Ekonomi Kuartal III-2026 Diprediksi Tumbuh di Atas 5, Konsumsi Jadi Penopang
Perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh di atas 5 pada kuartal III-2026, ditopang konsumsi masyarakat, ekspor, investasi, dan belanja pemerintah. Namun, pertumbuhan ekonomi secara agregat dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi daya beli seluruh kelompok masyarakat yang masih menghadapi tekanan berbeda-beda.
"Kalau hitungan saya masih di atas 5," kata Policy and Program Director Prasasti Center for Policy Studies Piter Abdullah seperti dikutip pada Senin (2/11/2026).
Baca Juga:Ekonomi Indonesia 2027 Diramal Tumbuh 5,1, Geopolitik dan Kurs Jadi Tantangan
Piter menjelaskan konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional karena memiliki kontribusi lebih dari separuh terhadap produk domestik bruto (PDB). Selain konsumsi, aktivitas ekspor, investasi, dan belanja pemerintah juga dinilai masih memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Meski demikian, ia menyoroti adanya perbedaan kemampuan konsumsi antarkelompok masyarakat. Menurut Piter, kelompok menengah atas masih mampu mempertahankan pengeluaran, sedangkan sebagian masyarakat berpendapatan rendah mengalami tekanan sehingga harus mengandalkan bantuan sosial, tabungan, bahkan utang untuk memenuhi kebutuhan."Jadi mungkin sekarang ini ekonomi kita lebih digerakkan oleh kelompok menengah atas yang masih berkonsumsi. Di kelompok bawah mungkin konsumsinya turun, tapi mereka masih berkonsumsi juga, baik itu dengan bantuan, bansos atau mereka makan tabungan," ujarnya.
Ia menambahkan aktivitas konsumsi yang masih berlangsung tidak serta-merta menunjukkan daya beli seluruh masyarakat berada dalam kondisi yang sama. Sebagian kelompok masih mampu mempertahankan pola konsumsi, sementara kelompok lainnya harus mengurangi pengeluaran atau menggunakan tabungan dan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga:Investasi Dalam Negeri Hampir Rp2.000 Triliun, Kadin: Daya Tahan Makin Kuat
Piter menilai perbedaan proyeksi pertumbuhan di kalangan ekonom lebih berkaitan dengan besaran angka yang diperkirakan, bukan mengenai arah pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut dia para ekonom pada dasarnya sepakat bahwa perekonomian Indonesia masih tumbuh positif, meskipun terdapat perbedaan perkiraan apakah pertumbuhannya berada di bawah atau di atas 5.
Ia juga mengingatkan pentingnya penyampaian data ekonomi secara jernih agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh. Indikator pertumbuhan ekonomi, menurut Piter, perlu dibaca bersama kondisi konsumsi dan kemampuan daya beli masyarakat sebelum BPS mengumumkan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026.










