Menteri Riefky Ikut Bermain Sambelina Bareng Anak SD di Bogor

Menteri Riefky Ikut Bermain Sambelina Bareng Anak SD di Bogor

Nasional | sindonews | Rabu, 4 November 2026 - 20:30
share

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya ikut bermain bersama anak-anak SD di Aula Masjid Baiturrahman, Bojonggede, Bogor, Jawa Barat, Selasa (3/11/2026). Suasana di aula masjid tersebut mendadak riuh.

Di atas meja bertaplak putih, kartu-kartu bergambar sambal khas Indonesia berserakan. Anak-anak berseragam merah putih berebut menepuk kartu yang mereka incar.

Mereka sedang memainkan Sambelina, sebuah board game karya pengembang lokal Segara(dot)id. Aturannya sederhana: pemain harus mengumpulkan kartu sebanyak mungkin dengan gambar aneka sambal Nusantara.

Baca juga: Temui Guru SD Jadi TikToker, Menteri Riefky Resmikan Desa Kreatif di Kebumen

Namun, kesederhanaan itu justru membuat permainan semakin seru. Menteri Riefky pun ikut berebut kartu bersama anak-anak SDN Bambu Kuning Bojonggede.

Di meja permainan itu, gim tidak hanya menjadi urusan menang dan kalah. Anak-anak belajar berinteraksi, berkomunikasi, dan menyusun strategi bersama teman-temannya. Pengalaman bermain secara langsung seperti inilah yang ingin diperkenalkan melalui Gimersia Playday, salah satu rangkaian Aktivasi Desa Kreatif yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif di Bojonggede, Kabupaten Bogor, Selasa (3/11/2026).

Bagi Agustina Herbianti, guru SDN Bambu Kuning, permainan board game memberi alternatif bagi anak-anak yang selama ini akrab dengan gawai. “Sebetulnya lebih bagus karena game secara langsung, daripada anak pegang handphone terus. Jadi motorik mereka juga lebih berjalan,” ujarnya.Agustina berharap permainan semacam ini bisa membantu anak-anak membangun hubungan sosial yang lebih baik. Mereka berkumpul, berbicara, belajar bekerja sama, dan mengenali perasaan orang lain.

“Daripada mereka main game online, lebih bagus main seperti ini. Jadi mereka lebih berkumpul sama teman, lebih komunikasi, jiwa sosialnya bisa lebih tinggi, lebih punya empati sama orang lain,” tuturnya.

Gimersia Playday menghadirkan pengalaman bermain board game secara langsung bagi 150 peserta, dengan pendampingan 10 game master dari komunitas yang telah terlatih. Selain Sambelina, pengunjung juga dapat mencoba berbagai permainan lokal, seperti Kata Emak, Sekata, Waroong Wars, hingga Jinx-o karya Tabletoys.

Di balik meja-meja permainan itu, ada industri kreatif yang sedang berusaha memperluas ruang tumbuhnya. Segara(dot)id, salah satu pengembang yang terlibat, telah menjual lebih dari 11.000 unit permainan Kata Emak. Capaian tersebut menunjukkan bahwa permainan buatan Indonesia memiliki pasar di dalam negeri.

Nailys Syifa, Co-Founder Segara(dot)id, bercita-cita membawa produk mereka ke pasar internasional. Namun, untuk saat ini, mereka masih ingin memperkuat pasar domestik sekaligus mempelajari karakter konsumen di luar negeri. “Untuk mengikuti ke arah sana tentunya pasti ingin. Tapi untuk sekarang ini kami masih fokus di pasar lokal. Target kami mungkin tahun depan,” ungkapnya.

Menurut Syifa, pasar board game di Indonesia dan luar negeri memiliki karakter yang berbeda. Pemain di Indonesia cenderung menyukai permainan yang sederhana, mudah dipahami, dan tidak membutuhkan waktu terlalu lama.

Sementara itu, pasar internasional memiliki pilihan genre yang lebih beragam. Memahami perbedaan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah sebelum Segara(dot)id melangkah lebih jauh.Jika di aula masjid anak-anak sedang belajar mengenal permainan lokal, di sudut lain Bojonggede ada Wuri yang sedang merawat mimpi melalui sesuatu yang jauh lebih akrab di rumah: kue.

Usaha Oktacilla Cake and Bakery yang dirintis perempuan berusia 41 tahun ini bermula dari sebuah black forest yang dibuatnya untuk teman-teman semasa SMA. Tidak ada sekolah atau pendidikan khusus yang mengajarinya membuat kue. Semuanya berawal dari rasa ingin mencoba, lalu berkembang melalui pengalaman dan latihan sendiri.

Ingatan tentang kue itu terbawa hingga Wuri berumah tangga dan memiliki anak. Karena anaknya menyukai makanan manis, ia kembali membuat kue di rumah. Rupanya, bukan hanya anaknya yang menyukai hasil buatannya. Orang-orang di sekitarnya juga mulai memesan. Dari dapur kecil itulah Oktacilla Cake and Bakery perlahan tumbuh.

Perjalanan hampir satu dekade itu tentu tidak selalu manis. Pandemi COVID-19 menjadi salah satu masa sulit bagi usahanya. Penghasilan dari pesanan tidak menentu, tetapi Wuri berusaha tidak berhenti belajar.

