5 Fakta 1.088 Gerbong KRL Berusia di Atas 30 Tahun, KAI Harus Segera Ganti?
JAKARTA – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 1.088 gerbong atau sekitar 90–100 rangkaian kereta (trainset) listrik (KRL) telah berusia di atas 30 tahun. Kondisi tersebut mendorong pemerintah meminta PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI segera mempercepat pengadaan KRL baru untuk menggantikan armada tua sekaligus memenuhi peningkatan kebutuhan transportasi masyarakat.
Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Allan Tandiono mengatakan jumlah armada KRL yang tersedia saat ini belum mampu mengimbangi tingginya kebutuhan angkutan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan kepadatan penumpang di stasiun maupun di dalam kereta.
"Data kereta-kereta tua, akhir tahun lalu untuk kereta yang usianya di atas 30 tahun KRL ya, itu ada 1.088 unit gerbong. Sekitar 90-100 trainset, karena ada yang 10 rangkaian dan ada yang 8 rangkaian," ujar Allan.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Kemenhub mendorong KAI segera merealisasikan pengadaan 35 trainset yang telah ditugaskan sejak 2023. Pemerintah juga membuka opsi pengadaan kereta baru melalui impor maupun produksi dalam negeri.
Berikut lima fakta terkait kondisi armada KRL dan rencana penambahan kereta baru yang dirangkum Okezone.com. Minggu (1/11/2026).
1. Sebanyak 1.088 Gerbong KRL Berusia di Atas 30 Tahun
Kemenhub mencatat sebanyak 1.088 gerbong KRL atau setara dengan sekitar 90–100 trainset telah berusia lebih dari 30 tahun. Jumlah tersebut berdasarkan data hingga akhir 2025.
Allan menjelaskan satu trainset KRL terdiri atas delapan hingga 10 gerbong. Dengan demikian, ribuan gerbong yang telah berusia tua tersebut membutuhkan perhatian dalam program peremajaan armada.
Di sisi lain, kapasitas angkutan KRL saat ini juga menghadapi tekanan akibat tingginya jumlah pengguna. Terutama pada hari kerja ketika masyarakat menggunakan KRL untuk berangkat dan pulang beraktivitas.
Kemenhub menilai peningkatan jumlah penumpang harus diimbangi dengan penambahan kapasitas angkutan agar kepadatan di stasiun dan kereta dapat dikendalikan.
2. KAI Masih Harus Memenuhi Kekurangan 8 Trainset
Kemenhub meminta KAI segera merealisasikan pengadaan 35 trainset yang telah menjadi penugasan sejak 2023. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 trainset telah diimpor dari China, sedangkan 16 trainset diproduksi oleh PT Industri Kereta Api (INKA).
Dari 16 trainset produksi INKA, sebanyak tujuh trainset telah beroperasi, sementara sembilan lainnya masih dalam proses produksi. Dengan demikian, masih terdapat kekurangan delapan trainset yang perlu dipenuhi KAI untuk mencapai target pengadaan 35 trainset.
"Kita tentu mengimbau kepada PT KAI untuk mempercepat pengadaan trainset dengan rangkaian lebih panjang, sehingga sekali jalan itu kan bisa mengangkut lebih banyak penumpang," ujar Allan saat ditemui di Jakarta, Selasa (27/10/2026).
Allan menegaskan pengadaan 35 trainset tersebut merupakan komitmen penyediaan kereta baru. Kemenhub mendorong KAI segera memenuhi kekurangan delapan trainset agar kapasitas angkutan KRL dapat meningkat.
3. KAI Telah Menerima PMN Rp8,5 Triliun Sejak 2023
Allan menjelaskan pemerintah telah mengucurkan penyertaan modal negara (PMN) kepada KAI sebesar Rp8,5 triliun selama periode 2023–2026.
Rinciannya, KAI menerima PMN sebesar Rp3,2 triliun pada 2023, Rp2 triliun pada 2024, Rp1,8 triliun pada 2025, dan Rp1,5 triliun pada 2026.
Allan menyebut dukungan pendanaan tersebut menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah dalam mendukung penugasan pengadaan sarana perkeretaapian.
Dia pun meminta KAI mempercepat realisasi pengadaan kereta agar seluruh armada yang ditugaskan dapat segera melayani masyarakat.
Kemenhub menargetkan pengadaan 35 trainset baru tersebut dapat diselesaikan pada 2027. Untuk memenuhi kekurangan delapan trainset, KAI dapat mempertimbangkan pengadaan melalui impor kereta baru maupun produksi INKA.
4. Kemenhub Evaluasi Rencana Impor KRL Bekas dari Jepang
Di tengah kebutuhan penambahan armada, KAI juga mengajukan proposal pengadaan KRL bekas dari Jepang kepada Kemenhub.
Allan mengatakan pihaknya telah menerima proposal tersebut dan saat ini tengah melakukan evaluasi, terutama terkait spesifikasi teknis kereta yang akan diimpor.
"Mereka sudah menyampaikan proposalnya (rencana impor KRL bekas dari Jepang). Sedang kami pelajari dan sedang kami evaluasi, terutama terkait spesifikasi teknisnya," kata Allan.
Sebelumnya, Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengusulkan pengadaan KRL bekas dari Jepang dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada 23 September 2026.
Bobby menjelaskan impor KRL bekas dapat menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan armada dalam waktu lebih cepat dibandingkan menunggu proses produksi kereta baru.
"Namun sebagai solusi bridging-nya, untuk pemenuhan sarana pada hari ini yang akan kita utilisasi paling maksimum itu 10 tahun ke depan, itu dengan melakukan impor kereta bukan baru dari Jepang," kata Bobby.
Meski demikian, Kemenhub tetap mendorong KAI memprioritaskan pengadaan kereta baru karena memiliki masa pakai yang lebih panjang dibandingkan kereta bekas.
5. Jumlah Penumpang KRL Terus Meningkat, Tembus 1,1 Juta Orang per Hari
Kebutuhan penambahan armada KRL juga didorong oleh pertumbuhan jumlah pengguna transportasi tersebut.
Pada semester I 2026, jumlah penumpang KRL tercatat tumbuh 11,3 atau mencapai sekitar 1,1 juta orang per hari. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang masih berada di bawah 1 juta penumpang per hari.
Berdasarkan proyeksi KAI, jumlah penumpang KRL Jabodetabek sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 375 juta orang, melampaui target awal sebanyak 369 juta penumpang.
Hingga September 2026, jumlah penumpang KRL tercatat telah mencapai 271 juta orang.
Sementara itu, jumlah penumpang KRL diproyeksikan mendekati 600 juta orang per tahun pada 2036. Proyeksi tersebut menunjukkan perlunya peningkatan kapasitas angkutan secara bertahap, baik melalui penambahan armada maupun penguatan infrastruktur dan sistem operasional.
Dengan pertumbuhan jumlah pengguna tersebut, percepatan pengadaan KRL baru menjadi salah satu kebutuhan untuk menjaga kapasitas layanan dan mengantisipasi peningkatan kepadatan penumpang di masa mendatang.









