Raksasa Wall Street Menyerah Tak Lagi Sanggup Prediksi Harga Minyak, Ekonomi Dunia Diambang Bahaya?

Raksasa Wall Street Menyerah Tak Lagi Sanggup Prediksi Harga Minyak, Ekonomi Dunia Diambang Bahaya?

Ekonomi | sindonews | Minggu, 20 September 2026 - 07:41
share

Langkah yang sangat langka dan mengejutkan terjadi di panggung keuangan global. Bank raksasa Wall Street, JPMorgan Chase & Co., secara resmi menyatakan 'menyerah' dan menghentikan prediksi dasar (baseline view) terhadap harga minyak dunia. Keputusan ini diambil seiring memanjangnya perang Amerika Serikat-Israel melawan Iran tanpa ada kejelasan arah penyelesaian.

Analis JPMorgan mengakui bahwa ketidakpastian geopolitik dan manuver mendadak dari Presiden AS Donald Trump membuat model pasar minyak contekannya tak lagi berguna. "Kami sama sekali tidak tahu bagaimana cara memodelkan akhir dari konflik ini (endgame)," tulis tim analis JPMorgan dalam catatan riset resminya.

Ini menjadi kali pertama bank terbesar di AS tersebut gagal memetakan arah harga komoditas paling krusial di dunia. Baca Juga: Dulu Diperebutkan hingga Rp1,6 Juta per Barel, Kini Minyak Dunia Malah Mencari Pembeli

Sebelumnya, analis pasar meyakini ada 'garis merah' yang tidak akan dilanggar oleh pemerintahan Trump, seperti menjaga harga minyak di bawah USD100 per barel atau bensin di bawah USD5 per galon. Namun, Trump justru terus meningkatkan retorika perang dan mengancam akan "mungumpulkan dan memusnahkan" (annihilate) pemerintah Iran.

Dampak konflik ini juga menjalar cepat ke pasar obligasi AS. Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara AS tenor 10 tahun menyentuh angka psikologis 5, memicu kecemasan tinggi di Wall Street dan Washington terkait stabilitas sistem keuangan global.

JPMorgan mengakui bahwa beberapa proyeksi ekstrem mereka sebelumnya, seperti lonjakan harga hingga USD150 per barel tidak terjadi karena munculnya fenomena demand destruction (penurunan permintaan akibat harga yang terlalu mahal).

Baca Juga: Peringatan Horor Bos JPMorgan, American Dream Terancam Pudar Akibat Bom Waktu USD10 Triliun

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) kini memangkas proyeksi permintaan minyak dunia sebesar 2,5 juta barel per hari pada tahun 2026. Kondisi ini mencerminkan lesunya perekonomian global, akibat konsumen dan industri tidak sanggup membayar harga energi yang tinggi.

Sementara itu Pakar geologi perminyakan Art Berman memperingatkan, bahwa korban pertama dari krisis ini bukanlah konsumen kaya di Amerika, melainkan negara-negara berkembang yang bergantung pada impor.

Korban utama dari perang Iran yang berkepanjang diyakini yakni pembeli pupuk di Afrika, perusahaan truk di Pakistan, pabrik-pabrik di Bangladesh, serta rumah tangga di negara-negara pemrakarsa impor.

Fenomena serupa pernah memicu penurunan konsumsi energi hingga 20 pada Krisis Minyak 1979, krisis ekonomi global 2008, hingga krisis gas Eropa pasca-2022 yang memicu penutupan permanen berbagai pabrik.

Topik Menarik