Mengapa Toko Fisik Tetap Relevan di Tengah Pertumbuhan E-Commerce? Ini Alasannya
Pertumbuhan e-commerce dalam satu dekade terakhir telah mengubah banyak hal. Cara orang mencari informasi, membandingkan harga, hingga melakukan transaksi kini semakin bergeser ke ranah digital dengan frekuensi yang cukup masif.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pernah menggelar survei tentang aktivitas masyarakat Indonesia di e-commerce pada 2025. Hasilnya, sebanyak 48,4 responden melakukan transaksi penjualan atau pembelian melalui aplikasi e-commerce minimal sekali dalam sebulan.
Dalam narasi e-commerce, efisiensi sering menjadi kata kunci. Belanja bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus datang ke lokasi tertentu. Produk dikirim ke rumah, prosesnya cepat, dan pilihan semakin beragam. Akan tetapi, belanja tidak selalu berhenti pada urusan transaksi. Baca juga:Purbaya Ungkap Rencana Pajak Toko Online Tunggu Ekonomi 6
Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa meski transaksi online meningkat, tingkat kehati-hatian konsumen juga ikut tumbuh, terutama terkait kualitas produk dan keandalan penjual. E-commerce tidak selalu menjadi pilihan utama karena masih banyak konsumen Indonesia yang lebih memilih membeli secara langsung di toko fisik, terutama untuk produk elektronik misalnya ponsel.
Temuan survei Kurious dari Katadata Insight Center (KIC) menunjukkan, masih banyak konsumen Indonesia yang membeli handphone di toko fisik resmi ketimbang di e-commerce. Persentasenya mencapai 59,3.Jika dulu toko fisik identik dengan rak-rak penuh produk, hari ini perannya jauh lebih beragam. Beberapa pelaku usaha memanfaatkan toko fisik sebagai lokasi di mana konsumen dapat memastikan pilihan mereka setelah berinteraksi secara digital serta menggunakan toko fisik sebagai ruang konfirmasi sebelum menyelesaikan transaksi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan cara pandang: offline tidak lagi berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari satu sistem yang lebih besar.
Ketika Offline dan Online Tidak DipisahkanSebelum istilah omnichannel dan hybrid commerce ramai digunakan, sejumlah bisnis lokal di Indonesia sebenarnya sudah menjalankan pendekatan ini secara intuitif. Mereka tidak memandang online dan offline sebagai dua kanal yang saling bersaing, melainkan sebagai satu alur yang saling melengkapi.
JakartaNotebook (Jaknot), yang berdiri sejak 1999, menjadi salah satu contoh menarik dari pendekatan tersebut. Di saat e-commerce belum berkembang seperti sekarang, Jaknot membangun sistem belanja yang menjadikan platform digital sebagai titik awal transaksi, bahkan ketika konsumen datang langsung ke toko.
Dalam praktiknya, toko fisik tidak difungsikan sebagai etalase konvensional, melainkan sebagai ruang untuk memastikan keputusan belanja. Konsumen memulai proses secara digital, lalu menggunakan toko sebagai tempat untuk mengecek dan meyakinkan diri sebelum melanjutkan transaksi. Model ini menunjukkan bahwa fungsi utama toko fisik bukan lagi sekadar menjual, tetapi memberi rasa aman dalam mengambil keputusan. Baca juga:Tren Belanja Lebaran 2026 Diprediksi Berubah, Makin Hemat dan Terukur
Metode “Click and Collect” hingga “Pick-up In Store” yang Kian RamaiLaporan e-Conomy SEA dari Google, Temasek, dan Bain & Company (seperti edisi 2022-2024) menyoroti bahwa dalam tiga hingga empat tahun terakhir (terutama pasca-pandemi), konsumen Asia Tenggara semakin menuntut fleksibilitas belanja. Konsumen kini mengadopsi pendekatan hybrid atau omnichannel yang menyatukan pengalaman online dan offline (O2O) secara mulus. Meski tergolong pendekatan baru, dalam praktik e-commerce sendiri model hybdrid justru telah lama dijalankan oleh Jaknot.
Data Kementerian Perdagangan menunjukkan bahwa model seperti ini membantu mengurangi friksi, baik dari sisi waktu tunggu maupun ketidakpastian produk. Oleh karena itu semakin terlihat meningkatnya minat terhadap opsi seperti click-and-collect atau pick-up in store, konsumen memesan secara online dan mengambil barang secara langsung, seperti yang dilakukan di Jaknot. Konsumen diberikan kebebasan untuk belanja dan melihat langsung produk yang dibeli.










