AS Blokade Total Selat Hormuz, Perdagangan Iran via Laut Diklaim Lumpuh 36 Jam
Amerika Serikat (AS) mengumumkan, bahwa blokade terhadap rute pelayaran paling vital di dunia, Selat Hormuz telah dilakukan secara penuh. Dalam artian, kapal-kapal perang Amerika kini telah memutus total seluruh jalur perdagangan laut Iran.
Komandan CENTCOM (Pusat Komando AS), Laksamana Brad Cooper seperti dilansir RT menegaskan, dalam pernyataan resminya bahwa militer AS saat ini memegang keunggulan maritim penuh di kawasan tersebut. Hanya dalam waktu kurang dari 36 jam sejak perintah blokade dikeluarkan, pasukan AS diklaim telah menghentikan seluruh aktivitas ekonomi keluar dan masuk Iran melalui jalur laut.
“Dalam waktu kurang dari 36 jam, pasukan AS telah menghentikan sepenuhnya perdagangan ekonomi yang masuk dan keluar dari Iran melalui laut,” ujar Laksamana Cooper, Selasa malam (14/4/2026).
Baca Juga: Lawan Blokade Barat, Dua Raksasa BRICS Perkuat Poros Eurasia di Tengah Krisis HormuzLaporan dari The Wall Street Journal (WSJ) menyebutkan bahwa militer AS setidaknya telah mencegat delapan kapal tanker sejak blokade dimulai pada Senin pagi. Meski demikian, beberapa sumber intelijen menyebut masih ada kapal-kapal yang mencoba 'kucing-kucingan', termasuk kapal kargo berbendera Iran, Kashan, dan tanker berbendera Komoro, Elpis, yang dilaporkan sempat melintasi selat sebelum pengetatan penuh dilakukan.
Blokade total ini diumumkan oleh Presiden Donald Trump pada hari Minggu, menyusul kegagalan negosiasi damai yang dimediasi oleh Pakistan. Upaya gencatan senjata dua minggu yang sempat disepakati pada 8 April lalu tampaknya runtuh setelah kedua belah pihak saling menuduh mengajukan syarat tidak masuk akal.Dampak Global Embargo AS
Langkah drastis AS ini diperkirakan akan mengirimkan gelombang kejut ke pasar global. Selat Hormuz adalah jalur bagi seperlima pasokan minyak dunia. Dengan blokade total ini, ketersediaan energi global berada dalam ancaman serius.Baca Juga: Tak Dapat Pasokan Minyak Iran, China Minta Blokade Selat Hormuz Dihentikan
Situasi ini menjadi alarm merah, bagi negara-negara yang masih mengandalkan impor BBM dan LPG melalui jalur internasional, blokade ini berpotensi memicu lonjakan harga BBM, seiringh kenaikan harga minyak mentah dunia yang tak terkendali.
Selanjutnya ada tekanan fiskal, ketika beban subsidi semakin gemuk karena mahalnya harga-harga. Ditambah gangguan pada arus barang impor yang melintasi kawasan Timur Tengah.









