Perkuat Keberlanjutan Ekosistem Kedelai lewat Kolaborasi

Perkuat Keberlanjutan Ekosistem Kedelai lewat Kolaborasi

Ekonomi | sindonews | Senin, 19 Oktober 2026 - 21:57
share

Keberlanjutan ekosistem kedelai membutuhkan keterhubungan yang kuat antara budidaya di tingkat petani, kepastian penyerapan hasil panen, dan ketersediaan bahan baku bagi perajin tahu dan tempe. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan menjadi salah satu kunci untuk mengembangkan potensi produksi kedelai lokal sekaligus mendukung keberlangsungan usaha dan penghidupan masyarakat.

Bagi Saifulloh, petani kedelai di Banyuwangi, bertani bukan sekadar menghasilkan panen, tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ia mengawali perjalanan dengan bekerja di lahan milik orang lain sebelum akhirnya menyewa lahan sendiri, meskipun pada awalnya hanya seluas seperempat hektare.

Dari hasil bertani kedelai, Saifulloh bisa membeli kambing untuk diternakkan, kemudian berkembang ke peternakan sapi. Penghasilan dari pertanian juga membantunya memenuhi kebutuhan keluarga dan mewujudkan keinginannya membangun rumah untuk anaknya.

Baca Juga: Tahu-Tempe dan Impor Kedelai yang Mematikan

“Dulu saya ikut bekerja di lahan orang. Setelah itu, saya mulai menyewa lahan sendiri, meskipun awalnya hanya seperempat hektare. Dari hasil bertani kedelai, saya bisa membeli kambing satu untuk diternakkan. Lama-lama, saya juga bisa membeli sapi,” cerita Saifulloh pada Minggu (18/10/2026).

Dulu dalam setiap panen seperempat hektare, Saifulloh memperoleh sekitar 3,5 hingga 4 kuintal kedelai, dengan keuntungan sekitar Rp3,5 juta. Sebagian penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan seharihari, sementara sebagian lainnya dikembangkan menjadi modal usaha peternakan.

Baca Juga: Harga Kedelai Tembus Rp13.200 per Kg, Pemerintah Buka Opsi Subsidi

“Alhamdulillah, dari bertani kedelai saya bisa menghidupi keluarga. Hasilnya juga bisa dikembangkan untuk beternak, sampai akhirnya saya mampu membangun rumah untuk anak,” ujarnya.

Kisah Saifulloh menggambarkan bagaimana budidaya kedelai dapat memberikan manfaat ekonomi yang melampaui hasil panen. Namun, agar manfaat tersebut dapat terus berkembang, petani membutuhkan pengetahuan budidaya yang memadai, pendampingan yang berkelanjutan, dan peluang pasar yang mendukung keberlangsungan penanaman.

Pendampingan Petani dan Pengembangan Budidaya

Di Banyuwangi, pengembangan budidaya kedelai varietas lokal dilakukan melalui kolaborasi Ustad Ari Handoko, PTPN IV, dan FKS Foundation. Pendampingan mencakup teknik penanaman dan pemeliharaan tanaman untuk mendukung kualitas hasil panen sekaligus mempersiapkan keberlanjutan penanaman berikutnya.

Ustad Ari Handoko menilai pendampingan menjadi bagian penting dalam membantu petani mengembangkan kemampuan budidaya dan mengelola potensi lahan secara berkelanjutan.

“Pengembangan kedelai tidak hanya berbicara tentang menanam dan memanen, tetapi juga tentang bagaimana petani terus belajar, meningkatkan kemampuan budidaya, dan mempersiapkan penanaman berikutnya. Kami ingin petani memiliki kesempatan untuk mengembangkan usahanya secara berkelanjutan, sehingga hasil pertanian dapat memberikan manfaat yang lebih baik bagi keluarga mereka,” ujar Ustad Ari Handoko. Dalam program ini, hasil panen pertama akan diprioritaskan sebagai benih untuk mendukung penanaman berikutnya oleh petani yang didampingi Ustad Ari Handoko dan PTPN IV. Seiring dengan pengembangan budidaya, FKS Foundation akan melakukan penyerapan hasil panen kedua untuk mendukung keberlanjutan usaha tani sekaligus membuka peluang pasar bagi petani.

