7 Ciri Pemimpin Zalim, Terlena Kekuasaan hingga Mengkhianati Janji

7 Ciri Pemimpin Zalim, Terlena Kekuasaan hingga Mengkhianati Janji

Gaya Hidup | sindonews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:25
share

Ada 7 ciri pemimpin zalimdalam Islam penting diketahui, terutama karena kekuasaan merupakan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Menjadi pemimpin bukan perkara mudah. Di balik jabatan dan kewenangan yang dimiliki, terdapat tanggung jawab besar terhadap masyarakat yang dipimpinnya. Karena itu, Islam mengajarkan agar seorang pemimpin meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.

Dikutip dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), terdapat empat karakter utama yang semestinya dimiliki seorang pemimpin, yakni shiddiq (jujur), tabligh (menyampaikan), amanah (dapat dipercaya), dan fathanah (cerdas). Keempat sifat tersebut menjadi modal penting agar kekuasaan tidak berubah menjadi sarana untuk menindas atau mengambil keuntungan bagi diri sendiri dan kelompok.

Namun, realitas menunjukkan masih ada pemimpin yang menyalahgunakan kewenangan. Kekuasaan digunakan untuk kepentingan pribadi, membungkam kritik, mengingkari janji hingga merugikan masyarakat.

Baca juga:Ketika Kekuasaan Zalim, Al-Qur'an Tegaskan Ancaman Azab yang Pedih

Al-Qur'an memberikan peringatan keras terhadap perilaku zalim. Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Innamas-sabîlu 'alalladzîna yadhlimûnan-nâsa wa yabghûna fil-ardli bighairil-haqq, ulâ'ika lahum 'adzâbun alîm.Artinya: "Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) itu hanya ada pada orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak (alasan yang benar). Mereka itu mendapat siksa yang sangat pedih."(QS Asy-Syura: 42)

Lantas, seperti apa ciri-ciri pemimpin yang zalim?

1. Terlena oleh Kekuasaan

Pemimpin yang terlena oleh kekuasaan cenderung merasa memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja. Kewenangan yang seharusnya digunakan untuk melayani masyarakat justru dapat berubah menjadi alat untuk menindas.

Dalam kondisi seperti ini, seseorang dapat melupakan bahwa kekuasaan manusia tetap berada di bawah kekuasaan Allah SWT.

Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam bersabda:

"Dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas menuju seekor kambing, kerusakan yang ditimbulkan terhadap kambing itu tidak lebih besar dibandingkan kerusakan pada agama seseorang yang ditimbulkan oleh ambisi terhadap harta dan kemuliaan."(HR Tirmidzi No. 2376; Ahmad No. 25:82)

Hadis tersebut menjadi peringatan tentang bahayanya ambisi berlebihan terhadap harta dan kedudukan.

2. Menyesatkan Orang yang Dipimpinnya

Pemimpin juga dapat menjadi zalim ketika menggunakan kewenangannya untuk membawa orang-orang yang dipimpinnya kepada kesesatan atau memerintahkan tindakan yang bertentangan dengan nilai agama dan moral.

Rasulullah SAW memberikan peringatan:

"Aku tidak takut (ujian yang akan menimpa) umatku, kecuali (ujian) para pemimpin yang menyesatkan."(HR Ibnu Hibban)

Seorang pemimpin semestinya memberikan arah yang benar dan menjaga kepentingan masyarakat, bukan memanfaatkan kekuasaan untuk menyeret mereka ke dalam keburukan.

3. Jahil dalam Agama

Jahil berarti tidak mengetahui atau tidak memiliki pengetahuan yang memadai. Dalam konteks kepemimpinan, minimnya pemahaman agama dan moral dapat membuat seseorang mudah mengambil keputusan yang bertentangan dengan prinsip keadilan.Pemimpin bukan hanya membutuhkan kecerdasan dalam mengelola pemerintahan, tetapi juga harus memiliki integritas, pengetahuan dan kebijaksanaan agar kewenangannya tidak disalahgunakan.

4. Ingkar Janji

Janji merupakan amanah yang harus dipenuhi. Karena itu, pemimpin yang mudah mengumbar janji tetapi tidak memiliki komitmen untuk menepatinya perlu diwaspadai.

Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 91:

وَاَوْفُوْا بِعَهْدِ اللّٰهِ اِذَا عَاهَدْتُّمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْاَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيْدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللّٰهَ عَلَيْكُمْ كَفِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya: "Tepatilah janji dengan Allah apabila kamu berjanji. Janganlah kamu melanggar sumpah(-mu) setelah meneguhkannya, sedangkan kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan."

Rasulullah juga menyebut ingkar janji sebagai salah satu karakter kemunafikan:

"Jika ia berbicara maka ia berdusta, jika ia berjanji maka ia mengingkari, jika ia diberi amanah maka ia berkhianat, dan jika ia berdebat maka ia curang." (HR Bukhari dan Muslim)

5. Memerintah Secara Diktator

Sifat lain yang dapat mengarah pada kezaliman adalah memerintah secara diktator dan sewenang-wenang.

