Kisah Pritta 19 Kali Ditolak Beasiswa, Kini Lulus S2 di London
JAKARTA, iNews.id - Ditolak beasiswa berkali-kali ternyata tidak mematahkan semangat seorang gadis bernama Pritta Novia Lora Damanik. Berkat kerja kerasnya, kini ia berhasil menyelesaikan S2 di King's College London.
Pritta diketahui mencoba mendapatkan beasiswa 7 tahun lamanya. Namun, perempuan asal Pematangsiantar tak pernah putus asa hingga pada percobaan ke-20, ia berhasil meraih beasiswa dari LPDP untuk melanjutkan kuliah di Inggris.
Bagi Pritta, perjalanan tersebut tidak pernah semata berhasil lolos meraih beasiswa. Sebab, tujuan awal yang ia ingin lakukan adalah berkontribusi bagi perlindungan anak-anak Indonesia.
Perjalanannya meraih beasiswa tidak semudah mengembalikkan telapak tangan. Keterbatasan finansial sempat membuat dirinya harus mengosongkan tabungan. Hal itu demi mengikuti tes bahasa Inggris.
“Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh,” ucap Pritta dikutip dari laman Kemenkeu LPDP, Jumat (8/5/2026).
Meski begitu, semangat prita tak selalu stabil. Ada masa ia berhenti sejenak menghadapi dinamika hidup, termasuk saat sebagai penyintas gempa Palu. Namun, di saat-saat yang berat, selalu ada teman dan sahabatnya yang terus mengingatkan betapa penting mengejar kesempatan beasiswa.
Pritta kembali bangkit dan semangat. Setelah sempat berhenti sejenak, ia kembali melangkah dengan perspektif yang lebih matang. Ia percaya bahwa untuk terus berjalan, seseorang tidak harus selalu berlari.
Pritta diketahui karier di sektor pembangunan sosial. Selama lebih dari satu dekade, ia terlibat dalam berbagai inisiatif yang berfokus pada pemenuhan hak anak, mulai dari tingkat komunitas hingga advokasi kebijakan.
Pengalaman tersebut membentuk pemahaman bahwa perlindungan anak bukan hanya soal kepedulian, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan. Ia pun berkeinginan untuk berkontribusi bagi anak-anak Indonesia.
Kesempatan akhirnya datang pada 2023. Saat itu, Pritta dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP. Ia melanjutkan studi magister di bidang Education Policy and Society di King's College London.
“LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia,” tuturnya.
Selama menempuh studi di luar negeri, Pritta tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memperluas perspektifnya terhadap praktik kebijakan publik dan sistem pendidikan. Ia mengamati bagaimana kebijakan dirancang, bagaimana anggaran dikelola, dan bagaimana implementasi dijalankan dalam konteks yang berbeda.
“Kalau bukan dari beasiswa LPDP, belum tentu saya bisa berkembang sejauh ini,” ujarnya.
Berbekal perspektif dan pengalaman tersebut, Pritta kembali ke Indonesia dan menekuni bidang perlindungan anak. Sebuah ruang yang telah ia geluti selama lebih dari satu dekade melalui kelibatannya pada berbagai organisasi nonpemerintah (NGO), baik di tingkat nasional maupun dalam kemitraan dengan lembaga internasional.
Saat ini, Pritta bekerja di NGO yang bermitra dengan pemerintah Indonesia untuk memperkuat sistem perlindungan anak terutama melalui sektor pendidikan. Dalam perannya, ia tidak hanya terlibat dalam perancangan program, tetapi juga memastikan bahwa pendekatan yang dikembangkan dapat selaras dengan kebijakan nasional dan relevan dengan kondisi di lapangan.
“Kepuasan tertinggi bagi saya adalah melihat anak-anak itu bisa bertumbuh,” katanya.
Tak lupa, ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak berhenti pada satu titik kegagalan. Sebab, keberhasilan akan selalu membuka jalannya.
“Kegagalan itu bukan alasan untuk berhenti, tetapi kesempatan untuk menemukan jalan yang lain,” ucap Pritta.