Sebagian keuntungan yang diperoleh dari pesanan justru ia sisihkan untuk mengikuti kursus dan menambah keterampilan. “Saat ada corona, keuntungan dari orderan yang masuk saya kumpulkan untuk ikut kursus, untuk nambah ilmu,” tuturnya.

Uang hasil berjualan juga ia gunakan untuk membeli peralatan. Ia masih mengingat masa ketika harus meminjam perlengkapan milik orang lain untuk membuat kue. Kini, satu per satu peralatan yang dulu hanya bisa ia pinjam mulai dapat dimiliki sendiri.

Tetapi Wuri tahu, kemampuan membuat kue saja belum cukup untuk membawa usahanya berkembang. Selama ini, pemasaran masih banyak mengandalkan rekomendasi teman dan orang-orang terdekat. Ia pernah mencoba mempromosikan produknya melalui media sosial, tetapi belum menemukan cara yang benar-benar efektif. Mengikuti kursus pemasaran berbayar pun tidak selalu mudah karena membutuhkan biaya tambahan. Karena itu, kesempatan mengikuti program fasilitasi pendaftaran merek dari Kementerian Ekonomi Kreatif menjadi pengalaman penting baginya.

Memiliki identitas merek sendiri memberi kebanggaan sekaligus menambah kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha. Meski begitu, ia masih berharap ada lebih banyak pelatihan pemasaran dan dukungan yang dapat membantunya memperluas pasar.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyambut semangat Wuri. Ia mendorong pelaku usaha untuk segera mendaftarkan merek, sebab merek bukan sekadar nama atau penanda produk, lebih dari itu, merek adalah bagian utama dari aset usaha yang perlu dilindungi.

Kepemilikan merek juga dapat menjadi salah satu unsur pendukung ketika pelaku usaha mengajukan pembiayaan, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR). “Hari ini kami fasilitasi, segera daftarkan mereknya. Kalau sudah ada merek, nanti bisa diajukan untuk KUR,” ujar Riefky.

Kisah Wuri dan geliat industri board game lokal memperlihatkan wajah ekonomi kreatif yang tumbuh melalui jalur berbeda. Ada yang berangkat dari keterampilan membuat kue di dapur rumah, ada yang mengembangkan permainan untuk mempertemukan anak-anak, dan ada pula yang berusaha membawa karya lokal menuju pasar yang lebih luas. Semuanya membutuhkan ruang untuk belajar, kesempatan untuk berkembang, serta perlindungan agar karya dan produk yang dihasilkan memiliki nilai ekonomi.

Itulah yang coba dibangun melalui Aktivasi Desa Kreatif di Bojonggede. Kementerian Ekonomi Kreatif menghadirkan kolaborasi empat direktorat melalui sejumlah kegiatan, mulai dari Workshop Harmoni Seni Pertunjukan, Workshop Fotografi dan Penulisan, Showcase dan Playday Board Game, hingga Fasilitasi Pendaftaran Merek bagi pelaku ekonomi kreatif.

Workshop Fotografi dan Penulisan, misalnya, membekali 50 peserta dengan keterampilan memotret produk dan menyusun cerita untuk kebutuhan promosi. Melalui tema “Melihat, Mengenal, Bercerita”, pelaku kreatif diajak memahami bahwa sebuah produk tidak cukup hanya dibuat dengan baik. Produk juga perlu ditampilkan dan diceritakan secara menarik agar lebih mudah dikenal calon pembeli.Sementara itu, Workshop Harmoni Seni Pertunjukan diarahkan untuk memperkuat keterampilan artistik, mengeksplorasi potensi budaya lokal, serta mendorong kolaborasi antarpelaku seni. Adapun fasilitasi pendaftaran merek memberikan pendampingan bagi 50 pelaku ekonomi kreatif di Bojonggede dan sekitarnya untuk memahami serta melindungi identitas produk mereka.

Dalam sambutannya, Menteri Riefky menegaskan bahwa ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya tumbuh di kota-kota besar. Desa-desa memiliki kekayaan budaya, talenta, dan potensi lokal yang dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah ekonomi sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat.

Program Aktivasi Desa Kreatif, menurut dia, merupakan salah satu cara menerjemahkan arah pembangunan yang menempatkan desa sebagai bagian penting dari pemerataan ekonomi. Pelaku kreatif harus menjadi pusat pengembangan, jangan hanya penerima manfaat program.

“Kita ingin potensi lokal dan kreativitas masyarakat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Dari desa harus lahir produk kreatif unggulan, pelaku usaha yang semakin kuat, dan talenta-talenta yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga global,” ujar Riefky.

Ia berharap kegiatan di Bojonggede tidak berhenti menjadi pelatihan sehari. Pengetahuan yang diperoleh perlu diteruskan menjadi kolaborasi, komunitas, usaha, dan karya yang terus berkembang. Termasuk, tumbuhnya komunitas board game yang kelak dapat menghidupkan kegiatan seperti kafe permainan maupun usaha reseller di daerah.

“Jangan sampai kreativitas masyarakat desa hanya berhenti sebagai potensi yang kita ceritakan. Kita ingin potensi itu tumbuh menjadi karya, karya menjadi produk, dan produk membuka lapangan pekerjaan serta meningkatkan kesejahteraan. Inilah semangat kita, ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi,” kata Riefky.

Topik Menarik