Loading...
Loading…
Kominfo Menggelar Forum Pendidikan Karakter Pancasila dan Pertunjukan Wayang di Ngawi

Kominfo Menggelar Forum Pendidikan Karakter Pancasila dan Pertunjukan Wayang di Ngawi

Powered by BuddyKu
Travel | Sindonews | Senin, 27 Juni 2022 - 18:10

NGAWI Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI melakukan sosialisasi Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) dengan format diskusi secara hybrid yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Acara ini bertujuan untuk menggalakkan kembali seni budaya lokal di sekolah dan untuk mencintai seni budaya lokal, dan menghasilkan konten dalam rangka penyebarluasan informasi yang dikemas secara menarik untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Forum dikemas dengan pendidikan karakter Pancasila dan pertunjukan rakyat Gerakan Seniman Masuk Sekolah dengan tema 'Kesadaran Merawat Nasionalisme melalui Budaya dan Kearifan Lokal' serta dilaksanakan selama dua hari, yaitu Jumat dan Sabtu (24-25/6/2022) bertempat di Alun-Alun Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Hari pertama berupa pergelaran wayang kulit oleh dalang Ki Warseno Slenk dengan lakon Wiratha Parwa, tersebut dihadiri oleh Bupati dan Wakil Bupati Ngawi, Forkopimda, dan OPD Kabupaten Ngawi serta ribuan masyarakat.

Hari kedua berupa diskusi di Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi, dengan lima narasumber, yaitu Wakil Kepala BPIP 2018 - 2022 Prof. Hariyono, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek Restu Gunawan, sastrawan dan budayawan Tjahjono Widijanto, Ketua Badan Promosi Solo dan dosen Universitas Negeri Solo BRM. Bambang Irawan, content creator/influencer Cindy Gulla serta sebagai keynote speech Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika Wiryanta

Baca Juga :
Wayang Kulit Semalam Suntuk, Ramaikan WSL Banyuwangi

Peserta meliputi Tim GSMS Kemendikbud, serta para guru dan pelajar, civitas akademika, komunitas, penggiat seni, dan masyarakat umum di Kabupaten Ngawi sebanyak seratus lima puluh (150) secara daring maupun luring.

Acara ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diharapkan akan mampu menginspirasi, memenuhi pendidikan anak seutuhnya, untuk membangun iklim sekolah yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan, dan menguatkan.

"Masa depan bangsa Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas SDM generasi muda yang memiliki karakter toleran, kreatif, inovatif dan prestasi serta terus berusaha melakukan terobosan, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi (gotong royong) antarkomponen bangsa untuk menjadi pembelajar yang bermakna dan visioner," kata Hariyono.

Baca Juga :
Ideologi Pancasila Digelorakan di Surabaya, Ini yang Dilakukan BPIP

Restu Gunawan menjelaskan, kegiatan GSMS merupakan program pelibatan seniman untuk memberikan pembelajaran seni budaya pada siswa di sekolah, dengan tujuan dapat menciptakan warga sekolah yang bisa melestarikan, melindungi, mengembangkan serta memanfaatkan nilai budaya dan objek pemajuan kebudayaan.

BRM. Bambang Irawan mengatakan, (GSMS) memang sebaiknya dilakukan oleh pihak sekolah/pengajar/tenaga pendidikan bila ingin menciptakan generasi muda menjadi penjaga budaya dan kearifan lokal.

"Hal tersebut memiliki tantangan berat mengingat makin menipisnya generasi milenial dalam menggunakan bahasa lokal, menipisnya ketertarikan mereka kepada adat, seni dan tradisi, karakter dan kepribadian makin berjarak dengan nilai-nilai budaya bangsa, dan solidaritas sosial bergeser menjadi ke solidaritas media sosial," katanya.

Program GSMS ini dilaksanakan agar para peserta didik dapat menyerap secara langsung ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki seniman. Program ini dilaksanakan dalam rangka menanamkan kecintaan dan wawasan yang lebih luas tentang karya seni budaya sehingga dapat memperkuat karakter para peserta didik.

Praktisi seni Tjahjono Widijanto mengatakan reguklah ilmu dan khazanah budaya dari mana saja tapi reguklah tuntas juga ke-Indonesiaanmu. "Kita harus menjadi orang cerdas, pintar, dan intelektual seperti Einstein tetapi hati, jiwa kita tetaplah jiwa dan kepribadian timur yang memiliki etika ketimuran," ujarnya. CM

(ars)

Original Source

Topik Menarik

{