7 Perusahaan Minyak yang Raup Cuan Besar di Tengah Perang Iran-Amerika, Labanya Tembus Rp2.000 Triliun
Konflik Iran dan Amerika Serikat tidak hanya memicu ketegangan geopolitik dan mengguncang pasar energi dunia. Di balik meningkatnya risiko perang di Timur Tengah, sejumlah perusahaan minyak dan gas justru menikmati keuntungan fantastis akibat lonjakan harga minyak dan terganggunya pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak mentah, gangguan distribusi melalui Selat Hormuz, serta meningkatnya permintaan energi alternatif menjadi berkah bagi perusahaan-perusahaan energi yang memiliki fasilitas produksi dan pengolahan di luar kawasan konflik.
Berdasarkan analisis terhadap 51 perusahaan minyak dan gas Amerika Serikat, total keuntungan mereka selama April hingga September 2026 dilaporkan mencapai lebih dari USD130 miliar atau sekitar Rp2.100 triliun.Lantas, perusahaan mana saja yang paling diuntungkan dari konflik Iran-Amerika?
1. ExxonMobil
7 Perusahaan Antre IPO BEI
Raksasa energi asal Amerika Serikat, ExxonMobil, menjadi salah satu perusahaan yang menikmati keuntungan dari kenaikan harga minyak dunia. Perusahaan ini memiliki aset produksi besar di Permian Basin, Amerika Serikat, serta Guyana. Keberadaan fasilitas produksi di luar kawasan konflik membuat ExxonMobil relatif lebih leluasa memanfaatkan kenaikan harga energi global. Pada kuartal II 2026, ExxonMobil membukukan laba bersih sekitar USD14,5 miliar.2. Chevron
Perusahaan minyak asal Amerika Serikat lainnya yang ikut menikmati keuntungan adalah Chevron. Kenaikan harga minyak dunia memberikan keuntungan tambahan bagi bisnis produksi minyak Chevron, terutama dari aset-aset strategisnya di Amerika Serikat dan Guyana. Pada kuartal II 2026, Chevron dilaporkan mencatat laba bersih sekitar USD12 miliar. Baca Juga: Perusahaan Minyak AS Cetak Uang Gila-gilaan di Tengah Perang, Laba Meroket Rp453 Triliun
3. BP
Perusahaan energi asal Inggris, BP, juga menjadi salah satu penerima keuntungan besar dari gejolak pasar energi. Pada kuartal III 2026, BP dilaporkan membukukan laba sekitar USD8,5 miliar. Angka tersebut menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan. Selain produksi minyak dan gas, bisnis pengolahan serta perdagangan energi turut memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan.
4. ShellShell menjadi perusahaan energi berikutnya yang menikmati perubahan harga energi dunia. Perusahaan yang berbasis di Inggris ini memiliki bisnis terintegrasi mulai dari eksplorasi minyak, produksi gas alam cair (LNG), pengolahan hingga perdagangan energi. Pada kuartal II 2026, Shell dilaporkan membukukan laba hampir USD10 miliar. Kenaikan harga energi dan perubahan pola perdagangan global menjadi faktor yang mendukung kinerja bisnisnya.
5. TotalEnergies
Perusahaan energi asal Prancis, TotalEnergies, juga mencatat peningkatan keuntungan di tengah gejolak geopolitik. Pada kuartal II 2026, laba perusahaan dilaporkan meningkat sekitar 67 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut ditopang oleh bisnis minyak, gas, LNG, serta pengolahan energi.
6. Saudi Aramco
Berbeda dengan perusahaan Amerika dan Eropa, Saudi Aramco merupakan raksasa minyak asal Arab Saudi yang beroperasi di kawasan Timur Tengah. Perusahaan ini tetap mencatat keuntungan sangat besar. Pada kuartal II 2026, laba bersih Saudi Aramco mencapai USD32,69 miliar atau meningkat sekitar 44 secara tahunan. Meski demikian, posisi geografis dan gangguan distribusi energi di kawasan Teluk membuat perusahaan ini juga menghadapi risiko operasional akibat konflik.7. Valero Energy dan Phillips 66
Keuntungan perang energi tidak hanya dinikmati perusahaan yang memproduksi minyak mentah. Perusahaan pengolahan minyak atau kilang justru menjadi salah satu pihak yang memperoleh keuntungan besar. Valero Energy dilaporkan membukukan laba sekitar USD6,83 miliar pada kuartal III 2026.
Sementara itu, Phillips 66 mencatat laba bersih sekitar USD5,62 miliar. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Meningkatnya margin pengolahan bahan bakar menjadi salah satu faktor yang mendukung kinerja kedua perusahaan tersebut. Baca Juga: Perang Iran Kuras 1 Miliar Barel Cadangan Minyak Dunia, Biaya Logistik Menggila
Perang Iran-Amerika Jadi Ladang Cuan Industri Energi
Lonjakan keuntungan perusahaan minyak tersebut memperlihatkan bagaimana konflik geopolitik dapat menciptakan keuntungan besar bagi sebagian pelaku industri energi. Setidaknya ada tiga faktor yang mendorong peningkatan keuntungan tersebut. Pertama, kenaikan harga minyak mentah dunia. Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, perusahaan yang memiliki produksi di luar kawasan konflik berpeluang menjual minyak dengan harga lebih tinggi.
Kedua, meningkatnya margin pengolahan bahan bakar. Gangguan pasokan bensin dan solar dapat meningkatkan keuntungan perusahaan yang memiliki fasilitas kilang di negara-negara relatif aman. Ketiga, perubahan perdagangan energi global. Ketidakpastian pasokan membuka peluang keuntungan bagi perusahaan yang bergerak dalam perdagangan minyak, gas alam cair, dan produk energi lainnya.
Fenomena ini memperlihatkan sisi lain dari konflik Iran-Amerika. Ketika negara-negara harus menghadapi ancaman krisis energi dan kenaikan biaya hidup, sejumlah perusahaan energi justru berpotensi mengantongi keuntungan fantastis. Namun, tidak semua perusahaan minyak otomatis diuntungkan. Perusahaan yang memiliki fasilitas produksi, kilang, atau jalur distribusi di kawasan konflik tetap menghadapi risiko kerusakan infrastruktur, gangguan ekspor, hingga meningkatnya biaya operasional.










