Rekor Baru, Utang Negara-negara Berkembang Tembus Rp107 Kuadriliun

Rekor Baru, Utang Negara-negara Berkembang Tembus Rp107 Kuadriliun

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 6 November 2026 - 07:58
share

Bank Dunia (World Bank) melaporkan total utang eksternal negara-negara berkembang berpendapatan rendah dan menengah mencapai rekor USD9,4 triliun pada 2025 atau setara Rp107 kuadriliun, meningkat 5,5 dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut menjadi yang tercepat sejak 2021 dan memperbesar tekanan pembayaran utang, terutama bagi negara-negara miskin yang harus menghadapi biaya pinjaman semakin mahal.

"Kembalinya pinjaman swasta ke negara-negara berpendapatan rendah dan menengah merupakan perkembangan positif, tetapi negara-negara tersebut meminjam lebih banyak, membayar lebih mahal, dan dalam banyak kasus memiliki lebih sedikit anggaran untuk pembangunan jangka panjang," kata Kepala Statistik Grup Bank Dunia Haishan Fu dalam laporan International Debt Report 2026 yang dirilis Kamis (5/11).

Baca Juga:Utang Pemerintah Dekati Rp11.000 Triliun, Beban APBN Kian Berat

Bank Dunia menyebutkan peningkatan utang tersebut terutama didorong kembali terbukanya akses pembiayaan swasta dan pasar obligasi internasional bagi negara berkembang. Penerbitan obligasi oleh entitas publik meningkat hampir 35 menjadi USD251 miliar, tertinggi dalam lima tahun terakhir, seiring pemerintah berbagai negara menerbitkan surat utang baru untuk membiayai kembali utang yang segera jatuh tempo.

Namun, akses pembiayaan yang semakin terbuka tidak diikuti penurunan biaya pinjaman. Negara-negara termiskin yang memenuhi syarat memperoleh pembiayaan konsesional melalui International Development Association (IDA) harus membayar rata-rata bunga 8,2 untuk komitmen pinjaman baru dari kreditur swasta pada 2025, tertinggi sejak 1989. Sementara itu, tingkat bunga obligasi baru mereka mencapai rata-rata 9,4.

Tekanan utang paling besar dialami negara-negara yang memenuhi syarat pembiayaan IDA, dengan total utang eksternal meningkat 8,1 menjadi USD1,3 triliun. Di sisi lain, negara-negara yang hanya memenuhi syarat pinjaman nonkonsesional melalui International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) membayar rata-rata bunga obligasi baru sebesar 5,5, turun dari 5,8 pada 2024.Mengutip Reuters, beban pembayaran utang juga terus meningkat. Negara-negara berpendapatan rendah dan menengah secara keseluruhan membayar USD1,4 triliun untuk pokok dan bunga utang sepanjang 2025, naik 1,9 sekaligus menjadi peningkatan tahunan kelima berturut-turut. Pembayaran kepada kreditur swasta meningkat 13,7 menjadi USD363 miliar.

Baca Juga:Media Asing Soroti Pengerahan 20.980 Tentara ke Jakarta setelah 3 Jenderal Polisi Ditangkap

Secara akumulatif, sepanjang 2022 hingga 2025, negara-negara berkembang membayar USD436 miliar lebih banyak untuk pelayanan utang dibandingkan pembiayaan baru yang diterima. Meski demikian, pada 2025 arus pembiayaan utang jangka panjang berbalik mencatatkan arus masuk bersih USD45 miliar, setelah mengalami arus keluar bersih USD118 miliar pada 2024.

Bank Dunia juga mencatat pelemahan dolar AS turut memengaruhi peningkatan nilai utang yang dilaporkan. Lebih dari seperempat kenaikan USD303 miliar pada utang publik dan utang yang dijamin pemerintah berasal dari efek nilai tukar tersebut, karena pelemahan dolar meningkatkan nilai utang dalam mata uang lain ketika dikonversi ke dolar AS. Lembaga itu sekaligus mengingatkan bahwa tingginya beban utang berisiko mengurangi anggaran untuk pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja, sehingga mendesak peningkatan transparansi pengelolaan utang dan keterbukaan informasi pembiayaan.

Topik Menarik