Layar Digital dan Imajinasi Sosial
Adi Harnowo Peminat Dinamika Sosial Kemasyarakatan
ADA pemandangan menarik dalam kehidupan masyarakat Indonesia beberapa tahun terakhir. Percakapan tentang hiburan tidak lagi hanya berkisar pada sinetron, film lokal, atau tayangan televisi nasional. Di ruang keluarga, warung kopi, kantor, kampus, hingga percakapan grup WhatsApp, drama Korea dan drama China semakin sering menjadi bahan pembicaraan.
Sebagian orang rela begadang demi mengikuti episode terbaru. Tidak sedikit pula yang menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton serial secara maraton. Bahkan, tokoh, gaya berpakaian, makanan, tempat wisata, hingga kebiasaan hidup yang ditampilkan dalam drama tersebut perlahan menjadi bagian dari percakapan dan referensi gaya hidup masyarakat.
Fenomena ini bukan sekadar urusan hiburan. Ada perubahan sosial yang menarik di balik semakin digemarinya drama Korea (drakor) dan drama China (dracin). Keduanya memperlihatkan bagaimana budaya populer lintas negara dapat memengaruhi selera, perilaku konsumsi, imajinasi, bahkan cara masyarakat memandang kehidupan.
Popularitas drama Asia di Indonesia bukan sekadar kesan yang muncul di media sosial. Sejumlah survei menunjukkan kecenderungan tersebut. Survei KedaiKOPI pada 14–19 Oktober 2025 terhadap 932 responden menunjukkan bahwa drama Asia menjadi jenis tayangan yang paling banyak ditonton masyarakat Indonesia, dengan proporsi 46,6 persen. Angka tersebut jauh di atas film Hollywood yang berada di posisi 17 persen dan pertandingan olahraga sebesar 10,1 persen.
Drama Asia dalam survei tersebut mencakup drama Korea, China, dan Jepang. Temuan ini memperlihatkan kuatnya posisi produk hiburan Asia dalam konsumsi media masyarakat Indonesia.
Sementara itu, laporan Jakpat bertajuk Indonesia Mobile Entertainment & Social Media Trends 2025, berdasarkan survei terhadap 2.240 responden pada 25 November hingga 3 Desember 2025, menunjukkan bahwa konten Korea Selatan menjadi pilihan paling populer di platform streaming dengan angka 64 persen. Konten Indonesia menyusul dengan 47 persen, Amerika Serikat 41 persen, dan China mencapai 31 persen.
Angka tersebut menunjukkan bahwa drama dan film China mulai memiliki ruang tersendiri dalam persaingan hiburan digital Indonesia. Meskipun belum menyamai popularitas Korea, capaian 31 persen merupakan sinyal bahwa penonton Indonesia semakin terbuka terhadap produksi hiburan dari China.
Temuan lain dari Kantar (November 2023) juga memperlihatkan bahwa 57 persen pengguna layanan streaming atau over-the-top (OTT) di Indonesia memilih konten Korea sebagai salah satu genre favorit. Sementara itu, konten China dipilih oleh 11 persen responden. Secara umum, keduanya memperlihatkan besarnya daya tarik budaya hiburan Asia.Mengapa masyarakat begitu menyukai drakor dan dracin?. Salah satu jawabannya dapat dijelaskan melalui teori uses and gratifications yang diperkenalkan Elihu Katz, Jay G. Blumler, dan Michael Gurevitch. Teori ini menjelaskan bahwa masyarakat bukan sekadar penerima pasif media. Mereka secara aktif memilih tayangan berdasarkan kebutuhan dan kepuasan yang ingin diperoleh.
Dalam kehidupan yang semakin padat, penuh tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, dan persoalan rumah tangga, hiburan menjadi salah satu cara masyarakat memperoleh jeda psikologis. Drama Korea menawarkan kisah percintaan, persahabatan, perjuangan karier, hubungan keluarga, hingga konflik kehidupan yang dikemas secara emosional.
Sementara drama China sering menghadirkan cerita romansa, sejarah kerajaan, dunia persilatan, fantasi, dan perjalanan hidup tokoh yang penuh kejutan. Penonton tidak hanya mencari jalan cerita. Mereka juga mencari pengalaman emosional: tertawa, menangis, berharap, jatuh cinta, atau sekadar melupakan persoalan sehari-hari.
Dalam perspektif sosiologi, hal ini dapat dibaca sebagai bentuk escapism, yakni kecenderungan mencari pelarian sementara dari tekanan realitas melalui dunia hiburan. Bukan berarti masyarakat kehilangan kepedulian terhadap kehidupan nyata. Justru, ketika kehidupan sehari-hari semakin kompleks, kebutuhan terhadap hiburan yang memberikan kenyamanan emosional menjadi semakin besar.
