Perusahaan Minyak AS Cetak Uang Gila-gilaan di Tengah Perang, Laba Meroket Rp453 Triliun

Perusahaan Minyak AS Cetak Uang Gila-gilaan di Tengah Perang, Laba Meroket Rp453 Triliun

Ekonomi | sindonews | Minggu, 1 November 2026 - 10:02
share

Perusahaan raksasa minyak asal Amerika Serikat (AS) panen keuntungan besar sepanjang sejarah di tengah banyak masyarakat dunia menghadapi tekanan akibat mahalnya harga bahan bakar minyak (BBM) imbas Perang Iran berkepanjangan. Laporan keuangan ExxonMobil dan Chevron di kuartal ketiga tahun 2026 yang dirilis Jumat kemarin, mencatatkan angka fantastis

Kedua perusahaan minyak tersebut meraup gabungan laba bersih hingga USD25,3 miliar (atau sekitar Rp453,4 triliun dengan kurs Rp17.921 per USD) hanya dalam waktu tiga bulan. Fenomena panen uang ini terjadi tepat saat Presiden AS Donald Trump menggelar kampanye agresif menjelang Pemilu Sela (Midterm Elections) 3 November mendatang, di mana ia secara terang-terangan membanggakan betapa makmurnya industri energi Amerika saat ini.

Di saat jutaan pengemudi di AS dan seluruh dunia meringis melihat angka di pompa bensin akibat harga minyak dunia yang bertengger jauh di atas USD100 per barel serta rekor tertinggi harga diesel, Presiden Trump justru melontarkan pernyataan eksplosif di hadapan para pendukungnya.

"Saya tahu media akan membuat judul berita palsu: 'Presiden Trump bicara soal uang yang mereka cetak di saat rakyat menderita di pompa bensin.' Tapi saya tidak peduli! Saya akan tetap mengatakannya: Perusahaan minyak kita sedang menghasilkan kekayaan gila-gilaan (making a freaking fortune)!" sesumbar Trump.

Baca Juga: Trump Paling Terbuka Lancarkan Serangan Baru terhadap Iran jika Perundingan Gagal, Rusia Tawarkan MediasiPernyataan blak-blakan ini berbanding terbalik dengan sikap hati-hati para eksekutif minyak yang berusaha menjaga citra publik. CEO ExxonMobil, Darren Woods menegaskan, bahwa tingginya margin keuntungan lebih disebabkan oleh efisiensi kilang dan ekspansi fasilitas produksi mereka."Kami menyadari dampak harga tinggi terhadap kehidupan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Itu sebabnya kami terus fokus meningkatkan produksi secara efisien untuk menjaga ketersediaan pasar," ujar Woods dalam earnings call, akhir pekan kemarin.

Raja Kilang Jadi Pemenang Terbesar: Saham Valero Melonjak 140

Meskipun perusahaan eksplorasi minyak diuntungkan, perusahaan pemurni minyak (refining) muncul sebagai pemenang terbesar. Lumpuhnya sekitar 10 kapasitas kilang minyak global di Timur Tengah dan Rusia membuat margin pengolahan minyak (refining margin) meroket ke level yang tidak masuk akal.

Dua raksasa kilang AS, Valero Energy dan Phillips 66, melaporkan kuartal paling menguntungkan sepanjang sejarah berdirinya perusahaan. Valero Energy mencetak laba bersih USD6,8 miliar (Rp121 triliun), dengan nilai kapitalisasi pasar melonjak 140 dalam setahun terakhir.

Baca Juga: Bukan Sekadar Minyak Mentah: Venezuela Obral 916 Blok Migas demi Gaet Investor Raksasa AS

Valero bahkan baru saja membeli kilang bekas milik LyondellBasell di Houston seharga USD320 juta. Sedangkan Phillips 66 mengantongi laba USD5,6 miliar, mengerek nilai pasar sahamnya hingga 104 dalam 12 bulan terakhir.Bagi konsumen yang berharap harga BBM langsung merosot begitu kesepakatan damai di Iran atau Ukraina tercapai, CEO Chevron Mike Wirth memberikan proyeksi yang pahit. Menurutnya, butuh waktu yang sangat lama untuk memperbaiki jaringan rantai pasok global serta kilang-kilang di Rusia dan Teluk Persia yang rusak parah akibat gempuran militer.

"Saya memperkirakan margin kilang akan tetap tinggi dalam jangka pendek. Satu per sepuluh kapasitas kilang dunia saat ini sedang mati. Margin mungkin akan turun secara bertahap saat operasi kilang pulih, namun proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar," pangkas Mike Wirth.

Di tengah ancaman eskalasi serangan militer baru AS pasca-pemilu 3 November, kepulan asap di Teluk Persia dipastikan masih menjadi 'mesin pencetak uang' paling masif bagi industri minyak Amerika Serikat.

Topik Menarik