4 Alasan Houthi Gunakan Satelit Rusia untuk Membombardir Arab Saudi
Sebuah investigasi mengungkapkan bahwa satelit-satelit Rusia membantu kelompok Houthi—yang berafiliasi dengan Iran—untuk menyerang infrastruktur militer dan energi Arab Saudi. Hal ini semakin mengguncang pasar energi global di tengah perang AS melawan Iran.
Permusuhan antara pemerintah Yaman yang diakui secara internasional—yang didukung oleh Arab Saudi—dengan kelompok Houthi telah berlangsung sejak Juli dan meningkat pada bulan September, ketika kelompok pemberontak tersebut mengambil kendali penuh atas pesisir Laut Merah Yaman.
Bulan lalu, kelompok Houthi juga melancarkan serangan presisi terhadap stasiun pompa di jalur pipa minyak terpenting Arab Saudi, yaitu jalur pipa Timur-Barat (East-West pipeline). Investigasi oleh perusahaan swasta AURORAH GeoSignal Intelligence yang berbasis di Jenewa mengungkapkan bahwa satelit-satelit Rusia telah memantau wilayah tersebut beberapa hari sebelumnya untuk mengumpulkan intelijen mengenai jalur pipa tersebut.
Trump Janji Serang Iran Sangat Keras Jika Terlibat Dugaan Pembajakan FlyDubai saat Menuju Israel
Di tengah pertempuran memperebutkan kendali atas Yaman antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi, seberapa signifikan dukungan Rusia terhadap kelompok Houthi? Mengapa Arab Saudi—negara paling kuat di kawasan Teluk yang didukung oleh Amerika Serikat—tidak mampu membendung kelompok pemberontak?
4 Alasan Houthi Gunakan Satelit Rusia untuk Membombardir Arab Saudi
1. Satelit Rusia Integrasi
Sebagaimana diungkapkan oleh kantor berita The Associated Press pekan ini, antara tanggal 1 Juli hingga 19 Oktober, perusahaan intelijen geospasial AURORAH Geosignal Intelligence meneliti 40 serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) yang dilancarkan kelompok Houthi dari Yaman terhadap Arab Saudi. Dalam setiap kejadian, ditemukan pola di mana satelit pemerintah dan militer Rusia memantau area target, baik sebelum maupun sesudah serangan berlangsung.Nawaf Obaid, pendiri perusahaan intelijen geospasial tersebut, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa dengan merekonstruksi arsitektur pengintaian militer Rusia, pihaknya berhasil mengidentifikasi satelit-satelit tertentu, menghitung lintasan orbitnya, menentukan waktu pengamatan, serta mengaitkan aktivitas satelit tersebut dengan perkembangan militer di Arab Saudi, Yordania, Bahrain, Kuwait, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Yaman.Ia menyebutkan bahwa satelit-satelit yang diidentifikasi mencakup satelit pemetaan militer Bars-M, satelit pengintaian optik Persona, satelit intelijen elektronik Lotos-S1, sistem pengintaian maritim Pion-NKS, dan satelit pencitraan radar Kondor-FKA milik Rusia. Mereka juga meneliti konstelasi satelit peringatan dini inframerah EKS/Tundra.
"Temuan krusialnya bukan sekadar keberadaan satelit-satelit Rusia tersebut, melainkan urutan dan integrasi dari kemampuan intelijen mereka yang saling melengkapi," ujarnya.
Obaid juga mengonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa berdasarkan temuan tersebut, "intelijen geospasial dan sinyal militer Rusia telah mendukung arsitektur intelijen yang dipimpin oleh Iran dalam membantu operasi kelompok Houthi di Yaman."
Menurutnya, contoh operasional yang paling nyata adalah serangan kelompok Houthi di sepanjang pesisir barat Yaman menuju Bab al-Mandeb. Dalam operasi ini, intelijen yang bersumber dari Rusia, integrasi komando oleh Iran, serta intelijen manusia (human intelligence) di lapangan, semuanya berkontribusi pada "merosotnya koordinasi pasukan lawan di medan tempur dengan sangat cepat.""Kami menilai bahwa hubungan intelijen ini juga berperan dalam penentuan target rudal dan pesawat nirawak kelompok Houthi terhadap Arab Saudi. Pengintaian militer Rusia menyediakan kemampuan yang jauh melampaui citra satelit komersial biasa, terutama ketika intelijen optik, radar, dan elektronik diintegrasikan," ungkapnya. “Serangan bulan September terhadap jalur pipa minyak East-West milik Arab Saudi menggambarkan betapa rumitnya penentuan target dalam peristiwa tersebut,” ujarnya. Saat itu, tiga stasiun pompa—PS8 di Afif, PS9 di Al-Dhekra, dan PS11 di Al-Mesba’ah—diserang di bagian “sektor barat yang berada di dataran tinggi dan bersifat krusial” dari jalur pipa tersebut.
