Mengenal Sifat Murka Allah dalam Al-Quran dan Hadis, Ini Dalil-Dalilnya

Mengenal Sifat Murka Allah dalam Al-Quran dan Hadis, Ini Dalil-Dalilnya

Gaya Hidup | sindonews | Minggu, 6 September 2026 - 14:45
share

Dalam ajaran Islam, beriman kepada Allah SWT tidak hanya berarti meyakini keberadaan-Nya. Seorang Muslim juga meyakini sifat-sifat Allah SWTyang disebutkan dalam Al-Qur'an maupun hadis Rasulullah SAW, dengan tetap meyakini bahwa sifat Allah tidak sama dengan sifat makhluk.

Salah satu sifat Allah SWT yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis adalah ghadhab, yakni murka. Sejumlah dalil menunjukkan adanya sifat tersebut sekaligus memberikan gambaran tentang konsekuensi bagi manusia yang mendapatkan kemurkaan Allah SWT.

Ustaz Abu Isma'il Muslim al-Atsari menjelaskan bahwa termasuk bagian dari iman kepada Allah SWT adalah menetapkan sifat-sifat yang diberitakan Allah dalam kitab-Nya maupun yang disampaikan Rasulullah SAW.

Sifat-sifat tersebut diyakini sebagai sifat kesempurnaan bagi Allah SWT dan tidak boleh diserupakan dengan sifat yang dimiliki makhluk.

Dalil Al-Qur'an tentang Murka Allah

Salah satu ayat yang secara tegas menyebut kemurkaan Allah SWT terdapat dalam QS An-Nisa ayat 93.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِنًا مُتَعَمِّدًا فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِدًا فِيهَا وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَابًا عَظِيمًاArtinya: "Dan barangsiapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahanam, dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, mengutukinya, dan menyediakan azab yang besar baginya." (QS An-Nisa: 93).

Baca juga:4 Tanda Allah Murka kepada Seorang Hamba, Salah Satunya Nyaman Berbuat Maksiat

Ayat tersebut memberikan ancaman keras terhadap orang yang sengaja membunuh seorang Mukmin. Salah satu bentuk ancamannya adalah kemurkaan Allah SWT.

Ayat ini juga menjadi salah satu dalil yang menunjukkan sifat murka Allah SWT. Namun, murka Allah tidak dapat disamakan dengan kemarahan yang dimiliki manusia.

Dalil lainnya terdapat dalam QS Taha ayat 81-82 ketika Allah SWT mengingatkan Bani Israil.

Allah SWT berfirman:

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي ۖ وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَىٰ ﴿٨١﴾ وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰArtinya: "Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, dia binasa. Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap dalam petunjuk." (QS Taha: 81-82).

Menurut Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, larangan melampaui batas dalam ayat tersebut berkaitan dengan penggunaan rezeki Allah SWT untuk kemaksiatan dan menyombongkan nikmat yang diberikan.

Jika manusia menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kemaksiatan dan kesombongan, kemurkaan Allah dapat menimpanya.

Syaikh as-Sa'di juga menjelaskan bahwa orang yang ditimpa kemurkaan Allah berada dalam keadaan binasa, celaka dan merugi karena tidak mendapatkan keridaan-Nya.

Meski demikian, ayat tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pintu taubat tetap terbuka. Allah SWT menyatakan ampunan bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh dan tetap berada di jalan yang benar.

Hadis tentang Murka Allah

Selain Al-Qur'an, sifat murka Allah SWT juga disebutkan dalam sejumlah hadis Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الخَلْقَ، كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ: إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِيArtinya: "Sesungguhnya ketika Allah menetapkan penciptaan makhluk, Dia menulis di sisi-Nya di atas Arsy: Sesungguhnya rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku." (HR Al-Bukhari).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa rahmat Allah SWT memiliki kedudukan yang sangat luas. Di dalamnya juga terdapat penegasan mengenai sifat murka Allah SWT.

Dalam hadis lain yang sangat panjang mengenai syafaat pada hari kiamat, Rasulullah SAW menceritakan keadaan para nabi ketika manusia mencari pertolongan.

Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa AS masing-masing menyebutkan bahwa pada hari tersebut Allah SWT berada dalam kemurkaan yang sangat besar.

Dalam hadis itu disebutkan:

إِنَّ رَبِّي قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ

Artinya: "Sesungguhnya Rabbku benar-benar murka pada hari ini dengan kemurkaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak akan terjadi lagi seperti itu setelahnya." (HR Al-Bukhari dan Muslim).Hadis tersebut menggambarkan dahsyatnya keadaan pada hari kiamat sekaligus menjadi peringatan bagi manusia agar tidak meremehkan dosa dan kemaksiatan.

Murka Allah Tidak Boleh Disamakan dengan Murka Manusia

Dari berbagai dalil tersebut dapat dipahami bahwa sifat murka merupakan sifat yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadis.

Namun, dalam memahami sifat Allah SWT, seorang Muslim tetap harus meyakini bahwa sifat-Nya tidak sama dengan sifat makhluk.

Allah SWT memiliki kesempurnaan mutlak. Karena itu, murka Allah tidak boleh dibayangkan sebagaimana kemarahan manusia yang memiliki keterbatasan.

Dalil-dalil tentang murka Allah SWT semestinya menjadi pengingat agar manusia menjauhi perbuatan yang mendatangkan kemurkaan-Nya.

Pada saat yang sama, seorang Muslim tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah. QS Taha ayat 82 menegaskan bahwa Allah SWT tetap membuka pintu ampunan bagi orang yang bertaubat, beriman dan memperbaiki amalnya.

Dengan demikian, pembahasan mengenai murka Allah bukan semata-mata untuk menimbulkan ketakutan, tetapi juga menjadi dorongan agar manusia meninggalkan kemaksiatan, memperbanyak amal saleh dan senantiasa kembali kepada Allah SWT melalui taubat.

Baca juga:Gunung Meletus dalam Islam, Apakah Tanda Allah SWT Sedang Murka?

Topik Menarik