Cultural ProximityPopularitas drakor dan dracin juga dapat dijelaskan melalui konsep cultural proximity (kedekatan budaya) yang dikembangkan Joseph D. Straubhaar. Konsep ini menjelaskan bahwa masyarakat cenderung menyukai produk budaya yang memiliki sejumlah kesamaan dengan latar belakang sosial dan budaya mereka.
Korea dan China, misalnya, memiliki sejumlah nilai yang relatif mudah dikenali oleh masyarakat Indonesia. Penghormatan kepada orang tua, ikatan keluarga, perjuangan memperoleh kehidupan lebih baik, kesetiaan, persahabatan, dan hubungan antargenerasi merupakan tema yang juga akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Kedekatan tersebut membuat penonton lebih mudah memahami konflik dan emosi yang ditampilkan.
Namun, kedekatan budaya bukan satu-satunya faktor. Drama Korea dan China juga menawarkan sesuatu yang berbeda: standar produksi yang menarik, tata visual yang kuat, lokasi yang indah, musik yang mendukung suasana, serta karakter yang dibangun secara terencana.
Kombinasi antara nilai yang terasa akrab dan tampilan kehidupan yang berbeda inilah yang menciptakan daya tarik. Penonton merasa dekat dengan persoalan tokohnya, tetapi sekaligus diajak memasuki dunia yang belum tentu pernah mereka alami.Pengaruh drama Korea dan China tidak berhenti pada layar telepon genggam atau televisi. Ia merembet ke berbagai sektor kehidupan. Gaya berpakaian, kosmetik, model rambut, makanan, bahasa, hingga destinasi wisata ikut memperoleh perhatian. Produk yang dikenakan tokoh dalam drama dapat menjadi inspirasi belanja. Makanan yang muncul dalam adegan tertentu bisa memancing rasa ingin tahu untuk mencicipinya.
Di sinilah budaya populer bertemu dengan industri ekonomi. Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui konsep soft power yang diperkenalkan Joseph S. Nye. Soft power merupakan kemampuan suatu negara memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan citra, bukan melalui tekanan atau kekuatan militer.
Korea Selatan merupakan contoh menarik. Melalui gelombang budaya Korea atau Korean Wave, yang dikenal sebagai Hallyu, negara tersebut berhasil memperluas pengaruhnya melalui musik, drama, film, kuliner, kosmetik, dan industri kreatif.
Ketika seseorang menyukai drama Korea, ketertarikannya dapat berkembang menjadi keinginan mempelajari bahasa Korea, mencoba makanan Korea, menggunakan produk kecantikan Korea, bahkan berkunjung ke Seoul.
Dengan demikian, drama bukan hanya produk hiburan. Ia menjadi pintu masuk bagi penyebaran budaya sekaligus aktivitas ekonomi.
Pola serupa juga mulai terlihat pada drama China. Popularitas cerita kerajaan, sejarah, fantasi, dan romansa turut memperkenalkan bahasa Mandarin, kebudayaan tradisional, busana, kuliner, serta lanskap wisata Tiongkok kepada penonton Indonesia.
Kerja AlgoritmaAda faktor lain yang membuat popularitas drakor dan dracin semakin kuat, yakni perkembangan teknologi digital. Jika dahulu masyarakat harus menunggu jadwal tayang televisi, sekarang mereka dapat memilih sendiri tayangan melalui Netflix, Viu, iQIYI, WeTV, dan berbagai platform lainnya.
Kemudahan ini diperkuat algoritma digital yang merekomendasikan tayangan berdasarkan riwayat tontonan dan ketertarikan pengguna. Akibatnya, seseorang yang sekali menonton drama Korea atau China berpotensi terus mendapatkan rekomendasi tayangan sejenis. Konsumsi hiburan pun menjadi semakin intensif.Di sisi lain, media sosial menciptakan komunitas penggemar yang aktif. Mereka berbagi potongan adegan, membicarakan karakter, membuat ulasan, menyebarkan informasi aktor favorit, hingga memperdebatkan akhir cerita. Fenomena ini menunjukkan bahwa penonton tidak lagi hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen percakapan budaya.
Kajian Putri dan Purwadi (jurnal INJECT, 2025) menganalisis 85.840 komentar dari 720 video YouTube terkait drama Korea. Penelitian tersebut menemukan empat kelompok besar percakapan, yakni drama sebagai hiburan, representasi budaya dan persoalan sosial, hubungan personal dan dinamika keluarga, serta reaksi sosial dan martabat nasional.