“Pemilihan lokasi-lokasi ini mencerminkan pemahaman mengenai kerentanan teknis infrastruktur tersebut serta pentingnya infrastruktur itu secara strategis,” jelasnya.
2. Ada Kesengajaan dari Rusia
Analis militer yang berbasis di Brussels, Elijah Magnier, mengatakan temuan AURORA belum tentu menunjukkan gambaran keseluruhan.“Ketidakmampuan untuk mencegat transmisi intelijen tidak membuktikan siapa yang memiliki akses ke informasi satelit Rusia, apakah Rusia sengaja membagikannya, atau apakah Iran memperolehnya secara independen,” katanya, menambahkan bahwa untuk ini, ada empat skenario yang mungkin.
“Pertama, Rusia bisa saja sengaja membagikan informasi dengan Iran,” katanya.
“Kedua, Iran memperoleh citra satelit Rusia melalui saluran komersial. Namun, citra pengintaian militer Rusia umumnya tidak dapat diakses publik, sehingga citra komersial Rusia belum tentu membuktikan keterlibatan pemerintah Rusia,” catatnya.“Ketiga, Iran memperoleh informasi melalui perantara lain, sehingga pihak ketiga secara teoritis dapat memasok intelijen yang berasal dari sistem Rusia, dan saat ini tidak ada bukti yang terverifikasi secara publik yang membuktikan pengaturan semacam itu,” tambahnya.
Namun Obaid menekankan bahwa membedakan arsitektur intelijen yang didukung Rusia dari bukti bahwa satelit Rusia tertentu memasok data penargetan untuk serangan Houthi individu sangat penting.
“Penilaian kami menetapkan hubungan intelijen yang lebih luas; atribusi intelijen spesifik yang berasal dari satelit ke peluncuran rudal individu membutuhkan penguatan tambahan,” katanya.
3. Saudi Terlambat Mendekati China dan Rusia
Tiga pejabat, termasuk satu dari Arab Saudi dan satu lagi di jajaran atas Houthi, serta seorang analis intelijen swasta, mengkonfirmasi kepada Associated Press bahwa Houthi dan sekutu Iran lainnya telah mendapat manfaat dari intelijen Rusia, serta kemampuan China.Pekan lalu, wakil menteri diplomasi publik Kementerian Luar Negeri Saudi, Rayed Krimly, mengatakan kepada wartawan bahwa Houthi menerima intelijen dari Rusia dan China.
“Kami memang membahas masalah ini secara teratur dengan China dan Rusia, dan kami akan terus melakukannya,” katanya.
4. Terjadinya Pergeseran Arah Konflik Yaman
Para pejabat Rusia belum mengomentari temuan AURORAH, tetapi dalam beberapa tahun terakhir, hubungan teknologi dan militer antara Rusia dan Iran telah meningkat secara signifikan, didukung oleh perjanjian strategis bersama, kerja sama ruang angkasa, dan pertukaran teknologi pertahanan.Ahmed Nagi, analis senior Yaman di International Crisis Group, mengatakan bahwa dukungan Moskow terhadap sekutu Teheran seperti Houthi sangat signifikan karena akan berarti pergeseran arah konflik Yaman.“Konflik ini semakin melampaui dimensi domestiknya dan menjadi terkait dengan dinamika regional yang lebih luas. Mendukung Houthi bukan lagi hanya kepentingan Iran saja. Kita sekarang melihat aktor lain, khususnya Rusia, memberikan dukungan intelijen dan persenjataan canggih kepada Iran, yang juga menguntungkan Houthi,” katanya kepada Al Jazeera.
“Pertanyaannya adalah apakah dukungan ini disalurkan langsung ke Houthi atau secara tidak langsung melalui Iran. Saya rasa perbedaan itu tidak penting. Intinya adalah Houthi mendapatkan keuntungan dari dukungan eksternal yang semakin beragam yang melibatkan beberapa negara,” tambahnya.
Namun Nagi memperingatkan bahwa dukungan Rusia kepada Houthi memiliki implikasi bagi pemerintah Yaman dan Arab Saudi.
“Peran Rusia juga meluas ke arena diplomatik, di mana Moskow telah mengambil posisi di Dewan Keamanan PBB yang menentang tindakan internasional yang lebih kuat terhadap Houthi. Secara keseluruhan, perkembangan ini menunjukkan perluasan keterlibatan Rusia yang lebih luas dengan kelompok tersebut,” tambahnya.





