Temui Guru SD Jadi TikToker, Menteri Riefky Resmikan Desa Kreatif di Kebumen

Temui Guru SD Jadi TikToker, Menteri Riefky Resmikan Desa Kreatif di Kebumen

Nasional | sindonews | Selasa, 3 November 2026 - 23:08
share

Rytha Sariedova sedang berdiri di depan ruangan ketika Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya tiba di Taman Reptil Adiluhur, Kebumen, Jawa Tengah. Mikrofon berada di tangannya. Begitu mengetahui sang menteri tiba, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai guru sekolah dasar itu segera menyambutnya.

Percakapan pun dimulai. Rytha bercerita tentang kegiatan workshop, para peserta yang hadir, hingga peluang menghasilkan uang dari aktivitas membuat konten di media sosial.

Baca juga: WCCE 2026 Angkat Fenomena Pacu Jalur, Indonesia Bidik Peluang Ekonomi Kreatif Global

Ia kemudian memperkenalkan beberapa peserta yang telah merasakan hasil dari pekerjaan tersebut. Membuat konten digital telah menjadi jalan untuk memperoleh penghasilan, bahkan membuka peluang usaha baru. Mendengar cerita itu, Riefky menyimak satu per satu. Obrolan sesekali diselingi pertanyaan tentang bagaimana para peserta memulai, mengembangkan konten, hingga menemukan peluang komersial dari platform digital.

Rytha sendiri sudah cukup lama ngonten, karena melihat banyak usaha kecil di Kebumen belum mendapatkan perhatian cukup. Melalui akun TikTok bernama kebumsky, ia mencoba memperkenalkan warung makan, pedagang kaki lima, kedai kopi, hingga berbagai produk lokal yang layak dikenal lebih luas.Mulanya, ia melakukannya tanpa bayaran. Ada kepuasan tersendiri ketika sebuah warung kecil mendapatkan pelanggan baru setelah videonya ditonton orang. Ia merekam makanan, menunjukkan lokasi berjualan, lalu mengunggahnya agar lebih banyak orang mengetahui keberadaan usaha tersebut.

Baca juga: Sri Mulyani Ajari Menteri Riefky Main Bundengan di Wonosobo

“Dulu awal-awal bikin sama sekali enggak dibayar. Memang murni buat promosi UMKM. Sekarang lumayan, in this economy, sangat membantu,” katanya kepada Menteri Ekraf, dikutip Selasa (3/11/2026).

Namun, perlahan, kegiatan itu berkembang menjadi pekerjaan sampingan yang menghasilkan. Pakaian yang dikenakannya saat mengikuti workshop hari itu, misalnya, merupakan salah satu produk dari toko fesyen Kebumen yang bekerja sama dengannya.

Media sosial telah membuka jalan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan. Ia bisa tetap menjalankan profesinya sebagai guru, sembari membantu memperkenalkan usaha masyarakat di sekitarnya. Apa yang dahulu dilakukan atas dasar kepedulian kini tumbuh menjadi sumber penghasilan sekaligus jaringan kerja baru.Di Desa Adiluhur, Menteri Ekraf juga berbincang dengan Totok Waluyatmoko. Jika Rytha menggunakan kamera ponsel untuk memperkenalkan produk orang lain, Totok menghabiskan banyak waktunya untuk mengembangkan satu produk yang membuatnya jatuh hati: kopi Liberika.

Perjalanannya benar-benar dimulai dari nol. Totok sebelumnya menghabiskan masa produktif sebagai fotografer di Jakarta. Ia tidak memiliki latar belakang pertanian ataupun pengetahuan khusus tentang pengolahan kopi. Namun, rasa penasarannya membuat ia terus belajar.

Ia bahkan bersedia menempuh perjalanan hingga 45 kilometer untuk mendatangi kebun kopi di wilayah Kebumen Utara, sementara tempat tinggalnya berada di bagian selatan. Dari sana, ia mulai mempelajari karakter biji, proses pengolahan, fermentasi, hingga teknik pengeringan. Sejak 2023, ia juga melakukan riset kecil-kecilan untuk memahami persoalan yang membuat Liberika belum banyak berkembang.

“Effort-nya luar biasa karena saya tidak tahu kopi sama sekali,” ujar Totok.

