Wujudkan Indonesia Emas 2045,Wamendagri Bima Ajak Generasi Muda Terus Suarakan Gagasan
Kaya dan miskin merupakan dua keadaan yang sama-sama menjadi ujian bagi manusia. Kekayaan tidak otomatis menjadi tanda bahwa Allah SWT lebih menyayangi seseorang. Sebaliknya, kemiskinan juga bukan bukti bahwa seseorang sedang dimurkai oleh-Nya.
Dalam Islam, banyaknya harta dan sempitnya rezeki merupakan bagian dari ujian kehidupan. Orang kaya diuji melalui harta yang dimiliki, sedangkan orang miskin diuji melalui kesabaran dan keteguhannya menghadapi keterbatasan.
Ulama sufi, Syekh Shaqiq Al-Balkhi, menjelaskan tiga perbedaan ujian yang menyertai orang kaya dan orang fakir. Penjelasan tersebut dikutip Syekh Husain bin Nasir Ibnu Khamis dalam kitab Manakib Al-Abrar wa Mahasini Al-Ahyar fi Tabaqat As-Sufiyyah, Juz 1, halaman 90.
Berikut ungkapan Shaqiq Al-Balkhi tersebut:الفقير تقارنه ثلاثة أشياء: فراغ القلب، وخفة الحساب، وراحة النفس، والغني تُقارنه ثلاثة أشياء: تَعَبُ النَّفْسِ، وشغل القلب، وشدَّةُ الحساب
Artinya: "Ada tiga perkara yang menyertai orang fakir, yaitu hati yang lapang, hisab yang ringan, dan jiwa yang tenteram. Sementara itu, ada tiga perkara yang menyertai orang kaya, yaitu kelelahan jiwa, kesibukan hati, dan beratnya hisab."
Baca juga:Bukan Hanya Bersabar, Ini 10 Tuntunan Islam saat Hidup Kekurangan
Ungkapan tersebut mengingatkan bahwa kekayaan dan kemiskinan memiliki tantangan masing-masing. Berikut tiga perbedaan yang dijelaskan Shaqiq Al-Balkhi.
1. Ketenangan Hati dan Kesibukan Mengurus Harta
Menurut Shaqiq Al-Balkhi, orang fakir berpeluang memiliki hati yang lebih lapang karena tidak terlalu disibukkan dengan urusan mengelola dan menjaga kekayaan. Kondisi tersebut dapat memberinya kesempatan untuk lebih fokus beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.Sebaliknya, orang kaya menghadapi tanggung jawab yang lebih besar dalam mengelola hartanya. Ia harus memikirkan cara memperoleh, menjaga, mengembangkan, dan menggunakan kekayaan tersebut secara benar.Jika tidak dikelola dengan bijaksana, kesibukan itu dapat menguras tenaga dan pikiran, bahkan membuat seseorang lalai terhadap kewajiban agama.
Meski demikian, ketenangan hati bukanlah sesuatu yang otomatis dimiliki orang miskin. Demikian pula, orang kaya tidak selalu hidup dalam kegelisahan. Semuanya bergantung pada bagaimana seseorang menyikapi keadaan dan menjaga hubungannya dengan Allah SWT.
2. Ringannya Hisab dan Beratnya Pertanggungjawaban
Perbedaan kedua berkaitan dengan hisab atau perhitungan amal di akhirat. Orang yang memiliki sedikit harta mempunyai lebih sedikit harta untuk dipertanggungjawabkan dibandingkan orang yang memiliki kekayaan melimpah.Sementara itu, orang kaya harus mempertanggungjawabkan dari mana hartanya diperoleh dan ke mana harta tersebut dibelanjakan. Apakah berasal dari sumber yang halal? Apakah hak orang lain, termasuk zakat, telah ditunaikan? Apakah kekayaannya digunakan untuk kebaikan atau justru untuk kemaksiatan?
Semakin banyak harta yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya. Karena itu, kekayaan tidak seharusnya membuat seseorang terlena, melainkan mendorongnya lebih berhati-hati dalam mencari dan menggunakan rezeki.
Namun, sedikitnya harta bukan berarti seseorang terbebas dari pertanggungjawaban amal lainnya. Setiap manusia tetap akan dimintai pertanggungjawaban sesuai dengan apa yang telah Allah SWT anugerahkan dan apa yang dilakukannya selama hidup.
3. Ringannya Beban Jiwa dan Beratnya Tanggung Jawab
Perbedaan ketiga adalah beban yang menyertai kehidupan sehari-hari. Orang miskin mungkin tidak terlalu direpotkan oleh urusan menjaga kekayaan, mengelola aset, atau mengawasi berbagai kepemilikan.Di sisi lain, orang kaya memiliki tanggung jawab lebih besar terhadap harta yang berada dalam penguasaannya. Kekayaan dapat mendatangkan manfaat luas, tetapi juga berpotensi menjadi sumber kecemasan apabila seseorang terlalu terikat pada hartanya.Karena itu, kekayaan membutuhkan kebijaksanaan, pengendalian diri, dan kesadaran untuk menunaikan hak-hak orang lain. Harta semestinya menjadi sarana berbuat baik, membantu sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, bukan sumber kesombongan atau kelalaian.
Pada akhirnya, pesan Shaqiq Al-Balkhi bukan berarti kemiskinan selalu lebih baik daripada kekayaan. Keduanya merupakan ujian yang menuntut sikap berbeda. Orang miskin dituntut bersabar dan tetap berikhtiar, sedangkan orang kaya dituntut bersyukur, amanah, dan bertanggung jawab atas hartanya.
Ukuran kemuliaan seorang Muslim bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta, melainkan pada iman, ketakwaan, dan cara menjalani ujian kehidupan. Wallahu a'lam.
Baca juga:Muslim Ideal Itu, Menjadi Orang Kaya atau Miskin?










