Fisioterapi Tak Hanya Obati Cedera, Orang Sehat Juga Butuh Cek Kondisi Tubuh

Fisioterapi Tak Hanya Obati Cedera, Orang Sehat Juga Butuh Cek Kondisi Tubuh

Gaya Hidup | inews | Rabu, 7 Oktober 2026 - 10:24
share

JAKARTA, iNews.id - Fisioterapi selama ini identik dengan proses pemulihan setelah mengalami cedera. Banyak orang baru mendatangi fisioterapi ketika mengalami keseleo, saraf kejepit, cedera olahraga, atau menjalani pemulihan setelah operasi.

Padahal, fisioterapi tidak hanya berfungsi untuk rehabilitasi. Orang yang merasa sehat dan tidak sedang mengalami cedera juga dapat datang ke fisioterapis untuk memeriksa kondisi tubuh sekaligus mencegah munculnya masalah di kemudian hari.

Chief Physiotherapist Physiorehab Simon Tri Prasetyo mengatakan, masyarakat memang masih lebih banyak datang ke fisioterapis ketika sudah mengalami keluhan. Sementara fungsi fisioterapi untuk menjaga kondisi tubuh sebelum cedera atau sebagai upaya pencegahan masih belum banyak diketahui.

“Memang peran fisioterapi itu ada tiga kan. Ada promotif, preventif, dan rehabilitatif,” ujar Simon saat ditemui di Physiorehab Clinic Meruya, Selasa (6/10/2026).

Menurut dia, seseorang yang merasa sehat tetap dapat melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi postur, pola gerak, hingga kekuatan otot. Pemeriksaan tersebut dapat membantu menemukan ketidakseimbangan tubuh yang mungkin belum menimbulkan keluhan.

Misalnya, orang yang rutin berolahraga dapat datang bukan karena sedang mengalami cedera, tetapi ingin mengetahui apakah ada bagian tubuh yang bekerja secara tidak seimbang.

“Saya tuh sehat-sehat aja. Saya mau datang diperiksa dong postur, movement, dan kekuatan otot saya,” kata Simon.

Dia menjelaskan, pemeriksaan fisioterapi dapat melihat kondisi tubuh secara lebih detail. Salah satunya dengan mengukur kekuatan otot sekaligus membandingkan kemampuan antara sisi kanan dan kiri tubuh.

Bagi orang yang aktif berolahraga, pemeriksaan tersebut dapat menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi tubuh sebelum mengalami cedera. Dengan begitu, potensi masalah yang ditemukan dapat ditangani melalui latihan atau rekomendasi yang sesuai.

Simon mengatakan, sebagian pasien justru baru menyadari manfaat fisioterapi setelah sebelumnya datang karena mengalami cedera. Dia juga menekankan fisioterapi berbeda dengan layanan pijat atau sport massage.

“Kalau enggak perlu di-massage ya kita enggak perlu massage, karena kita bukan sport massage, kita bukan tempat pijat,” katanya.

Dalam penanganannya, fisioterapis dapat menggunakan berbagai metode sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien. Metode tersebut antara lain manual therapy, massage atau release jika memang diperlukan, elektroterapi, dry needling, hingga exercise therapy.

Menurut Simon, latihan fisik menjadi bagian penting dalam proses fisioterapi karena mengembalikan fungsi tubuh tidak cukup hanya dengan menghilangkan rasa sakit.

Sebagai contoh, seseorang yang mengalami keseleo pada kaki mungkin sudah tidak merasakan nyeri setelah menjalani penanganan tertentu. Namun, kekuatan kaki yang cedera belum tentu kembali sama dengan sisi lainnya.

Jika penanganan hanya berfokus pada mengurangi rasa sakit, masalah pada kekuatan otot dan fungsi tubuh belum tentu terselesaikan.

Sebab itu, fisioterapi juga dapat mencakup latihan untuk mengembalikan kekuatan, power, dan fungsi tubuh agar seseorang dapat kembali beraktivitas secara optimal.

Sementara bagi orang yang tidak sedang mengalami cedera, fisioterapi dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh. Hal ini terutama relevan bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi, rutin berolahraga, atau ingin mengetahui apakah terdapat ketidakseimbangan tertentu pada tubuh.

Pemeriksaan dapat dimulai dengan melihat postur, pola gerak, dan kekuatan otot. Berdasarkan hasil asesmen tersebut, fisioterapis kemudian dapat memberikan rekomendasi sesuai kebutuhan, termasuk latihan yang dapat dilakukan untuk menjaga fungsi tubuh.

Topik Menarik