Pakar Militer Ini Sebut Perintah Mojtaba Ubah Strategi Militer yang Lebih Ofensif
Hamidreza Azizi, seorang pakar militerIran di Crisis Group, mengatakan bahwa perintah Mojtaba Khamenei untuk merespons setiap ancaman secara langsung dan “tanpa batasan geografis” menandakan bahwa Iran beralih menuju “pendekatan yang lebih ofensif”.
Dalam sebuah unggahan di X, Azizi menyebut perintah tersebut sebagai “perkembangan paling penting” hari ini.
“Bahasa ini menunjukkan evolusi lebih lanjut dalam strategi militer Iran,” tulis Azizi. “Tehran semakin menjauh dari penekanan tradisionalnya pada respons dan pembalasan yang proporsional, menuju pendekatan yang lebih ofensif yang bertujuan memberikan beban biaya (kerugian) kepada pihak lawan. Pernyataan-pernyataan terbaru ini tampaknya membawa logika tersebut satu langkah lebih jauh.”
Ia mengatakan, penegasan Khamenei bahwa Iran-lah yang akan menentukan kapan dan bagaimana konflik baru akan berakhir “tampaknya ditujukan untuk menantang asumsi bahwa Washington dapat melancarkan serangan terbatas, lalu mengendalikan eskalasinya”.“Pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa serangan yang relatif terbatas sekalipun dapat memicu konfrontasi yang jauh lebih luas, baik secara geografis maupun dalam hal target,” tulisnya. “Dari sudut pandang Tehran, tujuannya adalah membuat serangan lain menjadi sangat merugikan dan tidak dapat diprediksi, sehingga Washington harus mempertimbangkan kembali opsi tersebut secara keseluruhan.”
Selanjutnya, Azizi juga menyatakan bahwa komentar terbaru dari Khamenei, Rezaei, dan Araghchi menunjukkan bahwa Iran “tetap membuka jalur diplomasi sembari berupaya mendefinisikan ulang konsekuensi militer jika upaya tersebut gagal”.
Azizi mencatat bahwa perintah Khamenei untuk merespons ancaman tanpa batasan geografis muncul di saat Rezaei mengonfirmasi penerimaan surat dari Vance, dan di saat Araghchi berbicara mengenai rencana Iran untuk mempercepat pembukaan kembali Selat Hormuz—dari yang semula direncanakan tujuh hari menjadi dua hari.
Pernyataan Araghchi mengisyaratkan “adanya fleksibilitas dalam urutan langkah”, ujar Azizi, seraya menambahkan bahwa hal ini “dapat memungkinkan kedua belah pihak untuk mengeklaim pencapaian diplomatik awal tanpa harus segera menyelesaikan perbedaan mendasar di antara mereka”.
“Untuk saat ini, diplomasi dan persiapan militer berjalan secara bersamaan,” tulisnya. “Posisi Iran yang mulai terlihat adalah bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai, namun perang lain—jika terjadi—akan berlangsung dengan aturan yang berbeda dan di medan pertempuran yang jauh lebih luas.”
Ia menambahkan, “Apakah Washington menganggap peringatan-peringatan ini sebagai upaya pencegahan yang kredibel atau justru sebagai ancaman yang semakin meningkatkan eskalasi, hal itu dapat sangat memengaruhi apa yang akan terjadi selanjutnya.”