Pemimpin yang merasa tidak membutuhkan nasihat, menolak masukan dan menggunakan kekuasaan untuk membungkam pihak yang berbeda pendapat berisiko menjadikan jabatannya sebagai alat penindasan.

Rasulullah memberikan peringatan terhadap penguasa yang keras dan sewenang-wenang.

"Sesungguhnya seburuk-buruk para penguasa adalah penguasa al-huthamah (yang keras dan sewenang-wenang)." (HR Al-Bazzar)Kepemimpinan dalam Islam pada dasarnya mengandung tanggung jawab untuk menegakkan keadilan dan kemaslahatan, bukan sekadar mempertahankan kekuasaan.

6. Berpura-pura Beriman demi Kepentingan Kekuasaan

Kemunafikan juga menjadi salah satu perilaku yang sangat berbahaya ketika melekat pada pemegang kekuasaan.

Pemimpin yang menggunakan simbol agama untuk memperoleh dukungan, tetapi dalam praktiknya justru melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai agama, berpotensi menyesatkan masyarakat.

Karena itu, integritas menjadi bagian penting dalam kepemimpinan. Apa yang disampaikan kepada publik harus sejalan dengan tindakan yang dilakukan.

7. Menipu Rakyat

Menipu masyarakat, menyembunyikan kebenaran, memberikan janji palsu atau menggunakan informasi untuk kepentingan pribadi merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah kepemimpinan.

Rasulullah memberikan ancaman keras:

"Pemimpin mana saja yang dipercaya memimpin rakyat, lalu ia menipu mereka, maka ia akan masuk neraka." (HR Ahmad)

Hadis tersebut menunjukkan beratnya tanggung jawab seorang pemimpin. Kepercayaan masyarakat bukan sesuatu yang boleh dipermainkan.

Ancaman bagi Pemimpin Zalim dalam Islam

Kezaliman seorang pemimpin bukan hanya berdampak kepada dirinya sendiri. Ketika keputusan penguasa merugikan banyak orang, dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Islam memberikan sejumlah peringatan keras bagi pemimpin yang menyalahgunakan amanah.

1. Mendapat Azab yang Pedih

Allah SWT telah menegaskan:

اِنَّمَا السَّبِيْلُ عَلَى الَّذِيْنَ يَظْلِمُوْنَ النَّاسَ وَيَبْغُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ

Artinya: "Sesungguhnya alasan (untuk menyalahkan) itu hanya ada pada orang-orang yang menganiaya manusia dan melampaui batas di bumi tanpa hak (alasan yang benar). Mereka itu mendapat siksa yang sangat pedih."Ayat ini menjadi peringatan bahwa kezaliman terhadap manusia tidak akan luput dari perhitungan Allah SWT.

2. Terancam Diharamkan dari Surga

Rasulullah bersabda:

"Siapa saja yang telah Allah jadikan pemimpin, lalu dia mati dalam keadaan menipu rakyatnya, maka surga Allah haram atas dirinya." (HR Ahmad)

Hadis ini menunjukkan betapa berat dosa seorang pemimpin yang mengkhianati kepercayaan masyarakat hingga akhir hayatnya.

3. Mendapat Kesusahan

Pemimpin yang menyusahkan rakyat juga mendapatkan peringatan khusus dari Rasulullah.

"Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia." (HR Muslim)

Hadis tersebut mengajarkan bahwa pemimpin semestinya memberikan kemudahan dan kemaslahatan bagi masyarakat, bukan justru menambah kesulitan mereka.

4. Terancam Tidak Mendapat Syafaat

Dalam kitab Al-Kaba'ir, Imam Adz-Dzahabi menyebutkan hadis tentang dua golongan yang tidak mendapatkan syafaat Nabi, di antaranya penguasa yang zalim dan menipu rakyatnya.

Peringatan ini menunjukkan besarnya tanggung jawab pemimpin dalam Islam. Jabatan yang seharusnya menjadi sarana pelayanan dapat berubah menjadi sebab kebinasaan apabila digunakan untuk menipu dan menzalimi masyarakat.

5. Terancam Laknat karena Suap

Penyalahgunaan kekuasaan juga dapat berkaitan dengan praktik suap. Rasulullah bersabda:

"Allah melaknat orang yang memberi suap dan menerimanya dalam memutuskan suatu perkara." (HR Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Karena itu, pemimpin harus menjaga kekuasaannya dari praktik korupsi, suap dan berbagai bentuk penyalahgunaan kewenangan.

Baca juga:Kenapa Pemimpin Bisa Menjadi Zalim? Ini 8 Penyebabnya dalam Islam

Topik Menarik