Temuan ini menarik. Artinya, penonton tidak hanya membicarakan jalan cerita, tetapi juga menggunakan drama sebagai ruang untuk menilai kehidupan, membandingkan kebudayaan, dan mengekspresikan identitas sosial.
Inspirasi dan IlusiMeski membawa banyak manfaat, popularitas drama asing juga perlu dibaca secara kritis. Drama merupakan karya fiksi yang menghadirkan kehidupan melalui pilihan cerita, penyuntingan, dan konstruksi visual. Kehidupan yang terlihat indah di layar tidak selalu mencerminkan kenyataan masyarakat negara asalnya.
Kantor yang nyaman, hubungan percintaan yang romantis, kehidupan perkotaan yang tertata, atau kemewahan yang diperlihatkan dalam drama bukan gambaran lengkap realitas sosial Korea maupun China.
Di sinilah teori pembelajaran sosial (social learning theory) dari Albert Bandura menjadi relevan. Teori ini menjelaskan bahwa seseorang dapat mempelajari perilaku, nilai, dan pola tindakan dengan mengamati orang lain, termasuk tokoh yang ditampilkan media. Ketika tokoh idola memperlihatkan gaya hidup tertentu, penonton dapat terdorong untuk meniru atau menjadikannya sebagai referensi.
Proses tersebut tidak selalu negatif. Masyarakat bisa memperoleh inspirasi tentang kedisiplinan, etos kerja, keberanian menghadapi masalah, penghormatan kepada keluarga, dan pentingnya pendidikan.
Namun, peniruan tanpa sikap kritis juga berpotensi melahirkan standar kecantikan yang tidak realistis, perilaku konsumtif, romantisasi hubungan yang tidak sehat, serta ekspektasi berlebihan terhadap kehidupan percintaan.Tantangannya bukan melarang masyarakat menikmati budaya asing, melainkan membangun kemampuan memilah dan memahami pesan yang dikonsumsi.Tantangan Industri Kreatif IndonesiaMeningkatnya popularitas drakor dan dracin seharusnya tidak hanya dilihat sebagai ancaman bagi industri hiburan nasional. Fenomena ini justru dapat menjadi bahan pembelajaran.
Data Jakpat (2025) yang mencatat konten Indonesia dipilih oleh 47 persen responden menunjukkan bahwa produk lokal tetap memiliki daya tarik besar. Bahkan, laporan Media Partners Asia melalui AMPD menyebutkan bahwa pada kuartal IV 2025, konten Indonesia untuk pertama kalinya menyamai konten Korea dalam pangsa penonton layanan streaming premium di Indonesia, masing-masing sekitar 30 persen.
Ini merupakan sinyal positif bahwa penonton Indonesia tidak menutup diri terhadap karya dalam negeri. Mereka justru memiliki selera yang semakin beragam dan standar kualitas yang semakin tinggi.
Industri kreatif nasional perlu belajar dari keberhasilan Korea dan China dalam membangun ekosistem produksi. Kekuatan sebuah drama bukan hanya terletak pada aktor terkenal, tetapi juga pada kualitas skenario, kedalaman karakter, konsistensi produksi, keberanian mengangkat persoalan sosial, dan kemampuan membangun cerita yang relevan dengan kehidupan penonton.
Indonesia sesungguhnya memiliki kekayaan cerita yang luar biasa. Tradisi lokal, sejarah kerajaan, kehidupan pesantren, dinamika masyarakat perkotaan, konflik antargenerasi, hingga kisah masyarakat desa dapat menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis. Persoalannya adalah bagaimana mengolah kekayaan tersebut menjadi cerita yang menarik, berkualitas, dan mampu menembus pasar internasional.
Fenomena drakor dan dracin memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia sedang mengalami perubahan dalam cara menikmati hiburan sekaligus berinteraksi dengan budaya global. Layar digital kini bukan sekadar tempat mencari tontonan. Ia telah menjadi ruang perjumpaan budaya, pembentukan identitas, konsumsi ekonomi, dan pertukaran nilai.
Kita tidak perlu mempertentangkan kecintaan terhadap budaya asing dengan kebanggaan terhadap budaya sendiri. Keterbukaan terhadap budaya luar justru dapat memperkaya wawasan, selama masyarakat tetap memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran akan identitasnya. Yang lebih penting, jangan sampai kita hanya menjadi penonton yang menikmati keberhasilan industri kreatif bangsa lain.
Sudah saatnya Indonesia tidak sekadar menjadi pasar bagi drama Korea dan China, tetapi juga membangun kekuatan produksi cerita sendiri. Bangsa yang mampu menceritakan kehidupannya sendiri dengan baik, sesungguhnya sedang membangun pengaruh budayanya di mata dunia.










