Wabah Campak di Bangladesh Tewaskan Lebih dari 1.000 Anak
DHAKA – Lebih dari 1.000 anak meninggal dunia akibat wabah campak di Bangladesh. Jumlah kasus kembali meningkat meskipun kampanye vaksinasi darurat telah digencarkan. Lebih dari 19,8 juta anak di negara tersebut telah divaksinasi, namun sekitar 1.000 kasus baru yang diduga campak masih dilaporkan setiap harinya.
Data terbaru pemerintah menunjukkan adanya lebih dari 194.000 kasus penyakit yang sangat menular ini sejak Maret lalu. Penyakit campak menyebar dengan mudah melalui pernapasan, batuk, atau bersin.
Pada Selasa (15/9/2026) saja, delapan orang dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan penyakit campak.
Kasus campak di negara Asia Selatan berpenduduk 178 juta jiwa ini melonjak pada Maret tahun ini. UNICEF menyebut wabah awal tersebut sebagai "perfect storm" (badai sempurna) yang dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kepadatan penduduk serta dampak pandemi COVID-19 yang menyebabkan tertundanya imunisasi rutin.
Tes Pengangkatan Guru PPPK Jadi PNS Bakal Digelar, Mendagri: Kalau Lulus Jadi Pegawai Kemendikdasmen
Sebelumnya, badan PBB tersebut menyatakan bahwa pemerintahan Muhammad Yunus—mantan pemimpin sementara Bangladesh—sempat menunda pemesanan vaksin pada tahun lalu, yang kemudian mengakibatkan terjadinya kelangkaan pasokan vaksin.
Bangladesh sendiri telah mengalami pergolakan politik selama bertahun-tahun, termasuk gelombang protes yang dipimpin mahasiswa pada 2024 yang berhasil menggulingkan pemimpin otoriter, mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina.
UNICEF menyatakan bahwa pemerintahan sementara yang menggantikannya menunda pemesanan vaksin demi mempertimbangkan pemasok baru, meskipun telah ada peringatan mengenai risiko yang mungkin timbul. Namun, mantan pejabat tinggi kementerian kesehatan di pemerintahan Yunus membantah adanya kelangkaan vaksin tersebut.
Sebagian besar kasus terjadi pada anak-anak yang belum divaksinasi. Sekitar 83 persen kasus campak yang terkonfirmasi dialami oleh mereka yang belum menerima vaksin, sementara 10 persen terjadi pada bayi berusia di bawah enam bulan—kelompok yang menurut WHO "sangat rentan selama wabah berlangsung".
Kondisi malnutrisi pada anak-anak di Bangladesh juga meningkatkan risiko terjadinya komplikasi serius hingga kematian akibat campak.
Sebagai perbandingan, Amerika Serikat juga mencatat peningkatan kasus campak dalam beberapa tahun terakhir. Cakupan vaksinasi pada anak-anak di bawah usia lima tahun di kedua negara tersebut masih berada di bawah ambang batas 95 persen yang diperlukan untuk mencapai kekebalan kelompok (herd immunity).









