapat tempat di kompetisi utama BIFF 2026.

Film garapan Yosep Anggi Noen tersebut tercatat sebagai salah satu dari 14 film yang masuk program Competition. Film ini juga menjalani world premiere di BIFF 2026. 

The Sea Speaks His Name merupakan adaptasi dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori. Film ini dibintangi Reza Rahadian sebagai Laut dan Dian Sastrowardoyo sebagai Kinan.

Kisahnya mengambil latar Indonesia pada 1991, ketika pemerintahan diktator masih berkuasa. Laut merupakan mahasiswa yang mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa setelah mengenal berbagai persoalan ketidakadilan dan kekerasan negara.

Perjuangan Laut kemudian membawanya ke situasi berbahaya. Ketika pengawasan terhadap kelompoknya semakin ketat, sejumlah rekannya ditangkap. Laut yang bersembunyi akhirnya ditangkap aparat berpakaian sipil dan menghilang.

Film tersebut mengangkat tragedi penghilangan paksa pada era 1990-an sekaligus trauma yang ditinggalkan bagi keluarga korban.

The Sea Speaks His Name dijadwalkan diputar beberapa kali di BIFF, termasuk pada 11, 12, 13, dan 14 Oktober 2026. 

2. IBUKU

Film Indonesia berikutnya yang masuk kompetisi utama BIFF 2026 adalah IBUKU karya sutradara Eddie Cahyono.

IBUKU juga berstatus world premiere dan masuk dalam Competition bersama The Sea Speaks His Name. Film tersebut merupakan produksi Indonesia dan Jepang dengan durasi 96 menit. 

Film ini dibintangi Christine Hakim, Ayushita, Landung Simatupang, Tika Bravani, Naomi Srikandi, dan Rendra Bagus.

Christine Hakim memerankan Sumiati, seorang ibu yang berusaha menyelamatkan putrinya, Sri, yang bekerja sebagai pekerja migran di Arab Saudi dan terancam hukuman mati.

Sumiati berpacu dengan waktu untuk menemui putrinya dan mengupayakan pengampunan. Perjalanan tersebut membawanya menghadapi berbagai rintangan, termasuk persoalan birokrasi dan jarak.

Menariknya, perjalanan IBUKU menuju BIFF bukan sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba. Film tersebut sebelumnya pernah memperoleh pendanaan melalui Asian Project Market di Busan pada 2015.

3. Empat Musim Pertiwi

Empat Musim Pertiwi menjadi salah satu film Indonesia yang paling mendapat perhatian dalam gelaran BIFF 2026.

Film garapan Kamila Andini tersebut masuk program A Window on Asian Cinema. BIFF mencatat film ini sebagai produksi Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Arab Saudi, dan Polandia dengan durasi 137 menit.

Film ini dibintangi Putri Marino, Arya Saloka, Christine Hakim, dan Hana Malasan.

Putri Marino berperan sebagai Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun. Namun, kepulangannya justru disambut penolakan karena masa lalu yang membuatnya pernah menjalani hukuman penjara.

Pertiwi kemudian harus menghadapi kembali masa lalu yang selama ini berusaha ditinggalkannya. Di tengah penolakan keluarga dan masyarakat, dia berusaha menemukan jalan untuk berdamai dengan pengalaman traumatis sekaligus memahami kembali arti rumah dan tempat untuk pulang.

BIFF menggambarkan film tersebut sebagai kisah tentang seorang perempuan yang kembali setelah 20 tahun, tetapi justru menghadapi ketakutan dan penolakan dari masyarakat maupun keluarganya sendiri.

Yang membuat Empat Musim Pertiwi semakin menjadi sorotan, film ini bukan hanya berkiprah di festival internasional.

Empat Musim Pertiwi telah ditetapkan Komite Seleksi Oscar Indonesia sebagai wakil resmi Indonesia untuk kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027. Keputusan tersebut ditetapkan setelah proses seleksi yang dilakukan Komite Seleksi Oscar Indonesia.

Sebelum hadir di Busan, film karya Kamila Andini ini juga telah menjalani world premiere di Toronto International Film Festival (TIFF) 2026 melalui program Centrepiece.

Produser Ifa Isfansyah mengatakan tim film tersebut juga telah menyiapkan strategi kampanye internasional untuk perjalanan menuju Oscar. Mereka menggandeng perusahaan sales agent asal Prancis, Goodfellas, untuk memperluas jaringan promosi film tersebut di pasar internasional.

Di BIFF 2026, Empat Musim Pertiwi dijadwalkan diputar pada 7, 8, 9, dan 12 Oktober. Pemutaran pertama berlangsung pada 7 Oktober di KOFIC Theater.

Dengan demikian, Busan menjadi salah satu pemberhentian penting dalam perjalanan internasional Empat Musim Pertiwi sebelum film tersebut melanjutkan kampanyenya menuju Oscar 2027.

4. αLPα

Film Indonesia lainnya yang hadir di BIFF 2026 adalah film pendek αLPα karya Dhiwangkara Seta.

Berbeda dengan tiga film sebelumnya, αLPα masuk program Wide Angle dan berkompetisi dalam Asian Short Film Competition.

Film berdurasi 16 menit tersebut mengisahkan Banyu, vokalis punk berusia 17 tahun yang dikirim ke fasilitas pembinaan setelah tampil dalam pertunjukan underground yang dilarang.

Di tengah lingkungan yang represif dan tidak manusiawi, Banyu tetap mempertahankan sikap pemberontaknya. Namun, keberaniannya justru menarik perhatian pejabat tertinggi di fasilitas tersebut hingga membuatnya harus berhadapan dengan kebenaran yang selama ini paling ingin dia hindari. 

Dhiwangkara Seta sebelumnya terlibat sebagai asisten sutradara dalam sejumlah film Mouly Surya. Film pendek debutnya, Samu the Terrible and His Sin, meraih penghargaan Best National Short Film di Minikino Film Week dan pernah diputar di Busan International Short Film Festival.

αLPα dijadwalkan diputar di BIFF pada 7, 10, dan 12 Oktober 2026. 

Keempat film tersebut menunjukkan keberagaman sinema Indonesia di Busan International Film Festival 2026. Ada film panjang yang berkompetisi di program utama, film yang membawa isu perempuan dan trauma ke panggung internasional, hingga film pendek yang mengangkat persoalan politik dan kebebasan.

Khusus Empat Musim Pertiwi, perjalanan di Busan menjadi semakin menarik karena film tersebut tengah membawa misi yang lebih besar sebagai wakil Indonesia menuju Oscar 2027.

Topik Menarik