Iran Ancam Akan Ada Perang Panjang, Trump Tak Akan Mampu Mengakhirinya

Iran Ancam Akan Ada Perang Panjang, Trump Tak Akan Mampu Mengakhirinya

Global | sindonews | Minggu, 1 November 2026 - 20:35
share

Menteri PertahananIran, Mehrdad Akhlaghi, telah memperingatkan akan adanya “tanggapan yang proporsional, tegas, dan berdampak” terhadap setiap serangan yang ditujukan kepada negaranya.

“Mereka yang melontarkan ancaman tidak akan bisa mendikte cakupan, waktu, ataupun konsekuensi dari respons pertahanan Iran,” tambahnya, dilansir Al Jazeera.

Para pejabat Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa jika perang baru dengan AS pecah, konflik tersebut bisa berlangsung lebih lama daripada pertempuran yang dimulai awal tahun ini, dan Trump bukanlah pihak yang akan menentukan durasinya.

Sekitar 40 hari aksi militer intensif terjadi setelah AS dan Israel melancarkan perang pada 28 Februari. Pertempuran mereda pada bulan April, yang kemudian diikuti oleh serangan balasan sporadis dari kedua belah pihak.Sementara itu, juru bicara IRGC, Hossein Mohebi, mengatakan bahwa pernyataan terbaru dari Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei “telah membuka babak baru” bagi Iran dalam menghadapi kemungkinan perang di masa depan.

“Dalam konflik dengan Amerika Serikat, tidak ada batasan geografis. Medan yang luas telah ditetapkan untuk menimbulkan kerusakan pada musuh dan mencapai pencegahan maksimal (deterensi maksimal),” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh kantor berita pemerintah, Tasnim.

Menurut Mohebi, “pencegahan maksimal” berarti “tidak ada negara yang mampu mengambil sikap politik bermusuhan terhadap Iran, apalagi memiliki niat buruk terhadap wilayahnya”.

Ia menambahkan bahwa IRGC tengah melakukan “proses identifikasi target-target baru serta perencanaan operasi untuk medan-medan geografis yang baru”.

Sedangkan, UEA menyatakan telah bersiap menghadapi skenario terburuk jika perang antara AS-Israel dan Iran kembali pecah.

“Kami berharap akan ada terobosan diplomatik,” ujar Anwar Gargash, penasihat diplomatik untuk presiden UEA, dalam sebuah konferensi keamanan di Bahrain.

“Bukanlah kepentingan kawasan ini untuk mengalami babak konflik lainnya… Namun, seperti yang telah kami tunjukkan sebelumnya, kami juga bersiap menghadapi skenario terburuk.”

Topik Menarik