Rusia Kirim 3 Kapal Tanker BBM ke AS
Rusia memberangkatkan tiga kapal tanker yang membawa bahan bakar diesel ke Amerika Serikat berdasarkan kesepakatan yang dicapai antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan mitranya dari Amerika, Donald Trump. Itu diungkapkan oleh Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak.
Kapal-kapal tersebut saat ini sedang berlayar menuju pesisir timur Atlantik, ujar Novak, seraya menambahkan bahwa sebagian besar pasokan bahan bakar tambahan tersebut dapat berasal dari raksasa energi Rusia, Rosneft.
"Sesuai dengan kesepakatan yang telah diumumkan sebelumnya untuk memenuhi kebutuhan pasar diesel global, Rusia akan memastikan adanya pasokan tambahan bahan bakar diesel ke pasar dunia dan Amerika Serikat," kata Novak, dilansir RT.
Moskow telah melonggarkan pembatasan ekspor diesel, yang memungkinkan perusahaan-perusahaan Rusia untuk mengirimkan hingga 500.000 ton bahan bakar ke pasar internasional pada bulan Oktober, sembari tetap memastikan kebutuhan dalam negeri terpenuhi sepenuhnya.
Pengiriman ini diatur dengan bantuan signifikan dari Dana Investasi Langsung Rusia (RDIF), yang dipimpin oleh utusan ekonomi Putin, Kirill Dmitriev.Pengiriman lebih lanjut akan terus dilakukan secara berkala, ungkap juru bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya pada hari yang sama. Ia mengonfirmasi bahwa kapal tanker pertama telah berangkat menuju pihak pembeli, namun tidak menyebutkan identitas kapal tersebut.
Kelompok pelacak maritim mengidentifikasi salah satu kapal tanker tersebut sebagai Agioi Fanendes, kapal berbendera Malta yang membawa sekitar 40.000 ton bahan bakar diesel. Reuters melaporkan bahwa kapal tersebut telah bertolak dari pelabuhan Primorsk di Laut Baltik, Rusia, menuju New York, dengan perkiraan tiba pada 7 November.
TankerTrackers melaporkan adanya tiga kapal yang memuat diesel di terminal-terminal Rusia dengan tujuan Amerika Serikat. Namun, identitas kapal-kapal tersebut serta pelabuhan bongkar muat akhirnya belum dikonfirmasi secara resmi kepada publik.
Pengiriman ini menyusul percakapan telepon antara Putin dan Trump pada 9 Oktober. Setelah pembicaraan tersebut, presiden Amerika itu mengumumkan bahwa Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton diesel, diikuti oleh 500.000 ton pada bulan November, satu juta ton lagi tak lama kemudian, dan kemungkinan pengiriman lanjutan tergantung pada kapasitas penyulingan. Washington kemudian mengeluarkan pengecualian sanksi sementara yang mengizinkan impor diesel dari Rusia, sekaligus membatalkan pembatasan yang sebelumnya diberlakukan di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden pada tahun 2022.
Kesepakatan ini muncul di tengah tekanan yang meningkat terhadap Trump untuk menurunkan harga bahan bakar menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November. Harga diesel di AS melonjak hingga di atas USD6,50 per galon pada bulan September—bahkan melebihi USD8 di beberapa wilayah California—di tengah gangguan pasokan energi global yang dipicu oleh perang AS-Israel terhadap Iran serta pembatasan pelayaran melalui Selat Hormuz.
Secara historis, Rusia merupakan eksportir diesel terbesar kedua di dunia setelah AS, dengan pangsa sekitar 10 dari total ekspor global. Gangguan pada pasokan dari Rusia dapat memicu kenaikan harga, bahkan di negara-negara yang tidak mengimpor bahan bakar tersebut secara langsung.
Trump telah berulang kali mendesak Presiden Ukraina Vladimir Zelensky untuk menghentikan serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia.
Ia menuduh Kiev memperparah kelangkaan diesel di tingkat global serta merugikan konsumen dan petani di Amerika. Zelensky menepis kritik tersebut pada hari Kamis, menyebut klaim Trump “sama sekali tidak benar” dan menuduh pemimpin Amerika itu “mengalihkan fokus dari Iran.”









