OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Minyak 188 Ribu Barel per Hari selama Penutupan Selat Hormuz
WINA, iNews.id - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutu (OPEC+) sepakat untuk meningkatkan produksi minyak mentah yang moderat dan sebagian besar simbolis untuk bulan Juni. Hal ini imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel terhadap Iran yang mengganggu pasokan Teluk melalui Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut disampaikan tujuh negara anggota OPEC+, Aljazair, Irak, Kazakhstan, Kuwait, Oman, Rusia, dan Arab Saudi usai pertemuan secara virtual akhir pekan lalu. Dalam keterangan itu juga disebutkan bahwa langkah ini akan memberikan kesempatan bagi negara-negara peserta untuk mempercepat kompensasi.
“Dalam komitmen kolektif mereka untuk mendukung stabilitas pasar minyak, tujuh negara peserta memutuskan untuk menerapkan penyesuaian produksi sebesar 188.000 barel per hari,” tulis OPEC+ dalam sebuah pernyataan bersama dilansir dari Al Jazeera, Senin (4/5/2026).
Adapun, langkah ini menunjukkan bahwa kelompok tersebut siap meningkatkan pasokan setelah perang berakhir dan memberi sinyal bahwa OPEC+ terus melanjutkan pendekatan bisnis seperti biasa meski Uni Emirat Arab (UEA) telah menyatakan keluar.
Kuota produsen OPEC+ terbesar, Arab Saudi, akan meningkat menjadi 10,291 juta barel per hari (bpd) pada bulan Juni berdasarkan kesepakatan tersebut, jauh di atas produksi aktual. Kerajaan Saudi melaporkan produksi aktual sebesar 7,76 juta bpd kepada OPEC pada bulan Maret.
OPEC+ memiliki 21 anggota, termasuk Iran. Namun dalam beberapa tahun terakhir, hanya tujuh negara ditambah UEA yang terlibat dalam keputusan produksi bulanan.
UEA, salah satu produsen terbesar di dunia, mengumumkan pada hari Selasa (28/4/2026) bahwa mereka akan menarik diri dari OPEC dan kelompok OPEC+ setelah merasa tidak puas dengan kuota produksi mereka.
Perang Iran, yang dimulai pada 28 Februari dan penutupan Selat Hormuz telah menghambat ekspor dari anggota OPEC+ Arab Saudi, Irak, dan Kuwait, serta UEA. Sebelum perang pecah, negara-negara tersebut mampu meningkatkan produksi.
Bahkan ketika pengiriman melalui Selat Hormuz kembali dibuka akan membutuhkan waktu beberapa minggu agar arus kembali normal.
Gangguan pasokan telah mendorong harga minyak ke level tertinggi dalam empat tahun di atas 125 dolar AS per barel. Para analis mulai memprediksi kekurangan bahan bakar jet yang meluas dalam satu hingga dua bulan dan lonjakan inflasi global.
Produksi minyak mentah dari seluruh anggota OPEC+ rata-rata mencapai 35,06 juta barel per hari pada bulan Maret, turun 7,7 juta barel per hari dari bulan Februari, menurut laporan OPEC bulan lalu. Irak dan Arab Saudi melakukan pengurangan terbesar karena ekspor yang terbatas










