5 Fakta RI Tunda Ekspor Listrik ke Singapura hingga Alihkan Jalur Batu Bara
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan, Indonesia menunda ekspor listrik ke Singapura. Kebijakan penundaan ekspor listrik tersebut mempertimbangkan pemenuhan kebutuhan dalam negeri terlebih dahulu, sebelum menjual listrik ke negara-negara lain.
Selain menunda ekspor listrik, Pemerintah juga akan mengalihkan jalur ekspor komoditas sumber daya alam tidak lagi transit ke negara Singapura.
Berikut ini Okezone rangkum fakta-fakta Indonesia menunda ekspor listrik ke Singapura hingga mengalihkan jalur ekspor batu bara, Jakarta, Minggu (8/11/2026).
1. Indonesia Tunda Ekspor Listrik
Bahlil yang juga menjabat Menteri ESDM menegaskan, Indonesia menunda ekspor listrik Singapura. Kebutuhan dalam negeri menjadi prioritas sebelum melakukan ekspor listrik.
"Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia belum dalam waktu dekat belum bisa mengekspor listrik. Kita masih butuh listrik. Enggak ada," ujar Bahlil dalam acara Minerba Convex 2026, Senin (2/11/2026).
2. Bahlil Minta Danantara Jangan Mau Dilobi
Bahlil juga meminta Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk tidak menerima lobi-lobi atau tawaran tambahan dari Singapura, ketika mengajukan permintaan pengiriman listrik dari Indonesia.
"Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi. Enggak ada. Izin itu ada di (Kementerian) ESDM, bukan Danantara," tegasnya.
3. Tarik Ulur Ekspor Listrik
Sebelumnya, Bahlil sempat mengumumkan rencana Pemerintah untuk melakukan ekspor listrik ke Singapura. Namun hingga pertengahan tahun ini, rencana tersebut masih belum terealisasi. Salah satu kendalanya mengenai harga listrik yang ditawar oleh Singapura belum bisa diterima oleh Pemerintah.
Bahlil mengatakan penetapan harga listrik yang akan dijual ke Singapura harus memberikan keuntungan seimbang bagi Indonesia dan Singapura. Regulasi di Indonesia menempatkan kewenangan penetapan harga tersebut pada pemerintah.
"Nah, terkait dengan harga listrik ke Singapura, proses tahapannya berjalan, tetapi kita masih menegosiasikan harga. Regulasi kita memang menempatkan harga itu di pemerintah. Kita ingin ada win-win, saling menguntungkan. Kerja sama itu harus saling menguntungkan kedua pihak. Tinggal di titik itu saja dan saya pikir sebentar lagi akan ada titik temu," ujar Bahlil dalam keterangan resmi, Selasa (7/7/2026).
Sebagai informasi, Ekspor listrik merupakan salah satu dari 26 kesepakatan yang dijalin oleh Pemerintah Indonesia dengan Singapura, dalam kunjungan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka Jakarta, pada Senin (6/7) lalu.
Selain sektor energi, pertemuan Indonesia dan Singapura juga membahas berbagai agenda kerja sama bilateral, mulai dari perdagangan, investasi, konektivitas, ekonomi digital, keamanan siber, hingga pertahanan.
4. RI Alihkan Jalur Ekspor Batu Bara Tak Lewat Singapura
Sementara itu, Pemerintah akan mengalihkan jalur ekspor komoditas sumber daya alam tidak lagi transit ke negara Singapura yang selama ini menjadi hub perdagangan internasional. Ekspor komoditas dari Indonesia ditargetkan langsung menuju negara tujuan tanpa harus transit di negara tersebut.
Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno mengatakan, salah satu pengalihan rute pengiriman itu misalnya untuk komoditas batu bara. Selama ini, ada sekitar 50-60 juta ton batu bara yang di ekspor dari Indonesia transit ke Singapura terlebih dahulu.
"Yang lewat sana itu (Singapura), batu bara mungkin sekitar 50-60 juta ton. Kan tidak ada batu bara di sana (Singapura). Tidak mungkin juga kalau misalnya dari sana ke China atau ke mana gitu, pasti (batu bara) dari kita," kata Tri saat ditemui di Kementerian ESDM, Senin (2/11/2026).
5. Tugas DSI
Ditemui secara terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan perubahan jalur ekspor SDA akan didukung oleh kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI). Perusahaan besutan Danantara ini akan menjalankan tugas ekspor yang akan dikirim langsung ke negara tujuan tanpa melakukan transit.
"Kita dengan DSI koordinasi bagus, kita akan lewat satu pintu lewat DSI, dan tidak perlu lagi lewat transit-transit di mana, bisa langsung ke negara tujuan," kata Bahlil saat ditemui usai acara Minerba Convex 2026 di JIExpo Kemayoran.
Bahlil menjelaskan, pengiriman komoditas melalui negara perantara justru memberikan keuntungan ekonomi kepada negara lain, mulai dari penerimaan pajak hingga manfaat terhadap neraca perdagangan. Dia mencontohkan, apabila Indonesia ingin mengirimkan komoditas ke China, pengiriman harus dilakukan langsung dari Indonesia menuju China tanpa harus singgah terlebih dahulu di negara lain.
"Pak Dirjen, saya perintahkan lewat forum ini, jangan lagi ada pengiriman sumber daya alam kita, kalau kita ekspor, lewat transit negara tertentu. Saya enggak mau," kata Bahlil.
Sebelumnya perusahan dari dalam negeri kerap menjadikan Singapura sebagai hub perdagangan global karena pertimbangan regulasi pajak, kepastian hukum, hingga fasilitas perbankan global. Di satu sisi, Singapura juga punya pelabuhan raksasa dan jaringan pelayaran global yang memungkinkan pengalihan atau konsolidasi muatan sebelum dikirim ke negara pembeli akhir.









