Perang Iran Kuras 1 Miliar Barel Cadangan Minyak Dunia, Biaya Logistik Menggila

Perang Iran Kuras 1 Miliar Barel Cadangan Minyak Dunia, Biaya Logistik Menggila

Ekonomi | sindonews | Selasa, 3 November 2026 - 07:55
share

Cadangan minyak global telah terkuras hampir 1 miliar barel sejak perang Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran mengganggu pelayaran melalui Selat Hormuz sehingga mempersempit penyangga pasokan energi dunia. Kondisi itu meningkatkan risiko lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), tekanan inflasi dan kenaikan biaya hidup di tengah gangguan distribusi energi.

"Kita membutuhkan fasilitas penyimpanan strategis yang lebih luas, stok produk minyak yang lebih besar serta kapasitas pengilangan yang fleksibel dan lebih dekat dengan pasar konsumen," kata CEO perusahaan minyak negara Uni Emirat Arab (UEA), Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Al Jaber dalam konferensi ADIPEC di UEA, dikutip dari Reuters, Selasa (3/11/2026).

Baca Juga:Israel Sengaja Rilis Video Operasi Mossad di Iran, Ini Tujuan Liciknya

Al Jaber mengatakan persediaan solar di sejumlah wilayah telah mencapai level terendah dalam 35 tahun untuk periode yang sama, sementara wilayah lain menghadapi kesenjangan pasokan gas alam cair (LNG) sebesar 600 miliar kaki kubik. Harga solar di berbagai pasar juga melonjak ke rekor tertinggi akibat gangguan pasokan selama perang, meningkatkan tekanan terhadap pemerintah dan konsumen.

Biaya pengiriman dan logistik energi turut meningkat tajam. Menurut Al Jaber, biaya tersebut kini mencapai sekitar 30 dari harga satu barel minyak, dibandingkan sekitar 5 sebelum perang Iran, sehingga memperbesar beban distribusi energi di pasar global.

Harga minyak mentah acuan Brent pada Senin (2/11), diperdagangkan di sekitar USD110 per barel, atau naik sekitar 50 dibandingkan Februari sebelum perang dimulai. Sementara itu, berdasarkan perkembangan pasar yang dilaporkan, harga Brent bertahan di kisaran USD109 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar USD100,5 per barel seiring kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan serangan lanjutan AS-Israel ke Iran.

Untuk meredam tekanan pasokan dan harga, Badan Energi Internasional (IEA) pada bulan sebelumnya menyepakati pelepasan lebih dari 20 juta barel solar ke pasar, ditambah sisa minyak dari pelepasan cadangan darurat dalam jumlah rekor yang dijanjikan pada Maret. Langkah tersebut ditempuh untuk menambah pasokan dan menahan lonjakan harga energi.

Baca Juga:Ekspor Pupuk Timur Tengah Anjlok hingga 75, Harga Pangan Terancam Melambung di 2027

Sementara itu, CEO perusahaan minyak negara Arab Saudi, Saudi Aramco, Amin Nasser, memperingatkan persediaan komersial minyak global yang tersisa kurang dari 6 miliar barel dengan sebagian besar tidak dapat dimanfaatkan secara praktis. Kondisi tersebut mempersempit ruang bagi pasar untuk merespons gangguan pasokan baru.

Al Jaber menegaskan pembangunan infrastruktur penyimpanan dan distribusi energi perlu dilakukan sebelum krisis terjadi, didukung sistem logistik yang lebih maju. Menipisnya cadangan minyak, tingginya biaya pengiriman, dan gangguan jalur pelayaran strategis menjadi tantangan bagi ketahanan energi global apabila konflik terus berlanjut.

Topik Menarik