Surplus Neraca Dagang Indonesia hingga Agustus 2026 Tembus USD7,25 Miliar

Surplus Neraca Dagang Indonesia hingga Agustus 2026 Tembus USD7,25 Miliar

Ekonomi | sindonews | Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:16
share

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia kumulatif periode Januari hingga Agustus 2026 secara konsisten membukukan surplus sebesar USD7,25 miliar. Pencapaian ini disokong oleh kinerja ekspor yang melaju positif, termasuk capaian surplus bulanan pada Agustus 2026 yang menyentuh USD3,55 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, bahwa keunggulan neraca perdagangan nasional ditopang penuh oleh performa kuat sektor nonmigas. Baca Juga: Neraca Perdagangan Indonesia Kembali Cetak Surplus di Juli 2026, Nilainya USD0,12 M

“Surplus sepanjang periode Januari-Agustus 2026 ditopang oleh kinerja perdagangan komoditas nonmigas yang mencatat surplus US28,54 miliar. Sementara perdagangan komoditas migas masih mengalami defisit sebesar US21,29 miliar,” jelas Ateng dalam konferensi pers BPS di Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Agustus 2026 menyentuh USD193,64 miliar atau tumbuh 4,74 secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penguatan ekspor terutama bersumber dari pengiriman komoditas nonmigas yang melonjak 5,48 menjadi USD185,63 miliar.Baca Juga: Neraca Dagang Kembali Surplus USD120 Juta di Juli 2026, Begini Jurus Mendag Jaga Tren Positif

Ditinjau dari sektornya, industri pengolahan menjadi penyumbang ekspor terbesar dengan porsi mencapai USD159,55 miliar (naik 7,87). Adapun tiga negara destinasi utama ekspor nonmigas Indonesia meliputi China senilai USD47,44 miliar (25,55), Amerika Serikat sebesar USD22,41 miliar (12,07), serta India dengan nilai USD12,77 miliar (6,88).

Penyumbang utama surplus nonmigas selama delapan bulan pertama 2026 ini didominasi oleh komoditas lemak dan minyak hewani/nabati sebesar USD24,91 miliar, bahan bakar mineral USD18,84 miliar, besi dan baja USD12,10 miliar, nikel dan barang daripadanya USD8,38 miliar, serta alas kaki USD4,33 miliar.

Di sisi lain, total nilai impor kumulatif Indonesia periode Januari–Agustus 2026 tercatat sebesar USD186,39 miliar, naik 19,84 dibandingkan periode yang sama tahun 2025. Peningkatan ini bersumber dari impor nonmigas yang tumbuh 16,83 menjadi USD157,09 miliar, serta impor migas yang melonjak 39,03 menjadi USD29,30 miliar.

Berdasarkan kategori penggunaannya, impor bahan baku/penolong menjadi komponen dominan dengan nilai transaksi mencapai USD133,38 miliar atau naik 20,67. Selanjutnya, porsi impor barang modal tercatat sebesar USD36,75 miliar (naik 18,82), diikuti impor barang konsumsi yang menyentuh USD16,27 miliar (naik 15,48).

China masih menjadi negara asal utama impor nonmigas Indonesia sepanjang Januari–Agustus 2026 dengan porsi nilai mencapai USD66,64 miliar (42,42). Posisi berikutnya diisi oleh Jepang dengan nilai impor sebesar USD8,88 miliar (5,65) serta Australia sebesar USD7,31 miliar (4,65).

Topik Menarik