Qatar Peringatkan Efek Ngeri Perang Iran: Berapa Lama Lagi Ekonomi Dunia Sanggup Bertahan?
Qatar mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak kehancuran ekonomi duniaakibat perang yang melanda kawasan Teluk. Dalam pernyataan resminya, Qatar menegaskan bahwa beban krisis akibat konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini sudah berada pada tingkatan yang "tak tertahankan lagi" (unbearable) bagi perekonomian internasional.
Sebagai mediator utama antara Washington dan Teheran, Qatar mendesak kedua belah pihak untuk segera menyepakati gencatan senjata sebelum dunia terperosok ke dalam krisis multi-sektor yang lebih dalam jelang musim dingin.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Dr. Majed Al Ansari mempertanyakan, daya tahan perekonomian global yang kian tertekan oleh perang AS versus Iran yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu. "Berapa lama lagi ekonomi internasional mampu menahan dampak dari apa yang sedang terjadi di kawasan kami?" tegas Dr. Majed Al Ansari dalam konferensi pers di Doha.
Baca Juga: AS Sita Minyak Iran Senilai Rp10 Triliun, Hukum Kuno Rampasan Perang Disorot
Ia mengungkapkan, bahwa perundingan diplomasi terus berlangsung dalam beberapa hari terakhir, di mana Qatar aktif meneruskan pesan-pesan kunci antara Washington dan Teheran demi menjembatani perbedaan tajam kedua belah pihak.
Qatar menegaskan bahwa kehancuran lalu lintas kapal di Selat Hormuz tidak hanya memicu krisis energi minyak dan gas bumi, tetapi juga menghantam pasokan bahan baku krusial dunia. Terhentinya ekspor urea dan amonia dari Teluk mengancam hasil panen di negara-negara rentan.
Lalu pasokan helium (sangat vital bagi industri semikonduktor dan medis), petrokimia, hingga aluminium global ikut terputus. Selanjutnya beberapa negara terpaksa kembali meningkatkan pembakaran batu bara demi menutupi defisit energi, membalikkan upaya pengurangan emisi karbon.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Meroket Lagi usai Trump Tolak Mentah-mentah Proposal Damai Iran
Ancaman ini diprediksi akan makin memburuk seiring mendekatnya musim dingin di belahan bumi utara. Al Ansari juga menyuarakan kekecewaan negara-negara Teluk, Irak, dan Yordania yang menjadi korban serangan rudal Iran, padahal mereka memilih untuk tidak terlibat dalam perang antara AS-Israel dan Iran.
"Ini adalah sebuah agresi, agresi tanpa alasan terhadap negara-negara kami. Tehran harus memperjelas bahwa mereka tidak akan menyerang tetangga-tetangganya yang terjebak dalam perang yang tidak pernah mereka masuki," ujar Al Ansari.
Kendati wilayahnya ikut dihantam rudal Iran, Qatar memastikan tidak akan memutus komunikasi dengan Teheran dan terus mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh demi kebebasan navigasi dunia.










