Israel Pusing, Senjatanya Terlalu Canggih untuk Cegat Drone Murah Hizbullah

Israel Pusing, Senjatanya Terlalu Canggih untuk Cegat Drone Murah Hizbullah

Terkini | inews | Selasa, 5 Mei 2026 - 06:38
share

TEL AVIV, iNews.id - Militer Israel menghadapi dilema besar di medan perang, sistem pertahanan udara mereka yang supercanggih justru tidak efektif menghadapi drone murah milik Hizbullah.

Ketimpangan ini membuat Israel pusing, bahkan panik, karena harus menggunakan teknologi mahal untuk menghadapi ancaman berbiaya rendah.

Drone serat optik Hizbullah kini menjadi mimpi buruk baru. Selain sulit dideteksi, biaya penghancurannya jauh lebih mahal dibandingkan harga pembuatannya. Kondisi ini membuat strategi pertahanan Israel menjadi tidak efisien dan berkelanjutan dalam jangka panjang.

Dalam konflik di Lebanon selatan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi dua tentaranya serta satu kontraktor sipil tewas akibat serangan drone dalam waktu kurang dari dua pekan. 

Sementara jumlah korban luka terus bertambah, menandakan efektivitas tinggi senjata sederhana tersebut.

Menurut analis Institut Studi Keamanan Nasional Israel, salah satu masalah utama adalah Israel tidak mempersiapkan diri menghadapi ancaman berteknologi rendah. Sistem pertahanan yang dirancang untuk menghadapi rudal dan drone canggih justru kesulitan menghadapi perangkat kecil, murah, dan sederhana.

Drone Hizbullah menggunakan teknologi yang tidak biasa. Alih-alih mengandalkan sinyal GPS atau radio seperti drone modern, perangkat ini dikendalikan melalui kabel serat optik yang terhubung langsung ke operator di darat hingga puluhan kilometer. Akibatnya, drone tidak memancarkan sinyal elektronik yang bisa dilacak atau dijamming.

Pakar keamanan Arie Aviram menjelaskan, karena tidak menggunakan transmisi radio, drone ini tidak dapat dideteksi oleh sistem intelijen elektronik maupun dilumpuhkan melalui peperangan elektronik. Kondisi ini memaksa pasukan Israel hanya mengandalkan radar atau pengamatan visual, yang seringkali terlambat.

Selain sulit dicegat, drone ini juga sangat murah. Biaya perakitannya hanya berkisar ratusan hingga sekitar 4.000 dolar AS, tergantung kualitas komponen. Sebaliknya, sistem pertahanan udara Israel dan jet tempur yang digunakan untuk mencegat target bernilai jauh lebih mahal.

Fenomena ini menjadi contoh nyata peperangan asimetris, di mana pihak dengan sumber daya terbatas mampu menekan lawan yang memiliki teknologi lebih maju. Hizbullah juga dinilai berhasil beradaptasi dengan cepat, beralih dari serangan roket ke penggunaan drone yang lebih presisi dan sulit ditangkal.

Hizbullah mengakui strategi tersebut. Mereka menyadari keunggulan militer Israel, namun secara aktif mengeksploitasi celah yang ada. Drone murah berbasis serat optik menjadi senjata efektif untuk menyeimbangkan kekuatan di medan perang.

Kepala media Hizbullah, Youssef Al Zein, mengatakan kelompoknya menggunakan drone tersebut yang diproduksi di Lebanon.

“Kami menyadari keunggulan musuh, tapi pada saat yang sama kami mengeksploitasi titik lemahnya,” ujarnya.

Topik Menarik