Danantara Siapkan BUMN Tekstil, Buka Opsi Selamatkan Pabrik Eksisting
JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memastikan pembentukan BUMN di sektor tekstil menjadi salah satu target capaian strategis ke depan untuk membangkitkan kembali ekosistem manufaktur nasional.
Langkah ekspansi korporasi milik negara ini diposisikan sebagai instrumen kunci pemerintah dalam merespons kelesuan industri sandang sekaligus memperkuat penyerapan tenaga kerja secara berkelanjutan.
"Danantara serius akan masuk ke sektor ini, tentu dengan dukungan penuh pemerintah serta regulasi yang ada demi menciptakan ekosistem industri yang sehat," ujar Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria dikutip, Selasa (27/10/2026).
Upaya Danantara merambah industri tekstil berpijak pada instruksi langsung Presiden yang meminta prioritas investasi negara diarahkan ke sektor-sektor padat karya berdaya serap masif. Kebijakan ini dinilai mendesak mengingat lini manufaktur dasar terbukti memberikan dampak berganda atau multiplier effect yang nyata terhadap pembukaan lapangan kerja publik.
"Pak Presiden ingin industri ini memberikan serapan tenaga kerja yang besar, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, sepatu, dan elektronik yang terbukti berdampak signifikan pada pembukaan lapangan kerja," kata Dony.
Mengenai besaran permodalan yang disiapkan, Danantara menegaskan alokasi pembiayaan akan dihitung secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan restrukturisasi di lapangan. Penyaluran dana investasi tersebut nantinya disesuaikan dengan skala pembenahan fasilitas produksi serta peta jalan pemulihan industri yang sedang dirancang.
"Mengenai jumlah anggarannya berapa, tentu sangat tergantung dari kebutuhan riil nanti saat kita memulai langkah memperbaiki industri tekstil ini," tegasnya.
Untuk merealisasikan pembentukan unit bisnis BUMN tekstil tersebut, Danantara kini tengah mematangkan dua opsi teknis antara membangun fasilitas produksi baru dari awal atau mengeksekusi skema akuisisi. Opsi pengambilalihan aset diprioritaskan bagi pabrik-pabrik lokal yang terancam pailit demi mencegah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.
"Ada opsi mengambil alih entitas yang sudah ada demi menyelamatkan karyawan yang banyak lalu kita perbaiki model bisnisnya, atau membuka baru, dan semua opsi membangun dari nol maupun akuisisi ini sedang kita kaji secara matang," jelas Dony.








