Antipasi Banjir, Normalisasi Sungai dan Perbaikan Tanggul di Aceh Dipercepat

Antipasi Banjir, Normalisasi Sungai dan Perbaikan Tanggul di Aceh Dipercepat

Nasional | sindonews | Sabtu, 7 November 2026 - 14:59
share

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melakukan normalisasi sungai serta memperbaiki tanggul untuk pemulihan serta memitigasi risiko banjir susulan di sejumlah wilayah yang terdampak di Aceh. Melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I, penanganan darurat difokuskan pada lima wilayah utama, yakni Kabupaten Aceh Tenggara, Gayo Lues, Aceh Utara, Nagan Raya, dan Pidie Jaya.

Menteri PU, Dody Hanggodo mengatakan, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, penanganan bencana yang dilaksanakan harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. Menteri Dody menegaskan, agar penanganan bencana tidak hanya berorientasi pada pemulihan kondisi setelah bencana, tetapi juga harus memperkuat ketahanan infrastruktur untuk menghadapi potensi berikutnya. Baca juga:Normalisasi Kali Ciliwung: Pemprov DKI Jakarta Urus Pembebasan Lahan, Pemerintah Pusat Bikin Tanggul

“Pekerjaan masih terus kita lanjutkan. Saat ini jajaran Sumber Daya Air melakukan pembersihan sungai dan muara untuk memperlancar aliran air serta mengurangi risiko terjadinya banjir susulan,” kata Menteri Dody, Sabtu (7/11/2026).

Kepala BWS Sumatera I, Asyari mengatakan pihaknya terus meningkatkan kesiapsiagaan serta merespons secara cepat setiap kejadian bencana banjir di seluruh kabupaten/kota di Aceh. Selain penanganan darurat, langkah selanjutnya difokuskan pada percepatan penanganan permanen.

“Upaya ini dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengurangi risiko bencana, meningkatkan perlindungan masyarakat, serta mewujudkan infrastruktur sumber daya air yang lebih tangguh dan berkelanjutan,” ujarnya.Hingga 4 November 2026, pengerjaan di Aceh Tenggara difokuskan pada upaya pencegahan luapan susulan Sungai Lawe Bulan dan Lawe Kihing dengan mengerahkan satu unit excavator untuk melakukan normalisasi alur serta penguatan tanggul sungai di Desa Kuning I. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan dengan berfokus pada pengerukan sedimen dan perapian alur di Desa Pinding, Kecamatan Bambel, agar debit air dari hulu tidak lagi mengancam kawasan pertanian dan perumahan warga setempat.

Penanganan juga berlangsung di Gayo Lues pascabanjir yang sempat memutus akses antardesa. Selama periode 3-4 November 2026, satu unit eskavator dioperasikan secara konsisten untuk melakukan normalisasi alur dan perbaikan tanggul Sungai Pangur yang melintasi Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang, tepatnya di sekitar ruas jalan RSUD Gayo Lues. Penanganan benteng sungai ini untuk menutup celah tanggul yang tergerus arus deras agar aliran air dapat tertampung sempurna di alur utama.

Di Kabupaten Aceh Utara, fokus pekerjaan diarahkan pada penanganan dampak meluapnya Sungai Peuto dan rusaknya infrastruktur pintu air yang sempat merendam rumah warga serta badan jalan Lhoksukon–Cot Girek. Pada 3-4 November 2026, Tim Satgas menempatkan satu unit alat berat jenis Komatsu untuk memacu pembersihan serta normalisasi saluran pembuangan di Kecamatan Syamtalira Aron. Pengerjaan yang berlangsung dari titik STA 3+200 hingga STA 3+260 di kawasan Kr. Pase tersebut bertujuan untuk mempercepat aliran buangan air genangan dari kawasan permukiman menuju muara.

Percepatan serupa juga dilakukan di Kabupaten Nagan Raya guna mengantisipasi ancaman abrasi tebing sungai yang kian mendekati perumahan di Desa Pulo Raga dan Desa Krueng Cut, Kecamatan Beutong. Pada 3 dan 4 November 2026, alat berat excavator dikerahkan untuk membangun tanggul darurat sekaligus menormalisasi alur Sungai Krueng Seunagan di Desa Krueng Cut yang berbatasan dengan jalur lintas Meulaboh–Beutong. Langkah ini efektif mengalihkan tekanan arus kuat dari tebing yang dalam kondisi kritis. Baca juga:Pascabanjir di Gayo Lues, Akses Jalan Pining-Lokop Kembali Dapat Dilewati

Adapun di Kabupaten Pidie Jaya, pengerjaan fisik ditingkatkan dengan pengerahan dua unit eskavator secara simultan di Desa Dayah Husen, Kecamatan Meurah Dua, pada 3 dan 4 November 2026. Alat berat tersebut difokuskan untuk mempercepat perbaikan tanggul jebol serta merapikan alur Krueng Meureudu pascabanjir luapan akhir Oktober lalu yang sempat melumpuhkan Jalan Nasional Banda Aceh–Medan. Dengan perbaikan ini, alur sungai diharapkan mampu menampung peningkatan debit air tanpa kembali meluap ke ruas jalan vital maupun gampong di sekitarnya.

Kementerian PU berkomitmen untuk terus bersiaga 24 jam bersama BPBD, TNI, Polri, dan pemerintah daerah setempat. Selain menempatkan alat berat di lokasi-lokasi rawan, Kementerian PU melalui BWS Sumatera I juga terus memantau perkembangan Tinggi Muka Air (TMA) serta menyiapkan bahan banjiran seperti geobag dan sandbag guna mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan di wilayah hulu.

Topik Menarik