Kekayaan Ribuan Triliun Dirampok Singapura, Bennix Ungkap Ironi Negeri Kaya Indonesia

Kekayaan Ribuan Triliun Dirampok Singapura, Bennix Ungkap Ironi Negeri Kaya Indonesia

Ekonomi | sindonews | Selasa, 3 November 2026 - 22:26
share

Kritik pedas dan blak-blakan kembali dilontarkan oleh Founder Bennix Investor Group, Benny Batara terkait hubungan ekonomi antara Indonesia dan Singapura. Dalam podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, Benny membeberkan mengenai arus modal dan pengelolaan kekayaan alam.

Ia menyoroti ironi besar di mana hasil bumi Indonesia, mulai dari kelapa sawit hingga batu bara dikeruk habis-habisan, namun pundi-pundi keuntungannya justru mengalir deras membangun kemakmuran negara tetangga. Dengan gaya bertutur yang lugas, Benny mempertanyakan mentalitas pengelolaan sumber daya alam nasional yang dinilai gagal mensejahterakan rakyat di negeri sendiri.

Baca Juga: Bennix Bongkar Drama Pertemuan 10 Taipan Sawit dan Singapura di Tengah Isu Karhutla

Benny menekankan, bagaimana aset dan keuntungan dari perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Indonesia kerap kali tidak kembali sepenuhnya untuk pembangunan domestik. Ia mencontohkan kasus di mana keuntungan triliunan rupiah dari hasil bumi Kalimantan justru dialokasikan untuk pembangunan fasilitas sosial di luar negeri alih-alih mendanai pendidikan di Indonesia.

"Sumber daya alamnya dirampok, sawitnya ditanam di sini, kita makan remeh-temehnya, duitnya yang nikmatin Singapura. Sepanjang sejarah republik ini berpuluh-puluh tahun berdiri begitu terus...lama-lama ya mereka sudah kebiasaan, seolah Indonesia bukan manusia, tapi bangsa budak," ungkap Benny dengan nada geram.

Ia juga mengkritisi narasi investasi asing yang kerap dibanggakan, padahal sebagian besar dana tersebut disinyalir bersumber dari akumulasi profit hasil pengerukan kekayaan alam Indonesia sendiri yang diparkir di luar negeri, lalu masuk kembali dengan label investasi asing.

Baca Juga: Bahlil Setop Listrik ke Singapura, Larang Danantara Terima Lobi

Dalam analisis ekonominya, menurut Benny bahwa sektor-sektor bisnis ekstraktif seperti perkebunan sawit dan pertambangan batu bara yang secara teknis tidak membutuhkan teknologi tingkat tinggi, namun mampu menghasilkan margin keuntungan raksasa.

Ia mempertanyakan, mengapa negara dengan kapasitas fiskal besar kerap kalah gesit dibanding para oligarki swasta dalam mengelola komoditas yang menyangkut hajat hidup orang banyak."Bisnis-bisnis yang bodoh yang enggak pakai otak-sorry nih, sawit itu bisnis enggak pakai otak, orang lulusan SD-SMP pun bisa jalanin kebun sawit doang. Batu bara modalnya apa sih? Cuma ekskavator. Kenapa bukan negara yang running itu?" sentilnya tajam.

Menurutnya, jika negara mengambil alih pengelolaan sektor fundamental secara langsung-sebagaimana keberhasilan Arab Saudi mengelola kekayaan minyaknya, maka pendapatan per kapita Indonesia seharusnya bisa melesat jauh sejajar dengan negara-negara maju di kawasan. Bukan malah alih-alih membiarkan rakyatnya hidup dalam keterbatasan di atas tanah yang kaya raya.

Kritik Benny Batara menjadi tamparan keras bagi para pemangku kebijakan agar lebih berdaulat dalam menentukan arah pengelolaan kekayaan alam nasional. Di tengah gempuran tekanan ekonomi global dan intrik geopolitik regional, penguasaan negara atas sektor strategis dinilai sebagai harga mati agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri.

"Bisa jadi karena enggak dikasih ikut main. Negara disetting untuk kalah sama oligarki. Bahkan negara jadi lumpuh," paparnya.

Topik Menarik