The Fed di Persimpangan, Simak Strategi Barbell Hadapi Gejolak Pasar

The Fed di Persimpangan, Simak Strategi Barbell Hadapi Gejolak Pasar

Ekonomi | idxchannel | Senin, 5 Oktober 2026 - 06:44
share

IDXChannel – Investor global dihadapkan pada dua kemungkinan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) ketika risiko makroekonomi semakin meningkat.

Jika bank sentral Amerika Serikat (AS) tersebut kembali mengetatkan kebijakan secara agresif, dolar Amerika Serikat (USD) berpotensi semakin kuat.

Sebaliknya, jika The Fed memilih mengendalikan imbal hasil obligasi melalui yield curve control (YCC), emas berpeluang menjadi aset yang lebih menarik.

Chief Strategist Officer Sucor Sekuritas Arief Putra mengatakan investor sebaiknya menyiapkan portofolio untuk menghadapi kedua skenario tersebut, alih-alih mencoba menebak jalur kebijakan yang akan dipilih The Fed.

Pandangan tersebut disampaikan Arief dalam riset Sucor Sekuritas bertajuk The Policy Fork - USD or Gold: The Fed faces two divergent paths pada 30 September 2026.

Menurutnya, risiko makro kini semakin serius, tercermin dari imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang telah menembus lebih dari 5,2 persen, level tertinggi sejak 2007.

Tekanan terhadap pasar obligasi juga datang dari besarnya pasokan Treasury, ketidakpastian perdagangan, pertumbuhan ekonomi yang masih bertahan, serta kenaikan harga minyak.

Kondisi tersebut membuka kemungkinan The Fed kembali memperketat kebijakan apabila tekanan inflasi dan data ketenagakerjaan AS tetap kuat.

Arief memperingatkan, pengetatan agresif The Fed dapat merembet ke Indonesia melalui kenaikan imbal hasil domestik dan tekanan terhadap pasar saham.

Risiko tersebut menjadi lebih besar karena Indeks Harga Saham Gabungan IHSG) sendiri telah mengalami tekanan signifikan hingga minus 30 persen sepanjang tahun berjalan.

Dalam skenario The Fed mengambil pendekatan agresif untuk menekan inflasi, kenaikan imbal hasil aset berdenominasi USD berpotensi menarik aliran modal global ke Negeri Paman Sam.

Imbal hasil riil yang lebih tinggi, likuiditas yang semakin ketat, serta pelebaran selisih suku bunga dapat menopang penguatan USD.

Di sisi lain, kondisi tersebut dapat menekan valuasi saham dan aset berdurasi panjang.

Dalam skenario ini, Sucor Sekuritas menyarankan investor memiliki porsi kas dan instrumen berjangka pendek yang lebih besar untuk menjaga modal sekaligus mempertahankan likuiditas ketika peluang investasi muncul setelah penyesuaian harga aset.

Namun, jalur kebijakan yang berbeda dapat menghasilkan konsekuensi yang berlawanan.

Jika The Fed menerapkan yield curve control dengan membatasi kenaikan imbal hasil Treasury, imbal hasil riil berpotensi turun, terutama apabila inflasi masih tinggi.

Kondisi tersebut dapat mengurangi biaya peluang memegang emas sehingga mendukung harga logam mulia.

Pembelian obligasi oleh The Fed dalam skenario tersebut juga berpotensi meningkatkan likuiditas dan memberikan dukungan terhadap pasar saham.

Bagi Indonesia, penurunan imbal hasil AS dan pelemahan USD dapat mengurangi tekanan terhadap arus modal keluar serta membantu meredakan tekanan terhadap suku bunga domestik.

Meski demikian, Arief menilai kinerja saham Indonesia dalam skenario tersebut tetap bergantung pada disiplin fiskal dan kebijakan pemerintah yang ramah investasi.

Dengan ketidakpastian yang masih tinggi, Sucor Sekuritas merekomendasikan strategi barbell dengan mengombinasikan saham Indonesia pilihan dan sedikitnya 25 persen kas serta instrumen berjangka pendek.

Untuk saham, Sucor Sekuritas memilih PT Indosat Tbk (ISAT) karena eksposurnya terhadap Zankore dan bisnis neocloud.

Selain itu, saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dipilih karena eksposur terhadap tembaga dan emas, sementara PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dinilai memiliki peluang spesifik seiring harga nikel yang berada pada level tertekan.

Selain itu, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) tetap menjadi pilihan untuk eksposur terhadap komoditas.

“Porsi kas yang lebih besar dapat menjadi bantalan ketika pasar terkoreksi, tetap memberikan imbal hasil, sekaligus menjadi amunisi (dry powder) untuk masuk saat terjadi dislokasi harga dan peluang investasi mulai muncul,” tulis Arief. (Aldo Fernando)

Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Topik Menarik