Rencana tersebut merupakan bagian dari upaya menghubungkan pengembangan budidaya dengan kepastian penyerapan hasil panen. Dengan demikian, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kemampuan petani menghasilkan kedelai, tetapi juga dari peluang untuk melanjutkan penanaman dan mengembangkan usaha tani.

Dari perspektif pengembangan sektor pertanian, kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan juga berperan dalam memperkuat kapasitas petani dan mendorong keberlanjutan kegiatan budidaya. Perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream menyampaikan bahwa pengembangan kedelai memerlukan pendekatan yang tidak berhenti pada penanaman, tetapi juga memperhatikan proses budidaya, peningkatan kapasitas petani, dan kesinambungan kegiatan pertanian.

“Pengembangan budidaya kedelai membutuhkan proses dan kolaborasi yang berkelanjutan. Peningkatan kapasitas petani, penerapan teknik budidaya yang tepat, serta perencanaan penanaman berikutnya perlu berjalan beriringan. Melalui kolaborasi antarpemangku kepentingan, kami berharap potensi budidaya kedelai dapat terus dikembangkan dan memberikan manfaat ekonomi bagi petani,” ujar perwakilan PTPN IV PalmCo dari Divisi PMO Upstream.

Kepastian Pasokan bagi Perajin Tahu dan tempe

Keberlanjutan di sisi hulu perlu berjalan beriringan dengan kebutuhan pelaku usaha di hilir. Bagi perajin tahu dan tempe, ketersediaan kedelai dengan kualitas yang konsisten merupakan faktor penting untuk menjaga produksi harian, memenuhi kebutuhan pelanggan, dan mempertahankan penghasilan keluarga.

Nurwito, perajin tempe yang telah menjalankan usahanya sejak 2014, menggunakan sekitar 50–80 kilogram kedelai setiap hari. Kebutuhan bahan baku yang rutin membuat kepastian pasokan menjadi salah satu aspek penting dalam menjalankan usahanya.

“Bagi kami pengrajin tempe, kedelai adalah bahan baku utama yang menentukan kelangsungan produksi setiap hari. Karena kami membutuhkan kedelai secara rutin, ketersediaan bahan baku dan kualitas yang konsisten sangat penting agar kami bisa terus memproduksi tempe, memenuhi kebutuhan keluarga kami, dan juga kebutuhan konsumen,” ujar Nurwito.

Dokumentasi transaksi pembelian kedelai pada pekan ketiga Oktober 2026 di sejumlah wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat harga sekitar Rp11.050-Rp11.300 per kilogram, di luar biaya transportasi dari lahan ke gudang. Di Semarang, harga tercatat pada kisaran Rp11.050-Rp11.200 per kilogram, sedangkan di Solo, Yogyakarta, Purwokerto dan beberapa area Jawa Tengah lainnya berada pada kisaran Rp11.200-Rp11.300 per kilogram. Data tersebut memberikan gambaran mengenai harga transaksi di sejumlah wilayah pada periode tersebut. Bagi petani dan pengrajin, dinamika harga perlu dipahami bersama dengan faktor kualitas, ketersediaan, dan kesinambungan pasokan yang memengaruhi kegiatan usaha mereka.

Kolaborasi untuk Ekosistem Pangan yang Berkelanjutan

Pengalaman petani dan pengrajin menunjukkan bahwa penguatan ekosistem kedelai membutuhkan pendekatan dari hulu hingga hilir. Pendampingan budidaya perlu berjalan seiring dengan pengembangan peluang pasar, sementara kebutuhan pengrajin terhadap bahan baku yang konsisten menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan usaha pangan.

Kolaborasi antara petani, pengrajin, Ustad Ari Handoko, PTPN IV, FKS Foundation, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan dapat membuka peluang pengembangan produksi kedelai lokal sekaligus mendukung keberlanjutan usaha petani dan pengrajin tahu tempe.

Pada akhirnya, keberlanjutan ekosistem kedelai tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari kemampuan seluruh pihak untuk membangun kegiatan usaha yang berkesinambungan mulai dari petani yang mengembangkan lahannya hingga pengrajin yang mengolah kedelai menjadi pangan bagi masyarakat.

Topik Menarik