Proyeksi Harga Minyak Pekan Ini: Terjepit Pelepasan Cadangan dan Risiko Perang
IDXChannel - Harga minyak mentah memasuki perdagangan pekan ini dengan sinyal yang berlawanan.
Pelepasan cadangan diesel Eropa memberi alasan bagi investor untuk melepas minyak, tetapi risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah dan serangan terhadap fasilitas energi Rusia membuat tekanan turun belum sepenuhnya meyakinkan.
Kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) November ditutup turun USD1,76 atau 1,90 persen menjadi USD91,11 per barel pada Jumat (2/10/2026).
Sementara itu, kontrak Brent Desember nyaris tidak bergerak, hanya turun USD0,06 atau 0,06 persen menjadi USD102,25 per barel.
Secara mingguan, Brent Desember masih menguat 0,11 persen, sedangkan WTI November turun 1,6 persen.
Pada Minggu (4/10/2026) pukul 22.02 WIB, WTI di Hyperliquid diperdagangkan di USD90,00 per barel, naik USD0,73 atau 0,82 persen.
Mengutip analis FXEmpire James Hyerczyk, tekanan terhadap minyak muncul setelah Eropa menyepakati pelepasan cadangan diesel.
Pejabat Prancis mengusulkan pelepasan 50 juta barel diesel dan tambahan 50 juta barel minyak mentah dari negara-negara anggota International Energy Agency (IEA).
Pelepasan diesel tersebut direncanakan berlangsung selama 20 hari.
Langkah ini meredakan tekanan politik setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump sebelumnya mempertimbangkan pelarangan ekspor diesel AS ke Eropa.
Namun, menurut Hyerczyk, pelepasan cadangan tersebut lebih berfungsi menambah pasokan sementara ketimbang menyelesaikan persoalan struktural di pasar minyak.
"Pelepasan selama 20 hari dapat mengisi kembali tangki, tetapi tidak menghidupkan kembali kilang yang berhenti beroperasi di Timur Tengah dan Rusia," tulis Hyerczyk.
Di sisi lain, OPEC+ pada Minggu mempertahankan target produksi November, sesuai ekspektasi pasar. Kebijakan tersebut belum mengubah kondisi pasokan fisik yang masih ketat.
Tujuh produsen utama, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, dan Oman, memproduksi sekitar 25 juta barel per hari pada Agustus.
Angka tersebut meningkat 630.000 barel per hari dari Juli, tetapi masih sekitar 5 juta barel per hari di bawah level sebelum perang pada Februari.
Hyerczyk menilai selisih antara target produksi dan produksi aktual tersebut tetap menjadi faktor penting bagi pasar.
Kenaikan target produksi yang dilakukan OPEC+ sepanjang 2026 sebagian masih belum terealisasi, sementara peninjauan kapasitas yang diperlukan untuk menentukan kuota 2027 juga tertunda akibat perang.
Risiko geopolitik kembali mengemuka pada akhir pekan.
Kelompok Houthi pada Sabtu mengklaim telah menargetkan fasilitas Aramco di Riyadh menggunakan rudal balistik dan drone.
Reuters belum dapat mengonfirmasi serangan maupun kerusakan yang ditimbulkan, sementara otoritas Arab Saudi juga belum memberikan konfirmasi.
Pada saat yang sama, Ukraina melaporkan serangan terhadap fasilitas minyak di wilayah Samara dan Volgograd, Rusia, dalam 24 jam sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, pelepasan cadangan diesel memang memberikan alasan bagi investor untuk menjual minyak, tetapi belum menghilangkan risiko gangguan pasokan.
WTI Uji Area USD90
Dari sisi teknikal, WTI masih berada dalam tren utama naik, tetapi tren minor telah berubah menjadi turun.
Restitusi Pajak Tertahan Bebani Likuiditas Usaha, Kadin Soroti Masalah Arus Kas Perusahaan
Hyerczyk menyebut level USD93,68 sebagai batas penting untuk mengonfirmasi kembalinya tren minor ke atas.
Sebaliknya, penembusan USD88,06 akan mengonfirmasi berlanjutnya tren turun jangka pendek.
Area support utama WTI berada pada USD90,12 hingga USD87,39. Jika area tersebut gagal bertahan, terdapat support berikutnya di USD86,87 dan USD84,39.
Moving average 50 hari (MA-50) di USD85,85 juga menjadi level penting yang berfungsi sebagai support sekaligus indikator arah tren.
Di sisi atas, resistance terdekat berada pada USD94,88 hingga USD96,48. Jika mampu menembus USD96,48, WTI berpeluang menguji level USD96,78 dan USD98,01.
"Rebound dari USD88,06 dapat menjadi tanda bahwa pembeli masih masuk ketika harga melemah. Namun, pasar mungkin membutuhkan konfirmasi pada Senin melalui penembusan level USD93,68," kata Hyerczyk.
Dengan WTI berada di sekitar USD90, level USD90,12 menjadi perhatian utama pada awal pekan.
Bertahan di atas level tersebut dapat membuka peluang pemulihan menuju USD93,68, sedangkan kegagalan mempertahankannya meningkatkan risiko pengujian kembali USD88,06.
Brent Masih Lebih Kuat
Brent menunjukkan struktur teknikal yang relatif lebih kuat dibandingkan WTI. Tren utama dan tren minor masih berada dalam posisi naik.
Hyerczyk menyebut USD103,96 sebagai level penting. Penembusan level tersebut akan menandai berlanjutnya tren naik.
Sementara itu, penurunan di bawah USD95,12 akan mengubah tren minor menjadi turun, sedangkan penembusan USD93,68 akan mengubah tren utama.
Investor juga perlu mencermati area USD101,50 hingga USD99,20. Area tersebut merupakan zona retracement jangka pendek yang kini berpotensi menjadi basis support baru.
Jika Brent mampu bertahan di atas USD101,50, bias kenaikan masih terjaga. Sebaliknya, penurunan di bawah USD99,20 akan melemahkan prospek tersebut.
Support utama berikutnya berada di USD93,80 hingga USD91,22, sedangkan moving average 50 hari di USD90,47 juga masih memberikan dukungan terhadap tren kenaikan.
Dengan demikian, prospek minyak pekan ini akan sangat bergantung pada kemampuan WTI mempertahankan area USD90 dan Brent bertahan di atas USD99,20.
Pelepasan cadangan diesel menjadi katalis penekan harga, tetapi belum menyelesaikan defisit pasokan yang membuat pasar tetap ketat.
Terlebih, Barclays menaikkan proyeksi harga Brent kuartal IV-2026 menjadi USD115 per barel, menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih melihat pelepasan cadangan sebagai solusi sementara, bukan penyelesaian atas persoalan pasokan.
Pasar juga masih harus memperhitungkan produksi OPEC+ yang sekitar 5 juta barel per hari di bawah level sebelum perang, penundaan peninjauan kapasitas, serta meningkatnya risiko serangan terhadap infrastruktur energi. (Aldo Fernando)