Dari penelusurannya, ia menemukan bahwa Liberika menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Rendemen atau hasil biji kopi setelah pengolahan relatif lebih rendah dibandingkan Arabika dan Robusta. Masa tunggu panennya juga panjang, bisa lebih dari empat tahun. Kondisi itu membuat sebagian petani kurang tertarik membudidayakannya.Totok pun menghadapi persoalan yang sama ketika mencoba mengembangkan usahanya. Keterbatasan bahan baku dan belum siapnya infrastruktur petani membuat rencana ekspor yang sempat ia jajaki harus ditunda. Ia akhirnya memilih membangun fondasi lebih dahulu, membina petani, dan memperbaiki standar pengolahan kopi.

Kualitas produk tidak bisa dibangun sendirian. Ada pekerjaan panjang yang harus dilakukan bersama petani, mulai dari memahami proses budidaya hingga memastikan setiap tahapan pengolahan dilakukan dengan benar.

Dua cerita itu memperlihatkan bagaimana ekonomi kreatif bisa tumbuh melalui jalan yang berbeda. Rytha mengandalkan kemampuan bercerita dan membaca peluang di ruang digital. Totok menekuni riset, pengolahan, dan pengembangan produk lokal. Keduanya berangkat dari rasa ingin tahu, lalu menemukan kemungkinan ekonomi dari sesuatu yang ada di sekitar mereka.

Potensi semacam itulah yang ingin dikembangkan Kementerian Ekonomi Kreatif melalui program Aktivasi Desa Kreatif di Desa Adiluhur. Dalam kunjungan tersebut, kementerian menghadirkan lima kegiatan untuk memperkuat keterampilan dan kapasitas masyarakat, mulai dari konten digital, penyiaran, jasa teknologi informasi dan komunikasi, literasi bisnis, hingga seni pertunjukan.

Melalui Workshop Konten Digital, sebanyak 50 peserta mendapatkan pembekalan mengenai pembuatan konten dan pemanfaatan platform digital untuk mempromosikan produk lokal. Sementara itu, program Xcelerator membekali 50 peserta dengan keterampilan olah vokal, artikulasi, public speaking, dan storytelling untuk mengembangkan talenta penyiaran serta produksi konten radio, televisi, dan podcast.Penguatan juga dilakukan melalui Workshop SIAP Talenta Jasa TIK yang mengangkat tema Strategi Professional Image Building dalam Bisnis. Para peserta diajak membangun kepercayaan konsumen melalui tampilan usaha, cara berkomunikasi, dan kualitas pelayanan. Di sisi lain, kegiatan Literasi Bisnis memberikan pemahaman mengenai penyusunan model bisnis, pengelolaan keuangan, dan akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif.Sementara itu, Workshop Harmoni Seni Pertunjukan diarahkan untuk meningkatkan kualitas karya, manajemen pertunjukan, pemasaran, dan monetisasi. Dengan begitu, seni dan budaya lokal tidak hanya terpelihara sebagai warisan, tetapi juga memiliki peluang berkembang menjadi kegiatan ekonomi yang melibatkan masyarakat.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, kekuatan ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya berada di kota-kota besar. Desa memiliki sumber daya, kekayaan budaya, kreativitas, dan potensi usaha yang dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi apabila didukung keterampilan, akses, serta ekosistem yang memadai.Menurut Riefky, pemerintah perlu memastikan masyarakat desa tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam mengembangkan potensi daerahnya. Karena itu, pelatihan perlu disertai pendampingan, penguatan jejaring, dan pembukaan akses pasar agar kreativitas dapat berkembang menjadi usaha yang berkelanjutan.

“Dari cerita Rytha dan Pak Totok kita belajar, kreativitas bisa tumbuh dari berbagai hal sederhana di sekitar kita. Ada yang memanfaatkan teknologi untuk membantu UMKM, ada yang mengembangkan produk lokal melalui riset dan inovasi. Potensi itu sudah ada. Tugas kita adalah membantu mereka meningkatkan kapasitas, membuka akses, dan menghubungkan karya mereka dengan pasar yang lebih luas,” ujar Riefky.

Ia berharap Aktivasi Desa Kreatif dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas, pelaku usaha, dan industri. Dengan dukungan tersebut, masyarakat desa diharapkan memiliki kemampuan untuk mengembangkan potensi lokal sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.

“Kita ingin desa menjadi tempat lahirnya produk dan karya kreatif, tempat tumbuhnya pelaku usaha, talenta, dan lapangan pekerjaan baru. Kreativitas masyarakat harus bisa menghasilkan nilai tambah, dan meningkatkan kesejahteraan. Inilah yang kita maksud ketika berbicara tentang mesin baru pertumbuhan ekonomi nasional yang dimulai dari daerah,” kata Riefky.en

Topik Menarik