Harga Plastik Dunia Cetak Rekor Usai Trump Perintahkan Blokade Laut Iran
Harga plastik global melonjak tajam menyusul langkah Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memerintahkan blokade angkatan laut penuh terhadap Iran, sehingga memperparah krisis pasokan petrokimia dunia. Dinamika ini memicu kenaikan biaya produksi di berbagai industri manufaktur serta memperdalam tekanan pada rantai pasok global akibat terganggunya jalur strategis Selat Hormuz.
"Jika blokade berlanjut hingga Mei, Anda akan melihat harga bahan baku melonjak secara global," ujar Cameron Johnson, Mitra Senior di Tidalwave Solutions sebagaimana dikutip dari Aljazeera, Rabu (15/4/2026).
Baca Juga:Harga Plastik Naik, Pramono: Kadang Harus Kembali ke Cara Tradisional, Pakai Daun Pisang
Kenaikan harga tersebut dipimpin oleh raksasa petrokimia Dow Inc. dan ExxonMobil yang merevisi kenaikan harga resin polietilena menjadi 30 sen per pon untuk April, jauh lebih tinggi dari rencana sebelumnya. Tren kenaikan ini diperkirakan akan terus berlanjut pada Mei mendatang seiring dengan belum adanya tanda-tanda meredanya tekanan pasokan bahan baku.
Kondisi tersebut juga tercermin di pasar komoditas global, di mana harga polietilena di Bursa Komoditas Dalian melonjak hampir 37 persen sejak akhir Februari, sementara polipropilena meningkat lebih dari 38 persen. Lonjakan ini dipicu oleh penurunan drastis lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang anjlok hingga 95 persen dibandingkan kondisi normal sebelum konflik.CEO Dow Inc., Jim Fitterling, menyebutkan bahwa hingga 50 persen kapasitas polietilena global saat ini terdampak, baik secara langsung maupun tidak langsung, akibat keterbatasan bahan baku. Jalur Selat Hormuz sendiri merupakan urat nadi vital yang sebelumnya mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan bahan baku petrokimia dunia.
Baca Juga:Bahan Baku Plastik Langka, Indonesia Sibuk Cari Sumber Pasokan Alternatif ke 3 Negara
Di sisi lain, produsen petrokimia Amerika Serikat dilaporkan relatif diuntungkan karena ketergantungan mereka pada bahan baku domestik seperti etana, sehingga lebih terlindung dari guncangan harga global. Kondisi ini membuat margin keuntungan kilang domestik AS meningkat pesat, yang juga tercermin dari kenaikan signifikan harga saham perusahaan di sektor tersebut.
Meski demikian, tekanan berat mulai dirasakan oleh sektor hilir, mulai dari industri kemasan makanan, botol minuman, hingga manufaktur alat rumah tangga. Kenaikan harga bahan baku plastik mendorong biaya operasional meningkat tajam, dengan sejumlah pelaku industri melaporkan kenaikan biaya produksi berkisar 10 hingga 20 sen per pon. Analis memperingatkan jika gangguan pasokan ini terus berlanjut, dampaknya dapat memicu inflasi global dan memperlambat aktivitas industri secara luas.









