Mata Merah setelah Berenang? Ternyata Bisa karena Urin di Dalam Kolam
JAKARTA - Mata merah setelah berenang kerap dianggap sebagai hal biasa akibat tingginya kadar kaporit di dalam air kolam. Namun, persepsi tersebut rupanya tidak sepenuhnya tepat. Kondisi mata memerah dan perih ternyata timbul akibat reaksi kimia yang dipicu oleh kontaminasi air kencing atau urin di dalam kolam.
Praktisi Bisnis Lingkungan, Bang Sap dalam unggahan video di akun Instagramnya meluruskan pemahaman keliru masyarakat yang kerap menyalahkan kaporit secara langsung saat mengalami iritasi mata seusai berenang.
“Mata merah setelah berenang ternyata ada hubungannya loh dengan kencing di kolam renang. Kebanyakan tahu nggak? Pasti ini karena kebanyakan kaporit. Padahal ada senyawa yang terbentuk dari interaksi antara zat air kolam dan urin," kata Bang Sap, dikutip Sabtu (5/9/2026).
Senyawa dalam Urin dan Keringat Bereaksi dengan Klorin
Secara umum, klorin atau kaporit memang sengaja ditambahkan ke dalam air kolam untuk menjaga kebersihan dan membunuh mikroorganisme berbahaya. Kendati demikian, fungsi kaporit dapat berubah ketika bereaksi dengan zat buangan dari tubuh manusia.
"Klorin memang digunakan untuk membunuh mikroorganisme dan menjaga air kolam supaya tetap aman. Tapi, ketika klorin bertemu kontaminan dari tubuh manusia, ceritanya jadi beda," ucapnya.
Kontaminasi dari tubuh seperti urin, keringat, hingga daki akan bereaksi secara kimiawi dengan klorin. Reaksi ini kemudian menghasilkan senyawa turunan baru bernama kloramin, salah satunya trikloramin. Senyawa hasil sampingan inilah yang menjadi biang kerok utama munculnya iritasi pada mata hingga gangguan pada saluran pernapasan.
"Urin dan keringat mengandung senyawa yang bisa bereaksi dengan klorin. Reaksi ini dapat membentuk kloramin, termasuk trikloramin. Nah, senyawa inilah yang bisa mengiritasi mata hingga mengganggu saluran pernapasan," papar Bang Sap.
Banyak orang berasumsi bahwa bau kaporit yang tajam dan menyengat menandakan kondisi kolam renang yang sangat bersih dan steril. Padahal, aroma menyengat tersebut justru menandakan tingginya akumulasi kloramin hasil reaksi klorin dengan kotoran tubuh pendorongnya.
Profil dan Potret Cantik Baila No Na yang Keciduk Jalan Bareng Bintang Timnas Indonesia Ivar Jenner
“Makanya, bau kaporit yang menyengat di kolam itu bukan jadi penentu kalau kolamnya makin bersih. Bisa jadi justru ada banyak kloramin yang terbentuk," ungkapnya.
Fenomena ini juga didukung oleh data dari lembaga kesehatan internasional. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS serta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi mekanisme terbentuknya kloramin dari kontaminasi tubuh manusia.
"CDC dan WHO menjelaskan bahwa kloramin terbentuk ketika klorin bereaksi dengan urin, keringat, kotoran, dan kontaminan tubuh lainnya. Dan senyawa ini dapat menyebabkan iritasi mata serta saluran pernapasan," kata Bang Sap.
Waspada Aroma di Sekitar Kolam Renang
Semakin tinggi volume urin, keringat, dan daki yang masuk ke dalam air, makin besar pula jumlah kloramin yang terproduksi. Oleh karena itu, pengunjung diimbau untuk lebih waspada dan peka terhadap kondisi aroma di sekitar area kolam renang sebelum memutuskan untuk menceburkan diri.
"Makanya, semakin banyak urin, keringat, dan daki masuk ke kolam, semakin banyak pula bahan yang bisa bereaksi dengan klorin dan membentuk kloramin. Nah, kalau kamu mau berenang tapi kecium bau kaporit yang kuat, tahan dulu. Jangan-jangan banyak yang kencing di dalam renang," tuturnya.









