Ahmad Alimuddin Ingatkan Mahasiswa soal Pentingnya Data Sebelum Berkomentar di Media Sosial

Ahmad Alimuddin Ingatkan Mahasiswa soal Pentingnya Data Sebelum Berkomentar di Media Sosial

Terkini | inews | Rabu, 30 September 2026 - 21:31
share

JAKARTA, iNews.id - Gelaran hari kedua iNews Campus Connect (ICC) 2026 di Universitas Tarumanagara (Untar) Jakarta pada Rabu (30/9/2026) kembali menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membahas isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda. Termasuk bagaimana menggunakan suara di tengah derasnya arus informasi digital.

Isu ini dibahas dalam program Mahasiswa Bersuara. Sesi ini menghadirkan kreator konten Sherly Annavita dan pendiri Mari Kita Bahas, Ahmad Alimuddin.

Dalam sesi tersebut, Ahmad Alimuddin atau yang akrab disapa Bang Alim menceritakan awal mula dirinya serius membuat konten yang membahas berbagai isu publik.

Menariknya, dia mengaku sudah mengenal dan mengagumi Sherly Annavita sejak masih menjadi mahasiswa. Keduanya diketahui pernah berada di kampus yang sama sebagai penerima beasiswa Paramadina Fellowship.

Alim mengatakan, pemikiran Sherly saat mengikuti sebuah kompetisi ketika masih kuliah menjadi salah satu hal yang membuatnya tertarik mengikuti konten-konten Sherly hingga kini.

“Sampai hari ini ketika saya ngonten pun saya melihat kontennya Kak Sherly, karena kontennya itu bagus, memberikan perspektif dalam berbagai isu-isu yang ada,” ucap Alim.

Sementara untuk perjalanan kontennya sendiri, Alim mengatakan dirinya mulai serius membuat konten setelah Pilpres 2024. Saat itu, dia merupakan salah satu pengurus relawan salah satu calon. 

Namun, awalnya ia belum terlalu serius membuat konten. Salah satu hal yang kemudian mendorongnya aktif adalah isu yang berkaitan dengan daerah asalnya, Sumbawa.

Alim menjelaskan, Sumbawa telah lama memiliki keinginan untuk menjadi provinsi sendiri. Ketika isu tersebut kembali mencuat, ia mulai serius membuat konten karena melihat persoalan itu cukup mendapat perhatian di daerah.

Dari sana, pembahasannya kemudian berkembang ke berbagai isu nasional. Menurut Alim, saat itu ia melihat banyak konten yang lebih banyak menyebarkan disinformasi dibandingkan memberikan perspektif. 

Pengalamannya selama terlibat dalam kegiatan kampanye di hampir 20 provinsi juga membuatnya merasa memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan sudut pandang yang ia pahami kepada masyarakat.

“Saya punya tanggung jawab moral untuk memberikan perspektif yang saya pahami kepada masyarakat,” kata dia.

Namun, Alim menyadari bahwa menyampaikan pandangan di media sosial berarti siap menghadapi respons yang berbeda-beda.

Dia mengatakan, orang yang menyampaikan pandangan tertentu bisa saja mendapat label dari pihak yang tidak sepakat. Karena itu, menurutnya, seseorang perlu tetap berpegang pada apa yang memang ingin disampaikan.

Alim melihat aksi mahasiswa maupun masyarakat yang menyampaikan pandangan, baik melalui media sosial maupun turun ke jalan, sebagai bagian dari cara masyarakat menjalankan hak untuk bersuara.

“Semua juga punya hak untuk bersuara, semua juga punya hak untuk menyampaikan pandangan dan prinsip mereka,” tuturnya.

Meski demikian, dia menilai keberanian bersuara perlu dibarengi dengan tanggung jawab. Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang data science, Alim mengatakan dirinya terbiasa menyampaikan sesuatu dengan basis data.

Menurutnya, data dapat membantu seseorang agar tidak hanya berbicara berdasarkan perasaan atau kepentingan pribadi.

“Cara bertanggung jawab paling real adalah ketika kita bicaranya itu ada basis datanya,” ujar Alim.

Bagi Alim, hal terpenting adalah memastikan seseorang memiliki sumber ketika menyampaikan informasi kepada publik.

“Intinya adalah kita punya sumber ketika kita berbicara tentang apa pun yang kita bicarakan,” kata dia.

Dia juga mengingatkan agar seseorang tidak menjadikan media sosial hanya sebagai tempat mencari pembenaran atas kepentingannya sendiri. Sebaliknya, ruang digital seharusnya tetap memberi kesempatan kepada orang lain untuk memberikan tanggapan maupun memiliki pemahaman yang berbeda. 

Topik Menarik