Serangan Houthi ke Arab Saudi Tekan Harga Minyak Dunia, Brent Bertahan di USD109 per Barel
Harga minyak dunia ditutup bervariasi pada perdagangan Senin (19/10) di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah kelompok Houthi Yaman melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan melalui Selat Hormuz membayangi pasar, meskipun aksi ambil untung investor setelah reli pekan sebelumnya turut menekan harga minyak Brent.
"Serangan ke Saudi hingga pencabutan sanksi Rusia meningkatkan prospek ekspor bahan bakar tambahan, tetapi ketidakpastian atas implementasi dan durasinya membatasi kepercayaan pada peningkatan pasokan yang berkelanjutan," tulis perusahaan analisis energi Gelber and Associates dalam catatan pasar dikutip dari Reuters, Selasa (20/10/2026).
Baca Juga:Biaya Hidup Kian Mencekik, 5 Negara Eropa Ini Dilanda Gelombang Protes Antipemerintah
Prabowo Ingin Universitas Negeri Gratis, Kebutuhan Anggaran Diprediksi Rp1 Triliun per Kampus
Harga minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Desember 2026 turun 31 sen atau 0,3 menjadi USD109,55 per barel. Harga tersebut terkoreksi setelah sempat anjlok lebih dari USD3 per barel pada sesi perdagangan, menyusul aksi ambil untung investor setelah reli pekan lalu yang membawa harga ke level tertinggi dalam lima bulan.
Kelompok Houthi mengklaim menyerang sejumlah sasaran di Arab Saudi, termasuk fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, dan Bandara Abha. Namun, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim tersebut dan Reuters belum dapat memverifikasinya secara independen.
Risiko gangguan pasokan juga meningkat setelah sebuah kapal tanker minyak dilaporkan terbakar dan meledak akibat menabrak ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz pada Minggu (18/10), menurut Garda Revolusi Iran sebagaimana diberitakan media Iran. Perusahaan analisis Kpler mencatat aliran minyak mentah melalui jalur strategis tersebut turun menjadi rata-rata sekitar 8,5 juta barel per hari pada pekan lalu, dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.Kpler juga mencatat sedikitnya 10 insiden terkonfirmasi yang melibatkan kapal komersial selama pekan tersebut. Analis SEB Bjarne Schieldrop memperkirakan peningkatan ekspor minyak melalui Selat Hormuz berpotensi hanya berlangsung sementara apabila Iran meningkatkan serangan menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November.Ketegangan regional turut meningkat setelah serangan Houthi terhadap kamp pelatihan pasukan keamanan pemerintah Yaman di Provinsi Shabwa dilaporkan menewaskan 53 orang dan melukai 200 lainnya. Mesir menyatakan siap mendukung Arab Saudi dalam menghadapi Houthi, meskipun parlemen negara tersebut menunda hingga 26 Oktober pemungutan suara terkait izin bagi angkatan bersenjata untuk membantu kerajaan itu.
Baca Juga:Kim Jong-un Dilaporkan Meninggal Dunia, Korea Utara Bungkam
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pada Jumat (16/10) untuk mencabut sejumlah sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia guna menekan harga energi menjelang pemilihan November. Kepala Wawasan Pasar Phillip Nova Priyanka Sachdeva menilai kebijakan tersebut belum banyak membantu mengatasi gangguan pasokan fisik di Selat Hormuz. Sementara itu, produksi minyak Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) meningkat pada September, terutama didorong kenaikan produksi Arab Saudi dan Irak, menurut survei Reuters.









