Hampir 40.000 Pasukan dan Belasan Kapal Perang AS Siaga di Timur Tengah, Siap Serang Iran
LONDON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) menempatkan belasaan kapal perang serta hampir 40.000 personel di Timur Tengah, di tengah meningkatnya spekulasi serangan ke Iran, demikian laporan surat kabar Inggris, Financial Times (FT).
Di udara, setidaknya tujuh sayap tempur, masing-masing terdiri atas sekitar 70 pesawat, juga siaga di Timur Tengah.
Amerika Serikat telah memiliki lima sayap udara di pangkalan Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA,) serta menambahkan dua sayap udara lagi yakni di kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R Ford.
Mengutip data Universitas Tel Aviv, FT melaporkan pangkalan militer AS di Yordania, Muwaffaq Salti, menampung setidaknya 66 jet tempur, terdiri atas 18 unit F-35, 17 unit F-15, dan 8 unit A-10. Selain itu ada pula pesawat perang elektronik EA-18 serta pesawat angkut.
Data satelit juga menunjukkan peningkatan jumlah jet tempur di pangkalan udara Arab Saudi.
Mahasiswa MNC University Inisiasi Leadership Youth Summit 3.0, Dorong Pemuda Jadi Pemimpin Visioner
Spekulasi serangan AS ke Iran semakin meningkat. Trump pekan lalu mengatakan kemungkinan akan memerintahkan serangan terbatas ke negara itu jika tidak tercapai kesepakatan dalam negosiasi nuklir. Dia bahkan memberi waktu Iran 15 hari.
Dua sumber pejabat AS mengatakan kepada Reuters pekan lalu, dari beberapa opsi serangan, individu berpengaruh Iran akan menjadi target dengan tujuan menggulingkan rezim saat ini.
Serangan hanya tinggal menunggu lampu hijau dari Trump. Seluruh perangkat militer sudah dalam posisinya untuk memulai operasi kapan pun.
Namun sumber pejabat tersebut tidak memberikan penjelasan lebih rinci, siapa tokoh Iran yang akan menjadi target serangan, selain keterlibatan mereka di militer. Mereka juga tidak menjelaskan bagaimana AS melakukan penggulingan rezim tanpa skenario serangan darat yang masif.
Salah satu sumber pejabat itu AS mencatat, keberhasilan Israel dalam menargetkan para pemimpin Iran selama perang 12 hari tahun lalu. Saat itu setidaknya 20 komandan senior Iran tewas, termasuk Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Mohammad Bagheri.
"Perang 12 hari dan serangan Israel terhadap target individu benar-benar menunjukkan kegunaan pendekatan itu," kata pejabat AS tersebut, seraya menambahkan fokusnya adalah mereka yang terlibat dalam komando dan kendali pasukan IRGC.










