Selain Air, Biosida Pendingin Data Center Purwakarta Bisa Jadi Ancaman

Selain Air, Biosida Pendingin Data Center Purwakarta Bisa Jadi Ancaman

Teknologi | sindonews | Minggu, 4 Oktober 2026 - 18:56
share

Baru saja diresmikan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, akhirnya KDM menghentikan sementara pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta.

Penyebabnya, BDX Data Centers sebagai pihak yang membangun proyek tersebut belum mengantongi analisis dampak lingkungan (AMDAL) dan persetujuan bangunan gedung (PBG).

Dikatakan Dedi, proyek pembangunan pusat data AI jangan dulu dimulai sebelum ada dokumen AMDAL dan PBG. Ketiadaan dua dokumen tersebut berpotensi menimbulkan masalah dalam pembangunan proyek

Namun lepas perihal perizinan soal pendirian data center perlu banyak pertimbanga , selaim air merupakan salah satu sumber daya paling vital dalam kehidupan manusia; air digunakan setiap hari untuk minum, memasak, kebersihan diri, kegiatan bersih-bersih, dan berbagai aktivitas lainnya.

Namun, di luar perannya dalam rutinitas sehari-hari, kini air memegang peranan krusial dalam kemajuan teknologi modern dengan berfungsi sebagai media pendingin bagi mesin dan server yang ditempatkan di pusat data kecerdasan buatan (AI).

Di balik kemampuan chatbot untuk menjawab pertanyaan dalam hitungan detik atau kapasitas model AI untuk menghasilkan gambar dan video, terdapat jaringan pusat data raksasa yang membutuhkan pasokan listrik dan air dalam jumlah besar untuk beroperasi.

Meskipun sebuah kueri AI mungkin tampak sepele di layar ponsel, proses tersebut bergantung pada pusat data yang bekerja tanpa henti di latar belakang.Diperkirakan bahwa sesi interaksi selama 30 menit dengan AI mengonsumsi sekitar 600 mililiter air—setara dengan satu botol air mineral ukuran standar.

Operasional pusat data di Malaysia diperkirakan membutuhkan pasokan air sekitar 70.000 liter per hari untuk setiap megawatt kapasitas operasional.

Ribuan server berbasis AI menghasilkan panas yang sangat besar selama operasi sehari-hari dan memerlukan pendinginan terus-menerus.

Meningkatnya penggunaan AI secara tidak langsung menimbulkan kekhawatiran mengenai tekanan terhadap sumber daya air, terutama di wilayah yang sering dilanda kekeringan.

Salah satu metodenya melibatkan sistem "direct-to-chip" (langsung ke cip), di mana pipa-pipa kecil yang membawa air dingin mengalirkan cairan tersebut langsung ke pelat logam (*cold plate*) yang terpasang pada cip GPU AI.

Kebutuhan air pusat data AI bervariasi tergantung pada sistem atau teknologi spesifik yang digunakan.Air tersebut menyerap panas dari cip, menjadi hangat, dan mengalir ke sistem penampungan untuk didinginkan kembali dalam sirkuit tertutup.

Terdapat pula metode pendinginan rendam (*immersion cooling*), di mana seluruh server AI direndam langsung ke dalam tangki berisi cairan khusus (cairan dielektrik yang tidak menghantarkan listrik).

Menurut *Knowable Magazine*, pertanyaan mengenai seberapa banyak air yang sebenarnya dikonsumsi oleh pusat data AI tidak mudah dijawab, karena tingkat penggunaannya bervariasi tergantung pada lokasi, desain pusat data, sistem pendingin, dan sumber listrik yang digunakan.

“Perusahaan teknologi juga tidak mengungkapkan data rinci penggunaan air untuk setiap pusat operasional mereka demi melindungi informasi pribadi,” demikian catatan publikasi tersebut.

Air umumnya digunakan secara langsung di pusat data untuk mendinginkan server yang menghasilkan panas tinggi.

Pada saat yang sama, air juga digunakan secara tidak langsung dalam proses pembangkitan listrik yang menggerakkan pusat-pusat data ini.Pelatihan model bahasa berskala besar (large language models) membutuhkan daya pemrosesan yang sangat besar, sementara penggunaan sehari-hari oleh jutaan pengguna memberikan beban tambahan pada server.

Semakin banyak kueri, gambar, atau konten digital yang dihasilkan, semakin besar pula tuntutan terhadap infrastruktur komputasi yang mendasarinya.

Membangun pusat data di wilayah dengan pasokan air yang melimpah mungkin memiliki dampak yang berbeda dibandingkan dengan membangunnya di lingkungan yang sering mengalami kelangkaan air.

Keputusan mengenai lokasi, desain, dan teknologi pendingin merupakan faktor krusial dalam menentukan sejauh mana operasional pusat data membebani masyarakat setempat dan lingkungan.

Tantangan utamanya terletak pada upaya menyeimbangkan kemajuan teknologi dengan keberlanjutan sumber daya agar keselamatan dan kesehatan manusia tidak terancam.

Kualitas air juga harus dijaga; kandungan mineral dalam air dapat menyebabkan pembentukan kerak pada pipa atau pelat logam cip, sementara bakteri dapat memicu korosi, yang pada akhirnya mengurangi efisiensi pendinginan dan merusak server. Pencemaran lingkungan akibat pembuangan air limbah juga menjadi tantangan besar dalam operasional pusat data AI.Untuk memastikan sistem pendingin beroperasi secara efisien dan tanpa gangguan, air yang bersirkulasi di dalam infrastruktur server harus diberi perlakuan menggunakan bahan kimia khusus, seperti biosida dan penghambat korosi.

Zat-zat ini sangat penting untuk mencegah pertumbuhan alga dan bakteri, serta melindungi struktur pipa besi dari korosi.

Pada akhirnya, air bekas pakai ini dibuang sebagai air limbah bersuhu tinggi yang mengandung bahan kimia berbahaya.

Jika air limbah ini dibuang langsung ke sistem drainase tanpa pengolahan yang memadai, hal tersebut tidak hanya mencemari sumber air bersih tetapi juga dapat menyebabkan kerusakan serius pada ekosistem perairan.

Namun, tidak semua pusat data mengonsumsi air dalam jumlah yang sama, karena beberapa operator menggunakan sistem pendingin berbasis udara, teknologi yang tidak terlalu bergantung pada air bersih, atau metode daur ulang air untuk tujuan tersebut.

Oleh karena itu, memahami dampak penggunaan air sangatlah penting untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi di masa depan tidak hanya menjadi lebih cerdas, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan secara bertanggung jawab

Topik Menarik